Naluri Kuliner Wakil Bupati: Petualangan Rasa Moh. Besar Bantilan di Kaili

Naluri Kuliner Wakil Bupati: Petualangan Rasa Moh. Besar Bantilan di Kaili

Kehidupan Seorang Wakil Bupati yang Menikmati Rasa Kuliner

Di balik citra formal seorang pejabat daerah, terselip sisi manusiawi yang jarang terekspos: selera, rasa, dan kenangan yang dibungkus dalam cita rasa kuliner. Wakil Bupati Tolitoli, Moh. Besar Bantilan, ternyata bukan hanya sosok politisi yang disiplin dan strategis, tetapi juga seorang penikmat kuliner sejati yang menelusuri rasa dengan ketulusan yang sama seperti ia menapaki jalan politiknya.

Diam-diam, Bantilan menghidupkan kembali makna sederhana dari “makan” sebagai pengalaman budaya. Ketika sebagian pejabat memilih restoran megah dengan lampu gantung dan piring porselen, ia justru mencari cita rasa dari tungku dapur yang masih berasap kayu. Dalam setiap perjalanan dinas dan langkah politiknya, kuliner menjadi semacam kompas kecil yang ia bawa ke mana pun.

“Perjalanan tanpa rasa itu hampa,” katanya suatu ketika kepada seorang sahabat dekat. “Kalau di daerah orang, saya harus tahu rasanya seperti apa kehidupan mereka.” Kebiasaan itu ia jaga bahkan ketika tugas membawanya ke Kota Palu, kota yang dikenal sebagai tanah “kaledo” — sup kaki sapi khas Kaili yang gurih, pedas, dan beraroma tajam. Namun bukan kaledo yang menarik perhatiannya, melainkan dua menu lain yang bagi banyak orang Palu adalah kenangan masa kecil: ayam bakar Biromaru dan uwe mpoi.

Ayam bakar Biromaru adalah kuliner khas dari sebuah kecamatan di Sigi, yang terkenal karena bumbunya yang meresap dalam, pedas-manis dengan aroma santan dan jeruk nipis yang kuat. Sementara uwe mpoi — atau dalam bahasa Kaili berarti “air asam mentah” — adalah kuah daging tulang muda yang diracik dengan campuran asam mentah, bawang, dan cabe rawit, menghasilkan rasa segar dan tajam di lidah.

Ketika dinas membawa Bantilan ke Palu beberapa waktu lalu, dua menu itu menjadi buruan utama. Ia tidak puas hanya mendengar rekomendasi sopir atau ajudan; ia ingin mencarinya sendiri. “Rasa sejati itu tidak bisa diantar, harus dijemput,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Suatu sore yang lembap di Palu, ia menelusuri gang sempit di bilangan Jalan Anoa. Lorong itu, kata orang, menyimpan warisan rasa turun-temurun. Di sanalah berdiri dapur kecil milik Ibu Ija, cucu dari salah satu perintis kuliner uwe mpoi.

Bantilan datang tanpa protokol, tanpa rombongan besar. Tubuhnya yang tinggi membuatnya harus sedikit membungkuk saat melintasi lorong sempit yang nyaris hanya muat dua orang berdiri berdampingan. Aroma asam dan kaldu yang mendidih di periuk tanah seketika memeluknya begitu masuk ke dapur sederhana itu.

Kali ini, selain ditemani sahabat dekatnya, Bantilan juga hadir bersama Caroline, S.E., istri tercinta yang sekaligus mantan kekasih yang telah memberinya dua buah hati. Kehadiran Caroline bukan hanya sebagai pendamping hidup, tetapi juga rekan seperjalanan yang setia di setiap langkah dinas dan perjalanan politiknya.

Caroline dikenal sederhana namun hangat. Ia tidak sekadar mengikuti suaminya, tetapi memahami bahwa setiap perhentian kuliner Bantilan memiliki makna. “Dia selalu tahu di mana saya bisa menemukan rasa yang saya cari,” ujar Bantilan sambil menatap istrinya dengan senyum tenang.

“Selamat menikmati serunya,” katanya ringan kepada temannya saat tiba di dapur Ibu Ija. Sementara Caroline, dengan sabar memperhatikan proses masak yang dilakukan Ibu Ija, sesekali menanyakan bahan dan cara racikan. “Saya suka kalau makanan punya cerita,” ujarnya pelan.

Ketika mangkuk uwe mpoi dihidangkan — kuah bening dengan potongan tulang muda dan irisan jeruk purut di atasnya — Bantilan mencicipinya pelan. Ekspresinya berubah menjadi senyum lebar. “Ini bukan sekadar makanan, ini perjalanan waktu,” ujarnya. Caroline pun tersenyum, seolah memahami bahwa setiap rasa yang ia temui adalah potongan perjalanan hidup suaminya.

Bagi Bantilan, kuliner bukan hanya soal kenyang, tapi tentang mengenal karakter daerah. Dari dapur kecil seperti milik Ibu Ija, ia melihat bagaimana budaya, ekonomi, dan ketulusan warga terjalin dalam satu piring. “Politik pun harus seperti ini,” katanya sambil menatap kuah di mangkuknya, “ada rasa, ada keseimbangan, dan harus dibuat dengan hati.”

Sikapnya yang sederhana itu mulai dikenal di lingkaran rekan politiknya. Beberapa koleganya bercerita, jika sedang rapat di luar daerah, Bantilan selalu mencari warung lokal, bukan restoran hotel. Kadang ia bahkan meminta waktu tambahan hanya untuk berbincang dengan penjual makanan tentang sejarah resep yang mereka buat.

Kini, setelah resmi ditetapkan sebagai Ketua DPD PAN Tolitoli, kebiasaan kulinernya itu justru menjadi cermin pendekatan politiknya: dekat dengan rakyat, memahami selera lokal, dan menghargai yang kecil. “Kalau ingin tahu masyarakatmu, duduklah di meja mereka,” begitu ia sering mengulang pepatah pribadinya.

Di Palu, kisah tentang Bantilan dan uwe mpoi kini sering diceritakan kembali oleh para penjual kuliner tradisional. Bagi mereka, kehadiran seorang pejabat di dapur sederhana bukanlah hal sepele — itu simbol penghargaan terhadap warisan rasa yang hampir terlupakan.

Caroline selalu hadir dalam kisah itu. Ia bukan hanya istri seorang wakil bupati, tetapi juga sosok yang menjaga kehangatan di tengah hiruk-pikuk politik. Ia mengingatkan Bantilan untuk tetap berpijak, untuk terus merayakan hal-hal kecil seperti semangkuk uwe mpoi di tengah perjalanan dinas yang melelahkan.

Dan bagi Bantilan sendiri, setiap sendok uwe mpoi bukan hanya pengalaman gastronomi, tetapi juga pengingat bahwa dalam kehidupan — seperti halnya dalam kuah asam khas Kaili itu — keseimbangan antara pedas, asam, dan gurih adalah kunci harmoni.

Sore itu, ketika ia selesai makan, ia menatap kembali dapur Ibu Ija yang temaram oleh cahaya lampu bohlam kuning. Caroline berdiri di sampingnya, menggenggam tangannya pelan. “Rasa yang jujur akan selalu menemukan jalannya,” katanya pelan. Sebuah kalimat yang sederhana, namun terasa dalam — diucapkan oleh seorang pemimpin yang tahu bahwa politik dan kuliner sama-sama tentang seni meracik kehidupan, dengan cinta dan kesetiaan yang tulus.


Related posts