Mendorong Realokasi Anggaran untuk Menjaga Stabilitas Energi Nasional
Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Telisa Aulia Falianty, mengajukan sejumlah rekomendasi terkait kebijakan energi nasional. Ia menilai bahwa pemerintah perlu melakukan penyesuaian anggaran guna menjaga stabilitas sektor energi, khususnya dalam hal subsidi bahan bakar minyak (BBM).
Menurutnya, pemerintah dapat mempertimbangkan realokasi dari program-program besar yang saat ini menyerap anggaran signifikan. Contohnya, program Makan Bergizi Gratis (MBG) bisa sementara waktu dialihkan ke kebutuhan energi. Ia menekankan bahwa tidak semua program harus direalokasi, mungkin hanya sepuluh persen saja yang diperlukan.
“Program prioritas yang ada, yang besar-besar, itu memang harus lebih dikaji mana yang lebih bisa direalokasi. Walaupun tidak semua, mungkin sepuluh persennya saja yang direalokasi. Artinya tidak mengganggu kepada tujuan prioritas nasional,” ujarnya.
Subsidi BBM Jadi Opsi Terakhir, APBN Harus Dijaga
Telisa menegaskan bahwa langkah menaikkan subsidi BBM sebaiknya menjadi pilihan terakhir. Pemerintah diminta terlebih dahulu mengoptimalkan berbagai opsi kebijakan lain demi menjaga kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ia menekankan pentingnya mencari solusi kompromi agar kebijakan fiskal tetap berjalan seimbang tanpa membebani salah satu sektor secara berlebihan.
“Jadi harus ketemu win-win-nya. Soalnya kalau yang ini nggak mau ngalah, itu nggak mau ngalah, ya susah juga kan, sedangkan kita tetap harus menyelamatkan APBN kita,” ucap dia.
“Harapannya ini temporer sehingga opsi menaikkan harga, sekali lagi, adalah opsi yang terakhir kalau saya lihat seperti itu sih,” tambah Telisa.
Kebijakan WFH Dinilai Efektif, Asal Diawasi Ketat
Selain soal subsidi, Telisa juga menyoroti rencana pemerintah yang akan menerapkan kebijakan Work From Home (WFH) untuk menekan konsumsi BBM. Ia menilai kebijakan tersebut berpotensi efektif, namun harus disertai pengawasan yang ketat.
“Harus ada pengawasan (kebijakan WFH tersebut),” kata dia. Menurutnya, tanpa pengawasan yang jelas, kebijakan WFH justru berisiko tidak mencapai tujuan. Masyarakat bisa saja memanfaatkan waktu bekerja dari rumah untuk bepergian, sehingga konsumsi BBM tidak berkurang.
“Karena bisa jadi (karena) WFH ada possibility liburan, wisata, jalan-jalan sama aja tidak hemat BBM,” ujar dia.
Tekanan Global: Penutupan Selat Hormuz Picu Kenaikan Harga BBM
Kekhawatiran terhadap energi semakin meningkat seiring memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah. Penutupan jalur distribusi minyak dunia di Selat Hormuz oleh Iran berpotensi memicu krisis energi global. Sejumlah negara di Asia Tenggara telah merespons kondisi tersebut dengan menaikkan harga BBM.
Negara seperti Singapura, Vietnam, Kamboja, dan Filipina mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan. Pemerintah Kamboja bahkan telah menaikkan harga BBM hingga 10 persen menjadi USD1,05 per liter. Sementara itu, Vietnam, Laos, dan Filipina mencatat lonjakan harga di kisaran 6 hingga 8 persen, seiring fluktuasi harga minyak global.
Pergerakan harga ini sangat dipengaruhi oleh indikator Mean of Platts Singapore (MOPS), yang menjadi acuan utama harga bahan bakar di kawasan Asia.
Indonesia Pilih Tahan Harga, Siapkan Skema Penghematan Energi
Di tengah tekanan global tersebut, pemerintah Indonesia hingga kini belum mengambil langkah menaikkan harga BBM. Sebagai alternatif, pemerintah tengah menyiapkan kebijakan penghematan energi, salah satunya melalui penerapan Work From Home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN).
Kebijakan ini direncanakan berlaku satu hari dalam sepekan, dengan kemungkinan diperluas ke sektor swasta. WFH disebut-sebut mampu menekan konsumsi BBM hingga 20 persen, meskipun efektivitasnya masih menjadi perdebatan. Langkah ini diharapkan dapat menjadi solusi jangka pendek untuk mengurangi konsumsi energi tanpa harus langsung membebani masyarakat melalui kenaikan harga BBM.
Profil Prof. Dr. Telisa Aulia Falianty
Prof. Dr. Telisa Aulia Falianty, S.E., M.E. merupakan akademisi dan ekonom Indonesia yang dikenal sebagai pakar di bidang ekonomi moneter dan keuangan internasional. Ia adalah Guru Besar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, dengan fokus kajian pada ekonomi moneter, stabilitas sistem keuangan, keuangan internasional, serta kebijakan makroekonomi.
Dalam karier akademiknya, Telisa aktif melakukan penelitian dan menulis berbagai publikasi ilmiah yang membahas isu ekonomi nasional maupun global, termasuk pertumbuhan ekonomi inklusif, ketimpangan ekonomi, energi berkelanjutan, inovasi, dan pembangunan ekonomi jangka panjang.
Sebagai akademisi, Telisa Aulia Falianty juga berkontribusi dalam pengembangan kebijakan ekonomi melalui kajian dan analisis terhadap kondisi ekonomi Indonesia, termasuk stabilitas sektor keuangan, kebijakan moneter, serta tantangan ekonomi di era digitalisasi dan globalisasi.
Ia juga dikenal aktif menyampaikan pandangan ekonomi di ruang publik, terutama terkait stabilitas ekonomi nasional, industri keuangan, dan kebijakan ekonomi makro.
Dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar, Telisa menekankan pentingnya adaptasi kebijakan moneter dan sektor keuangan dalam menghadapi perubahan global seperti digitalisasi, dekarbonisasi, sistem keuangan multipolar, serta transformasi ekonomi menuju visi Indonesia Emas 2045.
Melalui pemikiran, penelitian, dan kontribusinya di bidang ekonomi, ia menjadi salah satu ekonom Indonesia yang berperan dalam pengembangan ilmu ekonomi sekaligus memberikan masukan kebijakan bagi pembangunan ekonomi nasional.






