Waspadai Dampak Kenaikan BBM Nonsubsidi, Disperindag Banten Pantau Pasar

Waspadai Dampak Kenaikan BBM Nonsubsidi, Disperindag Banten Pantau Pasar

Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi dan Dampaknya pada Kebutuhan Pokok di Banten

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi telah menjadi perhatian masyarakat, terutama mengenai potensi kenaikan harga kebutuhan pokok. Hal ini juga turut diperhatikan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Banten, Iwan Hermawan, menyampaikan bahwa hingga saat ini belum ada dampak signifikan terhadap kenaikan harga bahan pokok akibat kenaikan BBM nonsubsidi.

“Kenaikan harga BBM kayaknya masih belum ya, karena BBM itu yang naik Pertamina Dex yang selama ini memang tidak dipakai oleh masyarakat,” ujarnya.

Meski demikian, Pemprov Banten tetap waspada terhadap kemungkinan kenaikan harga bahan pokok sebagai efek lanjutan dari kenaikan BBM nonsubsidi. “Kayanya belum terlalu signifikan walaupun harus kita waspadai kenaikan kenaikan terhadap efek dari kenaikan BBM,” katanya.

Untuk itu, Pemprov Banten terus melakukan pemantauan terhadap ketersediaan dan harga bahan pokok di pasar-pasar wilayah Provinsi Banten. Salah satu tempat pemantauan adalah Pasar Pandeglang. Peninjauan ini dilakukan sebagai upaya pengendalian inflasi yang saat ini cukup tinggi di Kabupaten Pandeglang.

“Pandeglang inikan inflasinya lumayan tinggi ya. Kita rencananya mau turun ke sana memantau stok dan harga,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa inflasi dipengaruhi oleh berbagai faktor, tidak hanya harga bahan pokok di pasar. “Memang inflasi itu banyak faktor. Di antaranya biaya perawatan, kenaikan harga emas, jadi banyak faktor bukan saja terkait harga di pasar,” katanya.

Pemantauan harga rutin dilakukan setiap pekan. “Kalau pemantauan harga yang kita lakukan, hampir tiap Minggu kita lakukan. Terkait minyak kita,” katanya.

Dalam kegiatan pemantauan tersebut, tim terpadu yang terdiri dari Tim Pengendali Inflasi Daerah, Ketapang, Satgas Pangan, dan Biro Ekbang turut dilibatkan. “Besok ini (hari ini) kita tim terpadu dari tim pengendali inflasi daerah. Kita turun bersama-sama, Ketapang, satgas pangan, biro ekbang. Kita lihat sejauh mana harga maupun ketersediaan stok,” katanya.

Pemantauan ini juga dilakukan dalam rangka menyambut momentum Iduladha. “Kami akan melihat seperti apa ketersediaan disana. Karena memang, informasi dari teman-teman di Pasar, meskipun ada pemotongan hewan kurban, tetap permintaan itu pasti ada,” katanya.

Iwan juga menjelaskan beberapa komoditas yang berkontribusi terhadap inflasi di Pandeglang. “Perawatan, harga emas, daging ayam juga ada kontribusi walaupun secara nasional ya, tapi Pandeglang sendiri terkontraksi oleh nasional juga, harga emas, perawatan kemudian telur ayam,” katanya.

Untuk diketahui, Pertamina kembali melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi mulai Senin 4 Mei 2026. Kebijakan ini berlaku di seluruh SPBU di Indonesia. Harga Pertamax Turbo kini ditetapkan Rp19.900 per liter, naik dari sebelumnya Rp19.400 per liter. Sementara itu, Dexlite menjadi Rp26.000 per liter, meningkat cukup signifikan dari Rp23.600 per liter. Adapun Pertamina Dex kini dijual Rp27.900 per liter, mengalami kenaikan sebesar Rp4.000 dari harga sebelumnya Rp23.900 per liter.


Related posts