Perkembangan Populasi Hewan Terancam Punah pada Tahun 2025
Tahun 2025 menjadi tahun yang penuh tantangan bagi keanekaragaman hayati di dunia. Di satu sisi, penemuan spesies baru dan upaya perbaikan populasi hewan terancam punah menunjukkan progres positif. Namun, di sisi lain, banyak hewan mengalami penurunan jumlah yang signifikan hingga masuk dalam kategori Endangered (terancam punah). Beberapa dari mereka bahkan tinggal di Indonesia, sehingga penting bagi kita untuk memahami penyebab dan kondisi mereka.
Berikut adalah beberapa hewan yang mengalami penurunan populasi dan status konservasinya turun ke tingkat Endangered pada tahun 2025:
-
Mauritius Cuckooshrike
Burung bernama Lalage typica ini merupakan hewan endemik Pulau Mauritius, sebelah timur Madagaskar. Area hidupnya tidak lebih dari 200 km persegi, dengan habitat utama berupa hutan hujan tropis antara 250—824 mdpl. Menurut data IUCN Red List yang diterbitkan pada 2025, populasi burung ini tidak lebih dari 420 individu dan terus menurun. Penyebab utamanya adalah adanya predator baru yang dibawa manusia serta sulitnya pertumbuhan tumbuhan asli yang menjadi sumber makanannya. -
Anjing Laut Bertudung
Spesies mamalia akuatik ini tinggal di kawasan Arktik, mulai dari Samudra Atlantik bagian utara hingga kutub utara. Data IUCN Red List menyebutkan bahwa anjing laut bertudung sudah masuk kategori Endangered pada 2025. Diperkirakan populasi saat ini hanya tersisa 7 persen dari jumlah pada 1990-an, yaitu sekitar 600 ribu ekor. Penurunan jumlah ini disebabkan oleh perubahan lingkungan dan aktivitas manusia di kawasan Arktik. -
Yellow-Banded Ringlet
Kupu-kupu kecil ini tinggal di Pegunungan Alpen, Eropa. Mereka memiliki sayap hitam atau cokelat dengan corak kuning dan bintik-bintik di ujungnya. Status konservasinya turun ke Endangered karena habitat yang semakin terfragmentasi. Meski belum diketahui jumlah pasti populasi mereka, dugaan kuat menyebutkan bahwa perubahan iklim dan alih fungsi lahan menjadi penyebab utamanya. -
Hiu Paus
Hiuh paus (Rhincodon typus) adalah ikan terbesar di Bumi dengan panjang mencapai 18—20 meter. Mereka tersebar di perairan tropis, termasuk perairan Indonesia. Status konservasinya turun ke Endangered setelah data IUCN Red List pada 2025 menunjukkan penurunan populasi sebesar 50—79 persen dalam tiga generasi terakhir. Penyebab utamanya adalah perburuan, tertabrak kapal, kerusakan laut, dan perubahan iklim. -
Pari Air Tawar Sungai Branco
Ikan air tawar ini hanya ditemukan di Sungai Branco, Brasil. Populasinya terus menurun akibat kerusakan sungai akibat aktivitas tambang. Diperkirakan pertumbuhan populasi sangat rendah, hanya 0,2—0,3 ekor per tahun. Pencatatan IUCN Red List pada 2025 menyebutkan bahwa mereka sudah masuk kategori Endangered.
Faktor Penyebab Penurunan Populasi Hewan Terancam Punah
Banyak faktor yang menyebabkan penurunan populasi hewan-hewan tersebut, salah satunya adalah aktivitas manusia. Eksploitasi alam, pencemaran, perubahan iklim, dan penggundulan hutan telah merusak ekosistem yang menjadi rumah bagi banyak spesies. Jika tidak ada tindakan nyata dari berbagai pihak, daftar hewan terancam punah akan semakin panjang. Bahkan, beberapa spesies bisa masuk ke kategori Critically Endangered seperti ratusan spesies lain di seluruh dunia.
Dengan kesadaran yang lebih besar, kita dapat membantu menjaga keanekaragaman hayati dan melindungi spesies-spesies langka yang masih ada di sekitar kita.

