Kondisi Jalan dan Drainase di Tanah Tingal, Kota Tangerang Selatan
Ruas Jalan Aria Putra di kawasan Tanah Tingal, Kota Tangerang Selatan, Banten, beserta sistem drainasenya menjadi perhatian masyarakat setelah beberapa waktu terakhir mengalami kemacetan dan banjir. Hal ini menimbulkan keluhan dari warga setempat, yang menyebutkan bahwa kondisi jalan dan saluran air tidak berjalan sesuai harapan.
Humas Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, dan Bina Konstruksi (Dinas SDABMBK) Kota Tangerang Selatan, Kemal, menjelaskan bahwa ruas jalan tersebut merupakan kewenangan Pemerintah Provinsi Banten. Ia menyampaikan bahwa pihaknya telah melaporkan kejadian genangan air yang memicu kemacetan kepada Unit Pelaksana Jalan dan Jembatan (UPJJ) Tangerang serta Dinas PUPR Provinsi Banten.
“Tanah Tingal Jalan Aria Putra merupakan jalan dan drainase milik Provinsi Banten. Kami sudah sampaikan kejadian genangan tersebut kepada UPJJ Tangerang, Dinas PUPR Provinsi Banten,” ujar Kemal.
Ia menegaskan bahwa evaluasi maupun langkah penanganan lanjutan terhadap kondisi jalan dan drainase tersebut sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah provinsi. Untuk tindak lanjut, ia menyarankan masyarakat untuk menghubungi UPJJ atau Dinas PUPR Provinsi Banten.
Permasalahan yang Terlihat di Lokasi
Sebelumnya, ramai perbincangan di media sosial menyoroti kemacetan parah di pertigaan Tanah Tingal, jalan Merpati Raya, Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten, setelah genangan air menguasai badan jalan. BANTENMEDIA mendatangi lokasi tersebut untuk melihat kondisi terkini pascakeluhan warga soal banjir dan kemacetan.
Menurut pantauan, terlihat adanya perbedaan kontur jalan di sekitar simpang tersebut. Jika dilihat dari arah Bintaro menuju pertigaan, permukaan jalan tampak lebih rendah. Kondisi serupa juga terlihat dari arah Stasiun Sudimara, yang turut membentuk cekungan di area pertemuan arus lalu lintas.
Pada sisi drainase, tampak penutup saluran yang terdiri dari bebatuan berukuran besar. Namun, beberapa bagian terlihat sudah mengalami kerusakan, bahkan ada yang retak. Di bagian tengah pertigaan, ditemukan pula area drainase yang tidak tertutup beton secara utuh. Sebidang tanah terlihat terbuka, memperlihatkan kondisi saluran yang tidak terkelola dengan baik.
Di pinggir jalan tepat di sekitar pertigaan, terdapat proyek pembangunan perumahan baru. Sepanjang area proyek terlihat saluran drainase, meski sebagian kondisinya sudah retak dan tertutup tanah. Selain itu, di atas saluran drainase juga tampak banyak sampah berserakan. Bahkan, ditemukan gulungan kabel yang dibiarkan begitu saja di area tersebut, yang turut memperburuk kondisi lingkungan dan berpotensi menghambat aliran air.
Pengalaman Warga Saat Menghadapi Kemacetan
Desi Eliska, warga Ciputat, menceritakan pengalamannya saat pulang dari Stasiun Sudimara Selasa malam. Ia mengaku tiba sekitar pukul 20.10 WIB dan langsung mendapati situasi jalanan yang sudah padat merayap.
“Nyampe stasiun sekitar jam 20.10, keluar stasiun udah terjadi penumpukan kendaraan,” ujar Desi.
Menurut dia, kondisi lalu lintas nyaris tidak bergerak. Mobil disebut hampir sepenuhnya terjebak, sementara sepeda motor masih bisa melintas meski harus berbagi ruang dengan pejalan kaki.
Situasi tersebut diperparah dengan lumpuhnya transportasi umum dan layanan ojek daring. Ia mengaku kesulitan mendapatkan kendaraan untuk melanjutkan perjalanan ke rumahnya yang berada di sekitar Tanah Tingal.
Perubahan Kondisi Banjir di Tanah Tingal
Terkait banjir, ia menyebut kondisi di Tanah Tingal kini berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Jika dulu genangan hanya terjadi saat hujan dengan intensitas sangat tinggi, kini banjir dinilai lebih mudah terjadi.
“Dulu sih Tanah Tingal nggak sering banjir, paling kalau intensitas hujannya lagi tinggi banget aja. Tapi sekarang kayaknya jadi lebih gampang banjir,” ungkap Desi.
Ia menduga ada sejumlah faktor yang menyebabkan kondisi tersebut semakin memburuk, mulai dari peningkatan jumlah kendaraan hingga pembangunan yang berdampak pada sistem drainase.
Harapan Warga terhadap Infrastruktur
Sebagai warga, Desi berharap ada perbaikan nyata dari sisi infrastruktur, khususnya drainase dan fasilitas pejalan kaki. Menurutnya, penanganan yang dilakukan selama ini belum memberikan hasil signifikan.
“Buat jangka pendek, drainase dibenerin deh, jangan cuma formalitas ngegali tiap beberapa bulan sekali tapi nggak ada hasil. Trotoar juga tolong dibanyakin dan dirapiin,” pungkasnya.






