Kapal Cornelis de Houtman Berlabuh di Banten, Awal Kolonialisme Rempah-Rempah

Kapal Cornelis de Houtman Berlabuh di Banten, Awal Kolonialisme Rempah-Rempah

Sejarah Kedatangan Cornelis de Houtman ke Banten

Pada 27 Juni 1596, Cornelis de Houtman, seorang tokoh kolonialisme di Indonesia, mendaratkan empat kapal layarnya di perairan Banten setelah melakukan perjalanan selama 14 bulan menyebrangi samudera luas. Cornelis de Houtman lahir di Gouda, Belanda, dan menjadi pemimpin ekspedisi pertama yang dikirim oleh Belanda ke Nusantara.

Sebelum berangkat dari Amsterdam, Cornelis mendapatkan informasi bahwa di bagian timur jauh, terdapat kepulauan penghasil rempah-rempah yang dikenal dengan nama Nusantara. Informasi ini memicu minat para pedagang Eropa, termasuk di Belanda, untuk melakukan eksplorasi lebih lanjut.

Cornelis kemudian dikirim ke Lisbon, Portugal, untuk mencari informasi lebih lanjut tentang keberadaan pulau-pulau tersebut. Selama dua tahun, ia menghabiskan waktu di sana. Saat kembali ke Belanda, Jan Huyigen Van Lis Hotten, seorang Belanda yang bekerja untuk Portugis di India, juga baru saja pulang ke Amsterdam.

Van Hotton menerbitkan laporan perjalanannya dengan judul Itinerario, yang menjelaskan potensi perdagangan di Asia, termasuk Nusantara. Hasil informasi yang dibawa Cornelis ternyata sama dengan laporan Van Hotton. Pulau surga yang dimaksud terletak di Timur, lebih jauh dari India, dan dikenal sebagai Bantam atau Banten.

Pada 1594, para pedagang di Belanda, termasuk Cornelis, membentuk perserikatan Niaga yang diberi nama Compania Vanferte Amsterdam. Perserikatan ini menyusun rencana untuk melakukan penjelajahan samudra dengan harapan bisa menemukan kepulauan rempah-rempah. Cornelis de Houtman ditunjuk sebagai pemimpin pelayaran besar yang akan dimulai pada 2 April 1595.

Empat kapal yang diberangkatkan adalah Amsterdam, Holandia, Mortius, dan Difen. Mereka menjadi orang-orang Belanda pertama yang mengarungi lautan menuju timur jauh. Namun, perjalanan tidak mudah. Banyak rintangan yang mereka hadapi, seperti penyakit, badai, konflik antar kru, dan kematian yang signifikan.

Setelah beberapa bulan perjalanan, armada Cornelis akhirnya berlabuh di Banten pada 27 Juni 1596. Saat tiba, hanya 249 orang yang selamat sampai tujuan. Cornelis dan kru mengenakan gelar kemiliteran untuk menambah wibawa mereka menghadapi penduduk setempat.

Banten saat itu adalah kerajaan maritim kuat yang menjadi pusat perdagangan lada. Pelabuhan Banten begitu hidup, dengan kapal-kapal dari berbagai negara berlabuh berdampingan. Para pedagang membawa kain sutra, keramik, rempah, dan perhiasan. Aroma lada dan kayu manis mengisi udara.

Kehadiran orang-orang Belanda awalnya disambut baik oleh penduduk setempat, termasuk oleh otoritas Kesultanan Banten. Namun, perilaku orang-orang Belanda yang tidak sopan dan seenaknya keluar masuk Kota Banten membuat penduduk berubah sikap. Akibatnya, banyak orang yang ditangkap dan dijebloskan ke penjara.

Hubungan semakin memanas ketika rombongan Belanda beberapa kali memicu keributan dengan pedagang setempat. Beberapa insiden penghinaan dan ancaman senjata terjadi. Pejabat Banten yang awalnya ramah mulai kehilangan kesabaran. Portugis juga turut bermain dalam situasi ini, menyebarkan kabar negatif tentang Houtman.

Cornelis gagal membaca situasi dan cara bicaranya yang keras memperburuk keadaan. Pihak Banten memutuskan hubungan dan menolak menjual lada dengan harga murah seperti tuntutan Houtman. Kekecewaan Houtman berubah menjadi tindakan gegabah, termasuk memerintahkan meriam kapalnya ditembakkan ke arah perahu-perahu kecil yang mendekat.

Akhirnya, pasukan Banten bersiaga dan Houtman diperintahkan meninggalkan tempat itu. Dengan kondisi diplomasi sudah buruk, Belanda pun terpaksa menarik jangkar dan meninggalkan Banten tanpa memperoleh banyak lada yang mereka harapkan.

Meskipun kedatangannya penuh konflik, kedatangan Cornelis de Houtman tetap menjadi tonggak penting karena meninggalkan dampak besar. Ekspedisi yang dipimpin Cornelis menjadi bukti bahwa Belanda sanggup mencapai kepulauan rempah tanpa bantuan Portugis. Laporan perjalanan Houtman menjadi dasar lahirnya VOC pada tahun 1602.

Meski misi Cornelis di Banten belum berhasil, inilah untuk pertama kalinya armada Belanda menemukan jalur dan akhirnya tiba di negeri surganya rempah-rempah. Kedatangan Cornelis de Houtman tetap menjadi penanda penting sebagai awal mula keterlibatan Belanda di Nusantara. Sebuah langkah kecil yang kelak berkembang menjadi jaringan kolonial besar.

Di pelabuhan Banten, jejak kedatangannya menjadi bagian dari kisah besar hubungan Nusantara dengan bangsa-bangsa Eropa. Sebuah babak yang dimulai oleh laki keras kepala bernama Cornelis de Houtman.

Related posts