Mengapa Anjing Rabies Mati Setelah Menggigit? Ini Jawabannya!

Mengapa Anjing Rabies Mati Setelah Menggigit? Ini Jawabannya!

Penyakit Rabies: Apa yang Perlu Diketahui?

Salah satu penyakit mematikan yang dapat ditularkan hewan kepada manusia adalah rabies. Sebagian besar kasus rabies yang terjadi pada manusia disebabkan oleh gigitan atau cakaran anjing. Bahkan, rabies menyebabkan puluhan ribu kematian setiap tahunnya berdasarkan data dari organisasi kesehatan dunia.

Namun, sering muncul pertanyaan tentang apakah anjing rabies akan mati setelah menggigit. Apakah kematian tersebut disebabkan oleh penyakit rabies itu sendiri atau ada faktor lain yang memengaruhinya? Berikut penjelasannya:

Bagaimana Anjing Bisa Terkena Rabies?



Penularan virus rabies terjadi ketika air liur mamalia yang terinfeksi masuk ke dalam tubuh manusia. Biasanya, penularan melalui luka gigitan hewan yang terinfeksi atau melalui selaput lendir, seperti mata, hidung, dan mulut. Di sejumlah negara, hewan liar seperti kelelawar, rubah, rakun, dan sigung menjadi penyebab utama penyebaran virus rabies.

Di beberapa daerah, seperti Asia dan Afrika, masih banyak anjing yang belum divaksin dan dibiarkan berkeliaran bebas. Kondisi ini membuat mereka menjadi sumber utama penyebaran virus rabies yang bisa menular ke anjing lain maupun ke manusia. Oleh sebab itu, semakin sering anjing berkontak dengan hewan liar, semakin tinggi risiko terkena rabies.

Gejala Rabies pada Anjing



Virus rabies tidak menimbulkan gejala secara langsung. Masa inkubasi atau waktu dari saat digigit hingga gejala muncul berkisar antara 1 minggu hingga 1 tahun. Menurut WHO, durasi ini dapat berbeda tergantung lokasi gigitan dan jumlah virus yang masuk ke tubuh.

Gigitan atau cakaran di kepala dan leher dapat mempercepat kerusakan otak dan sumsum tulang belakang karena merupakan lokasi trauma awal. Gejala awal rabies mirip flu, seperti demam, kelemahan otot, dan rasa kesemutan atau terbakar di area gigitan. Ketika virus terus menyerang sistem saraf pusat, infeksi dapat berkembang menjadi dua bentuk, yakni rabies ganas dan rabies lumpuh.

Rabies Ganas

Orang yang mengalami rabies ganas akan mudah tersinggung, hiperaktif, insomnia, kecemasan, agitasi, kebingungan, halusinasi, air liur berlebih atau berbusa di mulut, masalah menelan, dan takut air.

Rabies Lumpuh

Kira-kira 20 persen dari kasus rabies pada manusia merupakan jenis rabies lumpuh. Adapun, penderita akan mengalami kelumpuhan secara bertahap hingga akhirnya koma atau meninggal dunia.

Mengapa Anjing Rabies Mati Setelah Menggigit?



Anjing yang sudah terinfeksi rabies lalu menggigit hewan lain atau manusia pada akhirnya akan mati. Namun, kematian ini bukan karena telah menggigit, melainkan akibat virus rabies yang masuk ke dalam tubuh. Virus ini terus menyebar hingga tidak bisa disembuhkan.

Hal ini terjadi karena virus rabies yang menginfeksi tubuh akan secara bertahap merusak sistem saraf pusat pada hewan maupun manusia. Pada akhirnya, hal ini dapat berakibat fatal. Biasanya, anjing rabies yang menggigit atau agresif sudah masuk tahap akhir infeksi. Di sini, virus sudah menyebar ke seluruh tubuh dan menyerang otak, sumsum tulang belakang, hingga menyebabkan disfungsi neurologis yang parah.

Hewan yang Dapat Menularkan Rabies



Kasus rabies pada manusia paling banyak disebabkan oleh anjing, sekitar 99 persen. Namun, bukan berarti hanya anjing yang perlu diwaspadai. Beberapa hewan yang juga dapat menularkan rabies antara lain:

  • anjing
  • kelelawar
  • musang
  • kucing
  • sapi
  • kambing
  • kuda
  • kelinci
  • berang-berang
  • anjing hutan
  • rubah
  • monyet
  • rakun
  • sigung
  • marmot tanah

Jadi, anjing yang terinfeksi rabies pada akhirnya akan mati. Itu bukan karena telah menggigit hewan lain atau manusia, melainkan karena virus yang telah menyebar ke seluruh tubuh. Penyakit ini jarang bisa disembuhkan. Itu sebabnya, sangat penting untuk melakukan vaksinasi sebagai langkah pencegahan.

Related posts