Perusahaan teknologi keamanan siber PT ITSEC Asia Tbk. (CYBR) menunjukkan rencana strategis untuk fokus pada solusi keamanan siber berbasis kecerdasan buatan (AI) dan pelatihan digital pada tahun 2026. Dengan visi tersebut, perusahaan berupaya menjaga pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan di tengah tantangan ancaman siber yang terus berkembang.
Presiden Direktur ITSEC Asia, Patrick Dannacher, menyatakan bahwa memasuki 2026, perusahaan akan terus mendorong inovasi dalam bidang keamanan siber berbasis AI serta memperluas pengembangan talenta untuk mendukung ketahanan siber nasional dan regional. Ia menekankan pentingnya menghadirkan solusi yang andal dan kapabilitas sumber daya manusia yang memiliki standar global.
Salah satu langkah strategis yang dilakukan oleh ITSEC adalah melalui pengembangan ITSEC Cybersecurity & AI Academy. Platform ini dirancang sebagai wadah untuk mencetak talenta keamanan siber dan AI yang sesuai dengan kebutuhan industri. Melalui akademi ini, ITSEC tidak hanya menawarkan teknologi dan layanan, tetapi juga tenaga profesional yang mampu mengimplementasikan, mengoperasikan, dan mempertahankan pertahanan siber modern.
Patrick menegaskan bahwa pasar saat ini tidak hanya membutuhkan alat yang lebih baik, tetapi juga SDM yang mampu mengoperasikannya. Menurutnya, akademi ini merupakan komitmen jangka panjang bagi pengembangan talenta keamanan siber dan AI di Indonesia.
Selama tahun 2025, ITSEC terus memperkuat misinya dalam memberikan solusi keamanan siber yang terukur, skalabel, dan relevan terhadap ancaman digital. Perusahaan juga memperhatikan pemanfaatan AI sebagai force multiplier yang praktis. Selain itu, ITSEC berkomitmen untuk menciptakan profesional keamanan siber dan AI yang siap menjawab kebutuhan sektor publik dan swasta.
“Kami memperkuat layanan dan kinerja keuangan, sekaligus berfokus pada AI, bukan hanya sebagai jargon, tetapi sebagai kemampuan nyata yang dapat membantu organisasi mendeteksi ancaman lebih cepat, merespons dengan lebih cerdas dan mengukur tingkat keamanan,” ujarnya.
Menurut Patrick, AI terus membentuk ulang lanskap ancaman siber, termasuk cara serangan digital diluncurkan, diperluas dan disamarkan. Untuk menghadapi tantangan tersebut, ITSEC memperluas peran AI di seluruh ekosistem keamanan sibernya agar bisa menghasilkan solusi yang nyata.
Sebelumnya, ITSEC juga mengumumkan perluasan layanannya dengan masuk ke Qatar, salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi menjanjikan di Timur Tengah. Patrick mengatakan perusahaan berkomitmen untuk memberikan solusi keamanan terbaik ke sejumlah sektor strategis di Qatar. Beberapa sektor yang menjadi target antara lain telekomunikasi, minyak & gas (migas), penerbangan, dan perbankan.
Menurut Patrick, secara fundamental masalah yang terjadi di Qatar sama seperti di Indonesia, sehingga menghadirkan layanan yang sudah terbukti di suatu negara dan kemudian diadopsi ke negara lain bukanlah hal yang sulit. “Saya pikir ini adalah negara yang sangat penting secara global. Nomor satu dan bagi kami ini benar-benar menunjukkan lagi tentang apa yang bisa dilakukan talenta Indonesia,” katanya.
Meskipun memiliki permasalahan yang sama dengan Indonesia, tingkat PDB per kapita di Qatar lebih tinggi. Hal ini membuat nilai layanan yang dijual di Qatar lebih berkualitas. Pertumbuhan PDB tinggi di Qatar disebabkan oleh keunggulan di sektor gas alam cair/LNG. Beberapa perusahaan besar yang bergerak di sektor tersebut antara lain QatarEnergy, ExxonMobil, TotalEnergies, Shell, dan ConocoPhillips.
Untuk sektor telekomunikasi, ada Ooredoo dan Vodafone, yang seluruhnya menjadi pasar yang diincar ITSEC. Patrick menambahkan bahwa ITSEC Asia hadir di Qatar dengan menggandeng mitra lokal. Meskipun tidak menyebutkan nama perusahaan tersebut, dipastikan bahwa mitra tersebut adalah perusahaan besar.
Selain menggandeng mitra lokal, ITSEC Asia rencananya juga akan membangun pusat pengembangan dan riset (R&D) di Doha untuk mempelajari pasar dan solusi yang relevan. Solusi dan hasil riset yang dihasilkan oleh R&D tersebut nantinya tidak hanya dimanfaatkan di Qatar, tetapi juga di Indonesia. Pun sebaliknya.
“Apa pun yang dipelajari di sana akan kami bawa ke Indonesia,” kata Patrick.

