Rayakan Lebaran 2026, Napi Lapas Pemuda Tangerang Gelar Tradisi Botram

Rayakan Lebaran 2026, Napi Lapas Pemuda Tangerang Gelar Tradisi Botram

Tradisi Unik Warga Binaan Lapas Pemuda Kelas IIA Tangerang dalam Merayakan Idulfitri

Di tengah perayaan Idulfitri 1447 H, ribuan warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Pemuda Kelas IIA Tangerang menunjukkan semangat dan kekompakan dalam merayakan hari raya. Meski tidak bisa pulang ke kampung halaman seperti masyarakat umumnya, mereka memiliki tradisi khusus yang mencerminkan kerinduan akan momen Lebaran bersama keluarga.

Kegiatan Keagamaan yang Penuh Makna

Salah satu tradisi yang dilakukan adalah takbir keliling. Pada malam menjelang Idulfitri, para warga binaan menggelar takbir sambil berkeliling blok hunian dengan menggunakan beduk dan hadroh. Kegiatan ini tidak hanya menjadi bentuk ibadah tetapi juga sebagai sarana untuk membangun semangat dan kesadaran akan pentingnya iman.

Pagi harinya, mereka melanjutkan dengan salat Id berjamaah. Ribuan narapidana dan petugas beragama Islam berkumpul di area lapangan pusat lapas tanpa adanya sekat atau pembatas. Mereka saling berbaur dalam satu tempat, menciptakan suasana yang penuh kehangatan dan persaudaraan.

Botram, Tradisi Berbagi Makanan

Setelah salat Id, kegiatan dilanjutkan dengan halal bihalal, yaitu saling bermaaf-maafan dan berbagi. Salah satu tradisi unik yang dilakukan adalah botram, di mana para warga binaan mengumpulkan makanan yang diberikan oleh keluarga selama sesi kunjungan. Makanan tersebut kemudian disajikan secara bersama-sama pada malam hari.

Botram merupakan tradisi khas Sunda yang biasanya dilakukan saat Lebaran. Dengan cara ini, warga binaan dapat merasakan kehangatan momen Lebaran meskipun sedang menjalani masa hukuman. Mereka saling berbagi makanan dan merayakan bersama, sehingga tercipta rasa kebersamaan yang kuat.

Silaturahmi dan Pembinaan Spiritual

Menurut Kepala Lapas Pemuda Kelas IIA Tangerang, Yogi Suhara, tradisi-tradisi ini tidak hanya sekadar ritual tetapi juga menjadi sarana pembinaan spiritual bagi warga binaan. Dengan merayakan Idulfitri, mereka diingatkan untuk melakukan refleksi diri dan meningkatkan kualitas diri.

“Kami menanamkan jiwa spiritualis dan religius kepada warga binaan bahwa Idulfitri adalah momentum untuk tobat dari apa yang telah mereka lakukan,” ujar Yogi.

Ia juga menyebutkan bahwa perayaan tahun ini menjadi titik balik bagi warga binaan untuk mengevaluasi perbuatan mereka dan belajar dari pengalaman hidup di dalam penjara. Dengan demikian, ketika tiba saatnya bebas, mereka telah siap kembali ke masyarakat dengan perubahan positif.

Rasa Antusias dan Haru

Warga binaan sangat antusias mengikuti semua kegiatan ini. Mereka merasa terharu karena bisa merayakan Lebaran meski tidak bisa bersama keluarga di rumah. Di dalam lapas, mereka menemukan “keluarga baru” yang selalu ada dan mendukung mereka.

“Di sini mereka menemukan keluarga ke dua yang selalu bertemu dan menjalani hari demi hari,” tambah Yogi.

Dengan adanya tradisi botram dan kegiatan keagamaan lainnya, warga binaan tidak hanya merayakan Lebaran tetapi juga memperkuat ikatan persaudaraan dan meningkatkan kesadaran spiritual mereka.


Related posts