Bagaimana bentuk dan teknologi huntara modular di Aceh Tamiang?

Bagaimana bentuk dan teknologi huntara modular di Aceh Tamiang?



JAKARTA, BantenMedia

Dalam menghadapi tantangan pemulihan pasca-bencana alam di Sumatera, kecepatan pembangunan hunian menjadi faktor penentu dalam meminimalisasi trauma sosial.

Direktur Utama PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), Agung Budi Waskito, memperkenalkan sebuah solusi konstruksi masa depan yang kini diterapkan secara masif, bangunan modular untuk hunian sementara (huntara). Teknologi ini bukan sekadar bedeng sementara, melainkan sistem hunian yang dirancang dengan presisi secara industri untuk memberikan keamanan, kenyamanan, dan martabat bagi para penyintas bencana.

Teknologi modular yang dikembangkan WIKA dan PT Wijaya Karya Gedung (Persero) Tbk (WEGE) menjadi tolok ukur baru dalam mitigasi bencana nasional. Berikut adalah beberapa aspek penting dari teknologi ini:

Filosofi Bangunan Modular: Presisi Industri di Lokasi Bencana

Menurut Agung, kunci utama dari huntara di Sumatera adalah kecepatan tanpa kompromi pada kualitas. Sistem modular memungkinkan pembangunan dilakukan dengan metode off-site construction. Komponen bangunan diproduksi di pabrik (WEGE) atau sistem fabrikasi, dalam bentuk panel-panel siap rakit.

Karena komponen sudah presisi, pemasangan di lokasi, seperti di Aceh Tamiang, hanya memerlukan waktu hitungan hari, jauh lebih cepat dibandingkan metode konvensional yang memakan waktu berbulan-bulan.

“Kami menghadirkan huntara modular yang dibangun secara cepat, aman, dan kuat, sehingga masyarakat terdampak dapat segera memiliki tempat tinggal yang nyaman dan layak,” tegas Agung.

Anatomi Struktur: Kekuatan di Balik Kecepatan

Huntara modular WIKA dirancang dengan material pilihan yang mampu beradaptasi dengan iklim tropis Sumatera yang lembap dan potensi cuaca ekstrem. Berikut adalah detail teknisnya:

  • Rangka baja ringan (light steel frame): merupakan tulang punggung bangunan. Material ini dipilih karena memiliki rasio kekuatan terhadap berat yang tinggi, tahan terhadap korosi, dan fleksibel terhadap guncangan tanah (antisipasi gempa).
  • Dinding papan semen (fiber cement board): memberikan perlindungan termal yang baik. Ruangan tetap sejuk meski suhu di luar terik, serta memiliki daya tahan tinggi terhadap api dan rayap.
  • Lantai multiplek tebal: memberikan pijakan yang solid dan mampu menahan beban furnitur dasar rumah tangga.
  • Atap zincalume: material atap yang ringan namun sangat kuat menahan angin kencang dan hujan deras, dengan kemampuan memantulkan panas yang efisien.

Desain Komprehensif

Agung menekankan, Huntara WIKA dirancang sebagai ekosistem hunian, bukan sekadar unit isolasi. Setiap blok dalam 600 unit huntara di Aceh Tamiang, dilengkapi dengan fasilitas penunjang kehidupan yang holistik.

  • Sanitasi terintegrasi, sarana toilet dan akses air bersih yang higienis tersedia untuk mencegah penularan penyakit di pengungsian.
  • Area publik dan sosial, dilengkapi dengan dapur umum, area cuci, dan mushola. Hal ini penting untuk proses trauma healing masyarakat melalui interaksi sosial.
  • Layout ventilasi silang diperhatikan demi sirkulasi udara alami, memastikan kesehatan pernapasan para penghuninya.

Dampak Ekonomi dan Sosial

Secara analitik, penggunaan teknologi modular memberikan keuntungan berlipat bagi pemerintah dan masyarakat. Teknologi ini meminimalisasi sisa material (zero waste) dan biaya logistik karena berat komponen yang terukur.

Selain itu, reusability-nya tinggi alias dapat digunakan kembali. Jika rumah permanen sudah selesai dibangun, komponen modular ini dapat dibongkar dan dipindahkan ke lokasi lain yang membutuhkan tanpa merusak material.

Dengan hunian yang layak, anak-anak dapat kembali belajar dan orang tua dapat kembali fokus pada pemulihan ekonomi tanpa terbebani rasa tidak aman di tenda darurat.

Related posts