Gencatan Senjata Hanya Simbol, Warga Palestina di ‘Garis Kuning’ Tetap Jadi Target

Gencatan Senjata Hanya Simbol, Warga Palestina di ‘Garis Kuning’ Tetap Jadi Target

Kehidupan di Bawah Ancaman Perang

Setiap malam, Hamed tidur dalam kecemasan. Ia tahu, ledakan dan tembakan pasukan Israel bisa sewaktu-waktu membangunkannya dari tidur. Ia tinggal di sepanjang zona demarkasi yang diberlakukan Israel dan dikenal sebagai “Garis Kuning”. Di wilayah ini, pelanggaran gencatan senjata disebut warga telah menjadi rutinitas.

“Ledakan membangunkan orang setiap hari,” kata pria Palestina yang meminta identitasnya dirahasiakan demi keamanan kepada Middle East Eye.

“Kami juga mendengar peluru bersiul di atas kepala. Penembakan tidak berhenti sepanjang malam.”

Warga Khan Younis di Gaza selatan itu menuturkan, baku tembak biasanya dimulai pada malam hari dan berlangsung hingga fajar, diselingi ledakan keras dari rumah-rumah yang dihancurkan di luar garis tersebut. Dalam satu insiden, ia nyaris tewas ketika sebuah peluru menghantam rumahnya.

“Syukurlah peluru itu menabrak dinding. Jika menembus terpal plastik, mungkin salah satu dari kami sudah tertembak,” ujarnya.

Ratusan Tewas Sejak Gencatan Senjata

Sejak gencatan senjata ditandatangani pada Oktober lalu, pasukan Israel disebut berulang kali melanggarnya melalui serangan udara, penembakan, pembongkaran rumah, hingga penahanan. Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, sedikitnya 591 orang tewas dalam empat bulan terakhir sejak gencatan senjata dimulai. Banyak dari korban jatuh di sekitar Garis Kuning.

Garis tersebut membentang di Gaza utara, timur, dan selatan. Zona itu ditetapkan sebagai batas penarikan sementara pasukan Israel dalam perjanjian gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat, sembari menunggu fase berikutnya yang mencakup penarikan lebih lanjut. Namun di lapangan, warga mengaku batas tersebut terus bergeser lebih jauh ke dalam wilayah Gaza. Pergeseran itu membatasi akses masyarakat ke rumah dan lahan pertanian, sekaligus memicu gelombang pengungsian berulang.

Bagi Hamed, ancaman kini terasa semakin dekat. Jika sebelumnya jarak zona itu hampir dua kilometer dari rumahnya, kini kurang dari satu kilometer.

“Sekarang kami bisa melihat tank mendekat, menembak, lalu mundur lagi. Sangat menakutkan,” kata pria 25 tahun itu.

Ancaman yang Dirasakan

Ancaman yang dirasakan bukan hanya fisik, tetapi juga psikologis. Beberapa tetangganya terluka akibat tembakan saat berada di dalam rumah. “Keponakan saya selalu berlari ke pangkuan ayah dan ibu saya untuk bersembunyi,” ujarnya. “Kami tidak berani naik ke atap untuk memasak atau menjemur pakaian. Kami berkumpul di satu ruangan yang menghadap ke barat, karena tentara berada di timur.”

“Tidak Ada Gencatan Senjata di Sini”

Tindakan Israel di sepanjang Garis Kuning menuai kecaman dari kelompok hak asasi manusia. Euro-Med Human Rights Monitor menyebut pendekatan Israel sebagai bentuk “perampasan ilegal dan penjarahan sistematis sumber daya” di wilayah pendudukan yang melanggar hukum internasional.

Kisah Hamed juga dirasakan warga lain di berbagai wilayah Gaza. Di Al-Bureij, Gaza tengah, pergeseran terbaru Garis Kuning memicu gelombang pengungsian baru. Khaled, yang juga meminta namanya dirahasiakan, selamat dari sejumlah serangan, termasuk pemboman rumahnya. Ia kerap mengunjungi pamannya yang tinggal dekat perbatasan. Namun banyak warga telah pergi akibat penembakan yang disebutnya terjadi secara sembarangan.

“Paman saya harus meninggalkan rumahnya. Sekarang rumah itu tepat di sebelah Garis Kuning. Tembakan tidak pernah berhenti,” katanya. Dalam satu kunjungan untuk memeriksa properti, ia dan keluarganya terpaksa bersembunyi saat penembakan mendadak terjadi.

“Kami bersembunyi di ruangan yang menjauh dari posisi tentara, lalu berlari ketika ada kesempatan. Itu terjadi berulang kali,” ujarnya.

Pengalaman Warga di Kamp Pengungsi

Di kamp pengungsi Al-Maghazi, Houida Salim, ibu enam anak, mengatakan peluru hampir setiap hari melintas di atas rumahnya. “Perang tidak pernah benar-benar selesai,” katanya. “Setiap kali mendengar deru tank, kami merasa seperti dipenjara di dalam rumah. Peluru mereka kerap mengenai bangunan. Tidak ada gencatan senjata di sini.”

Menurutnya, Garis Kuning kini hanya berjarak kurang dari satu kilometer dari tempat tinggalnya. “Kami tidak menjemur pakaian di atap karena takut menjadi sasaran tank. Kadang mereka menggunakan tembakan bersuara senyap, itu lebih menakutkan. Anak-anak tidak bisa bermain di luar dengan aman.”

Salim mengatakan ia sudah lima kali mengungsi sejak perang dimulai. Rumah keluarga besarnya di Deir al-Balah timur bahkan dinilai lebih berbahaya. “Saya tidak punya tempat lagi untuk pergi,” ujarnya.


Related posts