Pengembangan Gizi Anak Melalui Dapur MBG di Kedaleman
Sebuah rumah yang dulunya berfungsi sebagai restoran kini berubah menjadi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dikenal dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Lokasinya berada di Jalan Akses Tol Cilegon Timur, Kedaleman, Cilegon, Banten. Dapur ini memproduksi sebanyak 3.050 porsi makanan bergizi setiap harinya.
Dapur tersebut bekerja hampir 24 jam, mulai dari persiapan bahan hingga pengiriman pagi hari. Setiap pagi, puluhan pekerja dengan seragam biru muda, masker, celemek merah, dan pelindung kepala tampak sibuk dalam proses pengemasan. Mereka menyiapkan tray, memasukkan nasi, ikan, sayur, daging, dan mengemasnya untuk dikirim ke sejumlah sekolah di Cilegon.
Di ruang lainnya, terlihat seorang petugas dapur sedang menyiapkan nasi putih di atas meja stainless steel besar, menggunakan wadah plastik berwarna biru dan merah muda. Menurut Kepala SPPG Kedaleman, Lukiah, pelaksanaan MBG melibatkan koordinasi rapi antara berbagai tim dari persiapan bahan hingga distribusi. Ia menjelaskan bahwa ada total 47 karyawan, tiga di antaranya merupakan tenaga nasional yang terdiri dari Kepala SPPG, ahli gizi, dan tenaga teknis.
Setiap hari, dapur Kedaleman menyiapkan 3.050 porsi makanan bergizi yang dikirim ke 12 sekolah, yaitu 4 TK, 7 SD, dan 1 SMP di wilayah Cilegon. Menu setiap hari berbeda-beda agar anak-anak tidak hanya makan bergizi tetapi juga menikmati variasi rasa.
Operasi Dapur yang Berjalan Tanpa Jeda
SPPG Kedaleman beroperasi hampir tanpa jeda. Asisten Lapangan SPPG Kedaleman, Imam Marif Maulana, menggambarkan ritme kerja dapur yang dimulai sejak siang hari hingga pagi berikutnya. Proses dimulai pukul 13.00 siang, saat bahan seperti sayur, daging, dan tempe datang. Setelah itu, tim langsung melakukan tahap persiapan dan pemotongan bahan pada pukul 14.00. Biasanya semua selesai sekitar tengah malam.
Proses memasak telah dimulai pukul 01.00 dini hari, kemudian dilanjutkan dengan pengemasan makanan pada pukul 03.00. Sambil masak, sebagian tim sudah mulai memorsikan dan mengemas makanan. Setelah makanan didinginkan, langsung dikirim ke sekolah-sekolah mulai pukul 07.00 pagi.
Dari total 3.050 porsi yang dihasilkan, 1.061 porsi merupakan porsi besar untuk siswa SD kelas atas dan SMP, sedangkan sisanya untuk TK dan SD kelas bawah.
Perhitungan Ilmiah dalam Setiap Porsi Makanan
Di balik setiap boks makanan bergizi, ada perhitungan ilmiah yang cermat. Ahli Gizi SPPG Kedaleman, Ana Herliana, bertugas memastikan bahwa setiap porsi makanan sesuai dengan standar gizi nasional. Untuk MBG, semua takaran gizi sudah diatur dalam petunjuk teknis. Ada dua kelompok umur besar, tapi dibagi lagi ke dalam delapan sasaran penerima.
Untuk TK/PAUD/RA rata-rata 328 kalori, SD kelas 1–3 sebesar 368,8 kalori, SD kelas 4–6 531 kalori, SMP 719 kalori, SMA 752,5 kalori, sedangkan ibu hamil dan menyusui masing-masing 818 kalori.
Sebagai ahli gizi, Ana tidak hanya menghitung angka kalori, tapi juga memastikan rasa dan kualitas makanan tetap terjaga. Setiap selesai masak, ia melakukan food test per batch. Uji rasa juga dilakukan saat pendistribusian sekitar pukul 07.00 dan 09.00 untuk memastikan makanan tetap layak konsumsi dan lezat.
Respons Positif dari Sekolah dan Orang Tua
Di lapangan, program MBG mendapat sambutan baik. Kepala SD Negeri Kedaleman III, Hafifah, menjadi salah satu saksi bagaimana anak-anaknya berubah sejak program ini dimulai. Program MBG di sekolah kami sudah berjalan sejak awal Oktober 2025. Baik guru maupun siswa sangat senang dan bersyukur dengan program ini.
Yang kami rasakan langsung, kualitas gizi anak-anak meningkat. Mereka jadi lebih semangat belajar, lebih kuat, dan kami percaya hal itu juga berpengaruh pada kecerdasan mereka. Sekolah ini memiliki 250 siswa dari kelas 1 hingga 5, dan hampir semuanya menerima manfaat MBG setiap hari.
Respons positif juga datang dari para orang tua. Orang tua sangat antusias. Banyak yang bilang, dari rumah kadang menu mereka belum lengkap gizinya. Tapi dengan MBG, anak-anak bisa makan makanan dengan gizi empat sehat lima sempurna.
Ada pula momen-momen kecil yang menyentuh hati. Yaitu saat para siswa tergesa ingin melihat menu buah dalam books MBG. Anak-anak paling senang kalau ada buah, terutama lengkeng. Mereka bilang, “Bu, ini enak banget!” karena mungkin jarang makan buah seperti itu di rumah.
Meski ada beberapa siswa yang memiliki alergi terhadap makanan laut, pihak sekolah dan SPPG menyesuaikan menu agar semua anak tetap mendapatkan gizi seimbang. Jika ada alergi, langsung diganti dengan bahan lain yang setara gizinya.

