Upaya Melindungi Pesut Mahakam di Sungai Mahakam
Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menunjukkan kepedulian terhadap populasi pesut di Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Ia berharap dapat melindungi spesies mamalia air tawar yang kini hanya tersisa 64 ekor. Angka ini sedikit meningkat dari jumlah sebelumnya, yaitu 62 ekor yang terdeteksi pada Juli lalu.
Hanif menjelaskan bahwa penurunan jumlah pesut menjadi indikator buruk bagi kesehatan ekosistem. “Jika ekosistem semakin cocok, maka populasi pesut akan meningkat. Sebaliknya, penurunan jumlah pesut menandakan ekosistem tidak lagi mendukung kelangsungan hidup mereka,” katanya saat ditemui di The Ritz-Carlton Hotel pada Selasa, 28 Oktober 2025.
Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) merupakan spesies endemik yang tinggal di anak-anak sungai Mahakam. Namun, jumlah mereka terus menurun akibat aktivitas angkutan batu bara dan penggunaan fasilitas stockpile. Untuk mengurangi dampak tersebut, Hanif menyarankan agar batu bara diangkut melalui jalur darat atau sungai utama, bukan melalui anak sungai yang menjadi tempat perlindungan pesut.
“Sungai Mahakam memiliki hampir 900 tongkang setiap hari. Tapi masih ada beberapa yang melewati jalur kecil, yang justru menjadi tempat pesut bersembunyi,” ujarnya.
Keterlibatan Komunitas Lokal dalam Konservasi
Untuk memperkuat upaya perlindungan pesut, Kementerian Lingkungan Hidup telah menunjuk empat tenaga ahli dari masyarakat lokal dan komunitas setempat. Mereka akan membantu dalam pencegahan ancaman terhadap pesut. Pemetaan sumber ancaman juga telah dilakukan, termasuk limbah tambang dan domestik, tabrakan dengan tongkang, serta praktik perikanan ilegal seperti penggunaan setrum dan bom ikan.
Konservasi pesut Mahakam telah menjadi prioritas nasional. Spesies ini masuk dalam kategori critically endangered di daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN). Hanif menegaskan pentingnya menjaga biodiversitas Indonesia, yang konon disebut sebagai nomor dua di dunia setelah Brasil.
Pentingnya Perlindungan Biodiversitas
Hanif mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga keberlanjutan lingkungan. “Ayo, selamatkan biodiversitas kita. Kita harus sadar bahwa ekosistem yang sehat adalah fondasi bagi kehidupan kita,” katanya.
Dengan langkah-langkah konkret dan kolaborasi antara pemerintah, komunitas lokal, dan para ahli, harapan untuk melindungi pesut Mahakam semakin besar. Ini menjadi langkah penting dalam menjaga keanekaragaman hayati dan menjaga keseimbangan alam di wilayah Kalimantan Timur.

