Peran Generasi Z dalam Menghadapi Bahaya Mikroplastik
Kesadaran tentang bahaya mikroplastik mulai menyebar di kalangan masyarakat, khususnya akademisi dan aktivis lingkungan di Indonesia. Salah satu kelompok yang aktif mengkampanyekan isu ini adalah Jaringan Generasi Z Jawa Timur Tolak Plastik Sekali Pakai (Jejak). Komunitas ini berupaya mengurangi sampah plastik melalui edukasi, advokasi, dan aksi nyata.
Jejak berawal dari inisiatif seorang relawan Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton), Alaika Rahmatullah. Ia mengatakan bahwa banyak komunitas Gen Z yang fokus pada isu lingkungan. Meskipun masing-masing memiliki gerakan sendiri, tujuan mereka tetap sama, yaitu mendorong kebijakan pengurangan sampah plastik.
Alex, sapaan akrabnya, mulai mengumpulkan tujuh komunitas peduli lingkungan yang terdiri dari Generasi Z di Jawa Timur sejak Juli 2025. Komunitas-komunitas tersebut antara lain Forum Kali Brantas, River Warrior, Grow Green, Aksi Biru, Envigreen Society, Replast GenZ, dan Ecoton. Mereka berasal dari berbagai kota/kabupaten seperti Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Jember, dan Kediri.
Setelah berkumpul, mereka memulai dengan pemetaan kondisi tata kelola sampah di daerah masing-masing. “Pemetaan ini menjadi penentu arah gerakan kami,” kata Alex. Hasil pemetaan menunjukkan bahwa kebijakan tata kelola sampah di daerah masih berorientasi pada kebijakan lama, yakni kumpul dan buang. Kebijakan ini dinilai belum menyelesaikan permasalahan sampah dari hulu.
Menurut Alex, penyelesaian sampah harus dimulai dari hulu, seperti pemilahan sampah rumah tangga dan penggunaan insinerator atau alat pembakaran limbah padat dengan suhu tinggi. Selain itu, hanya sedikit kota/kabupaten yang memiliki peraturan daerah untuk mengurangi sampah plastik, seperti Surabaya dalam bentuk Peraturan Wali Kota.
Berdasarkan data tersebut, Jejak merancang program untuk bekerja sama dalam satu tahun. Mereka memulai dengan meneliti hujan mikroplastik di Malang pada November 2025. Penelitian ini dipilih karena ada temuan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) soal hujan mikroplastik di Jakarta. “Kami penasaran juga dengan kondisi hujan di kota metropolitan seperti Malang dan Surabaya. Ternyata terbukti positif,” jelas Alex.
Jejak kemudian melakukan penelitian air hujan yang mengandung mikroplastik di 10 kota/kabupaten Jawa Timur, seperti Malang, Surabaya, Gresik, Lamongan, Bondowoso, Banyuwangi, Mojokerto, Kediri, Tulungagung, dan Jember. Mereka melakukan penelitian sembari melakukan edukasi kepada masyarakat, misalnya melibatkan sekolah SD hingga SMA untuk mengambil sampel air hujan, mengadakan seminar, hingga pameran.
“Jadi kami keliling ke sepuluh kota itu. Kami mengedukasi masyarakat dengan mengurangi penggunaan plastik. Kami pun langsung paparkan konsekuensinya jika pemakaian plastik tidak bijak, seperti hujan mikroplastik ini,” ucapnya.
Selain edukasi, Jejak juga melakukan beberapa aksi di depan Gedung Negara Grahadi untuk menolak plastik sekali pakai. Mereka juga berusaha melakukan audiensi dengan pembuat kebijakan, seperti kepala daerah dan DPRD, untuk mendorong aturan soal plastik sekali pakai. “Kami sudah beraudiensi dengan Pemkab Gresik, Pemkot Malang, dan baru-baru ini DPRD Jatim,” tambah Alex.
Tidak hanya lewat edukasi dan aksi, Jejak juga aktif mengkampanyekan isu-isu lingkungan melalui media sosial seperti Instagram dan TikTok karena dinilai efektif untuk memengaruhi sesama generasi Z. Alex mengakui banyak sambutan dan dukungan positif dari edukasi lewat media sosial itu. Bahkan, sebagian postingannya dilihat oleh jutaan orang. Namun, tak jarang mereka mendapat komentar negatif maupun serangan buzzer.
Alex sempat terkena ancaman saat mengunggah edukasi lewat TikTok. “Ceritanya saya mengunggah pembakaran sampah plastik di Surabaya, lalu ada akun anonim yang membantah lewat pesan di TikTok. Bahkan dia tiba-tiba tanya posisi saya di mana?” tutur Alex. Tak beberapa lama setelah mengunggah edukasi itu, akun TikTok milik Alex juga terkena banned dari aplikasi karena dianggap mengunggah kalimat ujaran kebencian. Alex pun sempat melakukan banding sebanyak tiga kali lewat aplikasi itu, namun belum berhasil.
Beberapa akun media sosial milik komunitas Jejak juga beberapa kali mendapat ancaman ketika mengunggah sebuah edukasi yang berawal dari aktivitas yang merugikan lingkungan. Bahkan, tak jarang akun media sosial mereka dilaporkan karena dinilai merugikan orang lain.
Meski begitu, mereka mengaku tidak pernah putus asa karena merasa memiliki visi-misi yang sama untuk membuat lingkungan lebih baik. “Dari semua duka itu, lebih banyak sukanya karena kami dipertemukan lewat minat yang sama,” ucap Alex.
Ke depan, Jejak ingin lebih banyak menjaring komunitas pemuda di Jawa Timur dan Indonesia untuk sama-sama mengedukasi masyarakat tentang kepedulian lingkungan. Sebab, mereka tak ingin ancaman krisis iklim terjadi akibat penggunaan plastik yang tidak bijak.






