Pemantauan Kinerja Laba Bank Banten oleh Wakil Ketua Komisi III DPRD Banten
Wakil Ketua Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Banten, Dede Rohana Putra, menyoroti kinerja keuangan Bank Banten dalam rapat RUPSLB yang berlangsung di Pendopo Gubernur Banten, KP3B, Kota Serang, Jumat (28/11/2025). Ia menegaskan bahwa Direksi Bank Banten harus mampu mencapai laba bersih pada tahun 2025 yang lebih tinggi dibandingkan capaian sebelumnya.
Jika target tersebut tidak tercapai, Dede menyatakan siap merekomendasikan pergantian posisi Direktur Utama. Ia menilai bahwa jika laba bersih tidak meningkat, maka para pengurus Bank Banten dinilai tidak bekerja secara optimal.
“Kalau tidak lebih dari tahun lalu, berarti Pak Bustami dan jajaran itu tidak bekerja. Saya akan rekomendasikan diganti direktur utamanya,” ujarnya.
Strategi Kerja Sama dengan Bank Jatim
Selain fokus pada kinerja laba, Komisi III juga mengapresiasi langkah strategis Bank Banten yang kini resmi masuk dalam Kelompok Usaha Bank (KUB) bersama Bank Jatim. Menurut Dede, KUB memberikan fleksibilitas permodalan tanpa harus menambah saham.
“Kalau Bank Banten butuh modal karena banyak permintaan kredit, tidak perlu tambah saham. Tinggal pinjam ke Bank Jatim, karena ini business-to-business,” jelasnya.
Dede juga menegaskan bahwa seluruh pemerintah daerah di Banten harus mulai memaksimalkan kerja sama dengan Bank Banten, terutama dalam hal pengelolaan kas daerah. Ia mengaku telah meminta Gubernur Banten dan Komisaris Bank Banten untuk menegur kabupaten/kota yang belum bekerja sama.
“Kalau ada ruang memberikan teguran atau surat peringatan kepada kabupaten/kota yang belum bekerja sama dengan Bank Banten, itu perlu dilakukan,” katanya.
Capaian Laba Bersih Bank Banten
Direktur Utama Bank Banten, Muhammad Bustami, menyampaikan bahwa laba bersih Bank Banten per akhir Kuartal III 2025 mencapai Rp10,7 miliar. Sementara laba bersih penuh tahun 2024 tercatat Rp39,33 miliar.
Bustami optimistis target tahun ini dapat terlampaui. Ia menjelaskan bahwa perhitungan laba tidak dapat dibagi rata per bulan karena masih ada beberapa outstanding pencatatan yang baru akan diakui pada akhir tahun.
“Bukan berarti 10 bulan Rp10 miliar lalu satu bulan Rp1 miliar ya, perhitungannya tidak seperti itu,” katanya.
“Ada beberapa outstanding yang baru akan masuk dan diterima di akhir tahun,” tukas Bustami.
Tantangan dan Harapan Masa Depan
Dalam konteks ini, Dede Rohana Putra menekankan pentingnya peningkatan kinerja Bank Banten sebagai salah satu lembaga keuangan yang menjadi andalan provinsi Banten. Ia menilai bahwa kesuksesan Bank Banten tidak hanya bergantung pada manajemen internal, tetapi juga pada kolaborasi dengan pemerintah daerah dan mitra bisnis lainnya.
Peningkatan laba bersih menjadi indikator utama bagi keberhasilan Bank Banten. Dengan adanya kerja sama strategis, seperti yang dilakukan dengan Bank Jatim, Bank Banten memiliki peluang besar untuk mencapai target yang ditetapkan.

