Permintaan Terakhir Bocah Tertabrak Mobil Kadis yang Tak Terpenuhi Ibu

Permintaan Terakhir Bocah Tertabrak Mobil Kadis yang Tak Terpenuhi Ibu

Kehilangan Anak, Titi Hidayat Mengungkap Perasaan dan Trauma Keluarga

Titi Hidayat (36), ibu kandung almarhum Tb M Atharul Millal (10), siswa SDN Sukaratu 5 yang meninggal dunia usai tertabrak mobil yang dikendarai oleh seseorang, akhirnya buka suara terkait peristiwa pilu yang menimpa anaknya. Kejadian tersebut menewaskan dua orang, termasuk almarhum, dan melibatkan sembilan korban lainnya.

Dari total korban, tujuh di antaranya adalah siswa SDN Sukaratu 5, sementara dua lainnya merupakan pedagang dan sales yang berada di lokasi kejadian. Peristiwa tragis ini terjadi saat para siswa sedang membeli jajanan selama jam istirahat sekolah, Kamis (30/4/2026) sekitar pukul 09.30 WIB.

Almarhum Tb M Atharul Millal dimakamkan di Kampung Sawah Barat, Desa Labuan, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, yang merupakan kampung halaman orang tuanya. Korban diketahui merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Saat ini, ia duduk di bangku kelas IV SD. Sementara adiknya bersekolah di kelas I SD yang sama, dan adik bungsunya masih berusia enam bulan.

Perasaan Titi Saat Mengetahui Anaknya Jadi Korban

Titi mengaku sangat terkejut saat mendapat kabar bahwa anaknya menjadi korban kecelakaan di depan sekolah. “Jujur saya enggak punya firasat apa pun dan kaget. Anak saya izin berangkat sekolah, tiba-tiba dengar informasi anak saya ketabrak,” ujar Titi saat ditemui di kediamannya di Kampung Sawah Barat, Desa Labuan, Rabu (6/5/2026).

Menurut Titi, almarhum biasanya pulang ke rumah saat jam istirahat sekolah karena jarak rumah yang dekat dengan sekolah. Namun saat kejadian, anaknya disebut tidak sedang membeli jajanan, melainkan hanya mengantar temannya yang hendak jajan.

“Kalau jam istirahat suka pulang karena rumah dekat sekolah. Dia juga suka ngasuh adiknya. Mungkin memang sudah takdirnya, dia nganter teman jajan,” katanya.

Sosok Almarhum yang Penurut dan Suka Berbagi

Titi menjelaskan bahwa almarhum merupakan sosok anak yang penurut dan sangat sayang kepada keluarga. “Nurut, baik, terus sayang sama adik-adiknya. Pagi sekolah, pulang suka jagain adiknya,” ucapnya.

Sebelum kejadian, kata Titi, almarhum sempat memancing di kolam depan rumah dan mendapatkan dua ekor ikan lele. Lele tersebut kemudian dibersihkan dan diberi bumbu untuk dimasak keesokan harinya.

“Almarhum sempat minta digorengin. Saya bilang sudah malam, besok saja pulang sekolah digorengin. Akhirnya saya gorengin telur,” ungkapnya.

Titi mengaku menyesal karena belum sempat memenuhi permintaan terakhir anaknya tersebut. “Itu jadi penyesalan saya. Kalau tahu anak saya enggak ada, malam itu juga saya gorengin. Sekarang lelenya masih ada di freezer,” katanya sambil menahan tangis.

Dampak Trauma pada Keluarga

Selain kehilangan anak sulungnya, Titi juga menyebut adik almarhum kini mengalami trauma akibat peristiwa tersebut. Terlebih, sang adik turut berada di lokasi saat kecelakaan terjadi.

“Trauma. Mau ngapa-ngapain bingung. Pas kejadian juga adiknya lihat kakaknya di gerbang sekolah, cuma diam mungkin karena kaget. Kami nangis berdua lihat kondisi anak saya,” ujarnya.

Harapan Keluarga Terhadap Proses Hukum

Keluarga berharap proses hukum terhadap pelaku tetap berjalan sesuai aturan yang berlaku. “Apapun hukum yang dijalani, kita serahkan prosesnya. Kami juga sempat diminta keputusan, tapi minta waktu dulu,” katanya.

Menurutnya, pelaku tetap memaksakan mengemudi meski dalam kondisi kesehatan yang dinilai tidak memungkinkan. “Karena kita tahu yang bersangkutan sengaja mengendarai sendiri, padahal kondisi kesehatannya tidak memungkinkan,” ucapnya.

Titi menambahkan, pihak keluarga pelaku sudah datang ke rumah untuk menyampaikan permintaan maaf. “Ada itikad baik, sudah datang dan minta maaf. Tapi kami sampaikan proses hukum tetap berjalan,” pungkasnya.

Related posts