DPRD Pasangkayu Minta Penanganan Cepat untuk Abrasi Sungai di Polewali
Abrasi sungai yang terjadi di Kecamatan Bambalamotu, Kabupaten Pasangkayu, telah menjadi perhatian serius bagi masyarakat setempat dan pihak legislatif. Dampaknya sudah sangat nyata, dengan beberapa rumah warga menggantung akibat tebing sungai yang terkikis. Hal ini menimbulkan kekhawatiran besar terhadap keselamatan penduduk.
Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi III Palu telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi abrasi tersebut pada Jumat (27/3/2026). Titik yang ditinjau adalah Dusun Duria Biro, Desa Polewali, yang mengalami kerusakan parah. Di lokasi tersebut, tebing sungai terus terkikis hingga menyebabkan struktur tanah menjadi tidak stabil. Bahkan, sebagian rumah tampak menggantung karena kehilangan penopang di bagian bawah.
Anggota DPRD Pasangkayu, Arham Bustaman, menyampaikan bahwa kondisi di lapangan sudah sangat mendesak. Ia menegaskan bahwa masalah ini bukan lagi sekadar potensi ancaman, melainkan dampak nyata yang dirasakan oleh masyarakat.
“Ini bukan lagi sekadar potensi ancaman. Dampaknya sudah nyata dirasakan masyarakat,” ujarnya, Sabtu (28/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa abrasi sungai di wilayah Polewali telah menggerus permukiman warga hingga membuat beberapa rumah berada dalam kondisi menggantung dan berisiko roboh. Situasi ini dinilai darurat karena mengancam keselamatan warga.
Permintaan DPRD untuk Tindakan Cepat
Karena itu, DPRD Pasangkayu meminta agar hasil peninjauan segera ditindaklanjuti dengan langkah teknis yang cepat dan terukur. Pihak legislatif menekankan pentingnya tindakan konkret dari pemerintah pusat untuk mencegah kerusakan lebih luas.
Sementara itu, pemerintah desa dan masyarakat setempat berharap agar balai sungai segera merealisasikan perbaikan tebing. Mereka berharap agar kebijakan yang diambil dapat memberikan solusi jangka panjang untuk mengatasi masalah abrasi yang terus berlangsung.
Sebelumnya, kondisi rumah warga di lokasi tersebut telah lama memprihatinkan. Tiang penyangga rumah terlihat menggantung di bibir tebing yang terus tergerus, sementara tanah di sekitarnya retak dan tidak stabil. Pemilik rumah bahkan terpaksa mengungsi karena khawatir bangunan sewaktu-waktu roboh akibat longsor yang terus terjadi.
Tantangan dan Solusi yang Diharapkan
Masalah abrasi sungai ini tidak hanya membahayakan keselamatan warga, tetapi juga mengancam infrastruktur dan ekonomi masyarakat setempat. Dengan kondisi yang semakin memburuk, diperlukan langkah-langkah strategis untuk mengatasi masalah ini.
Beberapa solusi yang diusulkan antara lain:
- Pemetaan ulang daerah rawan abrasi untuk memastikan pengembangan wilayah dilakukan secara bertanggung jawab.
- Pembangunan tanggul atau sistem penahan tebing yang kuat untuk mencegah erosi lebih lanjut.
- Pelibatan ahli geologi dan lingkungan untuk memberikan rekomendasi teknis yang tepat sesuai kondisi lokal.
Selain itu, diperlukan koordinasi yang baik antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan masyarakat untuk memastikan keberlanjutan program penanganan abrasi. Partisipasi aktif masyarakat juga sangat penting dalam memantau perkembangan situasi dan memberikan informasi terkini.
Peran Masyarakat dalam Penanganan Abrasi
Masyarakat setempat memiliki peran krusial dalam upaya pencegahan dan mitigasi abrasi. Mereka bisa menjadi pengawas alami di sekitar lokasi yang rentan, serta memberikan data aktual tentang perubahan kondisi lingkungan.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh masyarakat antara lain:
- Melaporkan perubahan kondisi tebing atau tanah kepada pihak berwenang.
- Menghindari aktivitas yang dapat memperparah erosi, seperti pembangunan di dekat tebing.
- Meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan dan mengurangi risiko bencana.
Dengan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, diharapkan masalah abrasi sungai di Polewali dapat segera diatasi dan kehidupan warga kembali stabil.






