Penghapusan Tarif Alat Telekomunikasi Dapat Memicu Sentimen Positif, Ini Saran Analis

Penghapusan Tarif Alat Telekomunikasi Dapat Memicu Sentimen Positif, Ini Saran Analis

Perjanjian Dagang Indonesia–Amerika Serikat Berdampak Positif pada Sektor Telekomunikasi

Perjanjian dagang Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat yang membuka peluang penghapusan tarif perangkat telekomunikasi dinilai memiliki potensi memberi sentimen positif bagi sektor telekomunikasi dan menara. Namun, dampaknya terhadap pergerakan saham diperkirakan belum langsung signifikan.

Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas, mengatakan bahwa kebijakan tersebut dapat memicu optimisme pasar dalam jangka pendek karena adanya ruang efisiensi biaya investasi. Ia menjelaskan bahwa secara jangka pendek bisa memicu euforia karena ada ruang penghematan biaya. Dalam jangka menengah, dampaknya lebih struktural karena perangkat telekomunikasi asal AS banyak mendominasi core network, fiber optic, dan data center.

Kondisi ini berpotensi membuat ekspansi layanan fixed mobile convergence dan pusat data operator seperti PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Indosat Tbk (ISAT), serta PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) menjadi lebih efisien dari sisi biaya perangkat. Penghapusan tarif juga dapat menekan kebutuhan belanja modal perusahaan. Capex bisa turun sehingga kebutuhan utang baru berkurang, beban bunga lebih ringan, dan depresiasi aset ke depan juga lebih rendah.

Dari sisi emiten menara, efisiensi biaya impor dinilai berpotensi mempercepat ekspansi jaringan fiber. Emiten seperti PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL), dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) berpeluang mempercepat konektivitas menara dengan jaringan fiber optic. Dengan biaya impor lebih murah, fiberisasi bisa lebih cepat. Operator nantinya tinggal menyewa infrastruktur yang sudah di-upgrade dengan lease rate yang lebih efisien.

Meski demikian, ia menilai katalis tersebut belum cukup kuat untuk membalikkan tren negatif saham sektor menara. Menurutnya, tekanan utama masih berasal dari faktor suku bunga dan tingginya beban utang. Penghapusan tarif ini merupakan fondasi fundamental yang kuat, tapi belum cukup menjadi katalis tunggal. Emiten menara punya utang obligasi dan kredit besar, sehingga masih butuh katalis tambahan, terutama dari arah kebijakan suku bunga.

Wafi merekomendasikan beberapa saham dengan target harga masing-masing. Untuk ISAT, target harga Rp 12.500. Untuk TLKM, target harga Rp 4.200. EXCL direkomendasikan dengan target harga Rp 3.800. MTEL ditargetkan Rp 570, sedangkan TOWR dan TBIG masing-masing memiliki target harga Rp 525 dan Rp 2.100. Rekomendasi ini berdasarkan analisis terhadap potensi pertumbuhan dan efisiensi yang dapat diperoleh dari perjanjian dagang tersebut.

Related posts