Indonesia menyampaikan kekhawatiran yang mendalam terkait laporan serangan rudal dan drone yang menargetkan fasilitas kilang minyak di Perserikatan Emirat Arab (UEA). Pernyataan ini disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri (Kemlu) yang menilai bahwa serangan tersebut berpotensi memicu peningkatan ketegangan di kawasan. Selain itu, serangan tersebut dinilai melanggar kesepakatan gencatan senjata yang telah dibuat, serta mengganggu rantai pasok dan keamanan energi global.
“Serangan tersebut berisiko meningkatkan ketegangan, melanggar kesepakatan gencatan senjata, dan mengganggu rantai pasok dan keamanan energi global, yang dampaknya dapat meluas hingga ke negara-negara di luar kawasan,” tulis Kemlu dalam pernyataannya pada Rabu (6/5).
Serangan Drone di Fujairah
Serangan terhadap fasilitas energi di UEA terjadi di tengah meningkatnya ketegangan kawasan. Salah satu insiden terbaru adalah serangan drone yang menghantam Pelabuhan Fujairah pada Senin (4/5), yang merupakan salah satu pusat ekspor minyak strategis di kawasan Teluk. Dalam insiden tersebut, tiga warga negara India dilaporkan mengalami luka-luka.
Otoritas UEA menyatakan bahwa sistem pertahanan udara berhasil mencegat sejumlah rudal dan drone, termasuk 12 rudal balistik, 3 rudal jelajah, dan 4 pesawat nirawak yang diluncurkan dari Iran. Hal ini menunjukkan bahwa serangan tersebut berasal dari sumber yang tidak jelas, namun diperkirakan terkait dengan konflik regional yang sedang berlangsung.
Potensi Dampak Global
Pemerintah Indonesia menilai bahwa dampak dari serangan-serangan ini tidak hanya terbatas pada kawasan, tetapi juga berpotensi meluas ke negara lain, terutama terkait pasokan energi global. Sebagai salah satu negara pengimpor minyak terbesar di dunia, Indonesia sangat memperhatikan stabilitas pasokan energi global.
Karena itu, Indonesia mendesak seluruh pihak untuk menahan diri dan menghormati kesepakatan gencatan senjata secara penuh. Selain itu, semua pihak juga diminta menjunjung tinggi hukum internasional, termasuk perlindungan terhadap infrastruktur sipil.
Dorong De-eskalasi dan Dialog
Kemlu menyatakan kesiapan untuk mendukung berbagai upaya de-eskalasi. Upaya tersebut dilakukan dengan mengedepankan dialog guna mendorong terwujudnya perdamaian dan stabilitas yang berkelanjutan di kawasan. Pemerintah juga mengimbau seluruh Warga Negara Indonesia (WNI) di UEA untuk tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan.
WNI diminta mengikuti arahan pemerintah setempat serta Perwakilan RI di Perserikatan Emirat Arab. Mereka juga diimbau untuk selalu memantau informasi resmi yang dikeluarkan oleh pihak berwenang. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan para WNI dapat tetap aman dan siap menghadapi situasi apapun yang terjadi di wilayah tersebut.






