Kehidupan Harian di Dapur SPPG Kunciran Jaya
Di Jalan Sultan Ageng Tirtayasa, Kelurahan Kunciran Jaya, Kota Tangerang, suara spatula yang beradu dengan wajan raksasa menjadi pemandangan harian. Di sana, sebuah bangunan bukan hanya berdiri sebagai struktur beton, tetapi juga menjadi pusat harapan bagi sekitar 2.800 anak sekolah di wilayah Kecamatan Pinang.
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kunciran Jaya resmi dioperasikan pada awal Februari 2026. Sejak saat itu, SPPG ini telah bertransformasi dari “proyek percontohan” menjadi mesin penggerak kualitas sumber daya manusia di Kota Tangerang.
Wali Kota Tangerang, Sachrudin, menekankan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan melalui SPPG memiliki dimensi yang jauh lebih luas daripada sekadar mengenyangkan perut siswa. Ia menyatakan bahwa intervensi gizi sejak dini adalah investasi masa depan.
“Kita ingin memastikan anak-anak tumbuh sehat, dan ibu hamil serta menyusui mendapatkan asupan gizi yang layak,” ujar Wali Kota Tangerang, Sachrudin.
Menurutnya, program ini tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga berkontribusi pada ekonomi kerakyatan. “Ini adalah investasi besar untuk menyongsong Indonesia Emas 2045. Lebih dari itu, program ini menggerakkan ekonomi kerakyatan melalui penyerapan hasil ternak dan perkebunan lokal. Semuanya adalah satu kesatuan yang saling menunjang,” tegasnya.
Ekosistem Ekonomi Mikro yang Berkembang
Di SPPG ke-48 Kota Tangerang ini, ekosistem ekonomi mikro mulai tumbuh. Bahan baku pangan disuplai dari peternak dan petani lokal, sementara dapur produksinya menyerap tenaga kerja dari lingkungan sekitar kelurahan.
Salah satu yang membuat SPPG Kunciran Jaya menonjol adalah standar operasionalnya yang ketat. Tidak hanya soal rasa, namun aspek higienitas dan logistik terintegrasi menjadi harga mati. Dukungan armada operasional memastikan makanan sampai ke sekolah dalam window time yang aman bagi kualitas pangan.
Sejak awal, pihak pengelola melalui Yayasan Swasthya Mandala Karya membuka pintu bagi publik dan media untuk mengaudit langsung proses produksi hingga mencicipi menu standar yang dibagikan.
Pengawasan Ketat DPRD: Menjaga Nafas Jangka Panjang
Meski operasional sudah berjalan, pengawasan tidak lantas kendur. Wakil Ketua DPRD Kota Tangerang, Turidi Susanto, mengingatkan bahwa keberlanjutan program ini bergantung pada evaluasi rutin.
“DPRD berkomitmen menjalankan fungsi pengawasan agar pelaksanaan program MBG berjalan sesuai target. Kami mendorong pemerintah kota terus memperkuat koordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) guna menjamin kualitas layanan tetap konsisten, bukan hanya di awal saja,” ujar Turidi.
Harapan dari Dapur SPPG Kunciran Jaya
Bagi Ristiaji Ari Wibowo, pemilik sekaligus pengelola SPPG Kunciran Jaya, fasilitas ini adalah manifestasi niat baik untuk memastikan tidak ada lagi anak-anak di wilayahnya yang kekurangan asupan nutrisi krusial.
Dengan kapasitas layanan yang mencakup enam sekolah di Kelurahan Kunciran, Kunciran Jaya, hingga Panunggangan, SPPG ini kini menjadi model pelayanan gizi berbasis wilayah yang efektif.
Jika model ini terus dijaga, cita-cita Kota Tangerang untuk mencapai cakupan layanan gizi 100 persen bagi pelajar bukan lagi sekadar angka di atas kertas, melainkan realitas yang bisa dirasakan di setiap piring makan siang siswa.






