Rupiah Melemah di Hari Ke-2 Lebaran, Dekati Rp17.000 per Dolar AS

Rupiah Melemah di Hari Ke-2 Lebaran, Dekati Rp17.000 per Dolar AS



BANTENMEDIA, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dibuka melemah ke level Rp16.992 pada perdagangan hari ini, Senin (23/3/2026) atau 2 hari setelah Lebaran 2026. Rupiah mengalami pelemahan yang sejalan dengan beberapa mata uang Asia lainnya dan mendekati angka Rp17.000.

Berdasarkan data dari Bloomberg pukul 09.00 WIB, rupiah dibuka melemah sebesar 0,38% menjadi Rp16.992 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS melemah sebesar 0,03% menjadi 99,62.

Di sisi lain, beberapa mata uang Asia menunjukkan pergerakan yang beragam. Yen Jepang melemah sebesar 0,17%, dolar Hong Kong menguat 0,01%, dolar Singapura melemah 0,05%, dolar Taiwan melemah 0,50%, dan won Korea Selatan melemah 0,35%.

Selain itu, peso Filipina melemah sebesar 0,62%, yuan China melemah 0,11%, ringgit Malaysia turun 0,51%, dan baht Thailand melemah 0,26%.

Menurut pengamat Komoditas dan Mata Uang Ibrahim Assuaibi, dalam perdagangan tanggal 24 Maret 2026 setelah libur panjang Idulfitri, rupiah diperkirakan akan bergerak dalam kisaran Rp16.990 hingga Rp17.075 per dolar AS. Ia juga memperkirakan indeks dolar AS akan berada dalam rentang 98,73 hingga 101,20.

“Dalam perdagangan minggu depan, indeks dolar ini kemungkinan akan kembali menguat menuju 101,20, bukan melemah ke 98,73 yang merupakan area support,” kata Ibrahim, Minggu (22/3/2026).

Menurutnya, penguatan dolar salah satunya disebabkan oleh kebijakan bank sentral global yang masih mempertahankan suku bunga tinggi, bahkan cenderung menaikkan suku bunga di tengah kekhawatiran inflasi.

Kondisi ini dipengaruhi oleh lonjakan harga energi, khususnya minyak mentah jenis Brent yang diperkirakan bergerak di kisaran US$110 hingga US$116. Kenaikan harga energi ini berdampak langsung terhadap inflasi global sehingga mendorong bank sentral untuk tetap hawkish.

Di sisi lain, eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah juga turut memperkuat dolar AS sebagai aset safe haven.

Ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, serta meningkatnya serangan terhadap fasilitas energi di berbagai wilayah, membuat investor cenderung beralih ke dolar.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pergerakan Rupiah

  • Kebijakan Bank Sentral Global

    Bank sentral di seluruh dunia masih mempertahankan suku bunga tinggi untuk mengendalikan inflasi. Hal ini menyebabkan dolar AS menguat karena permintaan terhadap aset yang stabil.

  • Harga Energi yang Melonjak

    Harga minyak mentah jenis Brent mencatat kenaikan yang signifikan. Kenaikan ini berdampak langsung terhadap inflasi global, sehingga memperkuat kebijakan moneter yang agresif.

  • Konflik Geopolitik di Timur Tengah

    Ketegangan antara negara-negara di kawasan Timur Tengah memicu ketidakpastian ekonomi. Investor cenderung mencari aset yang aman seperti dolar AS.

  • Pergerakan Mata Uang Asia Lainnya

    Beberapa mata uang Asia juga mengalami pelemahan, baik secara bersamaan maupun secara individual. Ini memberikan tekanan terhadap rupiah.

Prediksi Perdagangan Minggu Depan

Ibrahim Assuaibi memprediksi bahwa rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp16.990 hingga Rp17.075 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS diperkirakan akan berada dalam rentang 98,73 hingga 101,20.

Prediksi ini didasarkan pada beberapa faktor, termasuk kebijakan moneter global, kondisi pasar energi, dan dinamika geopolitik. Dalam jangka pendek, dolar AS diperkirakan akan terus menguat, meskipun ada potensi penurunan jika situasi politik dan ekonomi membaik.

Kesimpulan

Nilai tukar rupiah menghadapi tantangan besar akibat pelemahan global terhadap dolar AS. Namun, prediksi para ahli menunjukkan bahwa rupiah masih memiliki ruang untuk bergerak dalam kisaran tertentu. Investor dan pelaku pasar perlu memantau perkembangan kebijakan moneter, harga energi, dan dinamika geopolitik secara lebih cermat.

Related posts