Emil Dardak Buka Suara Soal Dampak Perang Iran vs AS pada Ekonomi Jawa Timur

Emil Dardak Buka Suara Soal Dampak Perang Iran vs AS pada Ekonomi Jawa Timur



BANTENMEDIA, SURABAYA – Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, mengungkapkan berbagai dampak dari konflik bersenjata yang sedang terjadi antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat terhadap perekonomian wilayah Jawa Timur. Konflik tersebut telah memengaruhi stabilitas harga minyak dunia, yang pada akhirnya berdampak langsung terhadap sektor ekonomi di provinsi ini.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur baru-baru ini menerapkan kebijakan Work From Home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) setiap hari Rabu. Alasan utama dari kebijakan ini adalah efisiensi penggunaan energi serta respons terhadap volatilitas harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang disebabkan oleh ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Konflik yang berlangsung di Jazirah Arab dan pembatasan akses Selat Hormuz telah menyebabkan kenaikan harga minyak secara signifikan. Hal ini juga berdampak pada perekonomian Jawa Timur, termasuk dalam hal kenaikan harga bahan baku seperti plastik dan BBM. Emil Dardak menegaskan bahwa meskipun ada upaya pemerintah pusat untuk menjaga stabilitas harga, pihaknya tetap harus waspada dan antisipatif terhadap kemungkinan fluktuasi yang lebih besar.

“UMKM mulai mengeluhkan kenaikan harga plastik dan BBM. Pemerintah pusat berusaha menahan gejolak harga, tapi kita juga harus siap menghadapi situasi yang bisa saja terjadi,” ujar Emil Dardak saat memberikan pernyataan di Gedung Negara Grahadi.

Menurut hasil simulasi yang dilakukan oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Bank Indonesia, dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, dampak konflik tersebut terhadap Jawa Timur tidak separah daerah lain. Meski begitu, Emil menekankan bahwa Jawa Timur tetap perlu berhati-hati karena pertumbuhan ekonomi dan nilai ekspor masih memiliki potensi yang cukup besar.

  • Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur mencatatkan angka yang positif.
  • Nilai ekspor Jawa Timur meningkat sekitar 16%.
  • Impor Jawa Timur mengalami penurunan sebesar 2,7%.
  • Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur pada tahun 2025 tercatat sebesar Rp3.403,17 triliun.

Emil menyoroti bahwa meskipun dampaknya tidak dominan, Jawa Timur tetap perlu waspada terhadap risiko inflasi, penimbunan, dan panic buying yang bisa terjadi jika kondisi pasar tidak stabil. Gubernur Khofifah Indar Parawansa telah meminta seluruh kepala daerah di Jawa Timur untuk segera melakukan langkah-langkah antisipatif.

“Para bupati dan wali kota harus bersiap-siap. Jika ada pihak-pihak yang ingin memanfaatkan situasi, misalnya dengan menimbun atau memicu panic buying, maka tindakan tegas diperlukan agar masyarakat tidak terkena dampak negatif,” jelas Emil.

Selain itu, Emil juga menyampaikan bahwa pihaknya telah bekerja sama dengan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Timur serta Hiswana Migas. Menurutnya, stok BBM di Jawa Timur masih stabil dan tidak ada pengurangan terhadap LPG.

“Stabil artinya jika pola konsumsi masyarakat normal, tidak ada kelangkaan. Hanya saja, pada saat ada perubahan sistem sebelumnya, pasti ada penjelasan standarnya,” tambahnya.

Dia juga menjelaskan bahwa distribusi BBM berjalan lancar setiap hari dan hingga saat ini belum ada gangguan terhadap kontinuitas pasokan. Angka kenaikan harga BBM di Jawa Timur dinilai masih rendah dibandingkan daerah lain.

Emil juga mengingatkan tentang angka inflasi Februari 2026 yang mencapai 4,64%. Menurutnya, angka ini dipengaruhi oleh perubahan kebijakan subsidi di periode sebelumnya. Oleh karena itu, dia menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap inflasi yang bisa semakin tinggi.

“Tapi ini menjadi alarm, kita harus betul-betul cermat, jangan sampai inflasinya tidak terkendali,” tutup Emil.

Related posts