BANTENMEDIA, JAKARTA— Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) kembali menghiasi industri teknologi global. Banyak perusahaan besar di dunia, termasuk raksasa e-commerce Amazon dan Meta, melakukan perampingan besar-besaran terhadap ribuan karyawan. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari strategi efisiensi dan restrukturisasi perusahaan, terlebih di tengah meningkatnya penggunaan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Amazon menjadi salah satu perusahaan yang paling banyak melakukan pemangkasan tenaga kerja. Perusahaan asal Amerika Serikat ini berencana memangkas sekitar 14.000 karyawan korporat di seluruh dunia. Langkah ini merupakan bagian dari upaya restrukturisasi besar-besaran seiring adopsi teknologi AI di berbagai lini bisnis. Menurut laporan Reuters, jumlah karyawan yang terdampak bisa mencapai 30.000 orang.
Meski belum dikonfirmasi secara resmi, Amazon dalam surat elektronik kepada seluruh karyawan menyebutkan bahwa pemangkasan akan dilakukan dalam waktu dekat. Keputusan ini diambil untuk menyesuaikan jumlah tenaga kerja setelah kelebihan rekrutmen selama masa pandemi, serta menekan biaya operasional menjelang musim belanja akhir tahun.
Microsoft Corp. juga mengikuti langkah serupa. Perusahaan ini mengumumkan PHK terhadap sekitar 9.000 karyawan dalam gelombang kedua pada tahun ini. Keputusan ini diambil sebagai bagian dari upaya menekan biaya di tengah peningkatan investasi di sektor AI. Seorang juru bicara Microsoft menyatakan bahwa dampak PHK ini akan berdampak pada kurang dari 4% total tenaga kerja global perusahaan. PHK akan dilakukan lintas tim, wilayah, dan tingkat jabatan sebagai bagian dari upaya merampingkan proses dan memangkas lapisan manajemen.
“Kami terus melakukan penyesuaian organisasi yang diperlukan agar perusahaan dan tim kami berada dalam posisi terbaik untuk sukses di pasar yang dinamis,” ujar juru bicara tersebut. Sebelumnya, Microsoft telah melakukan PHK massal pada Mei lalu yang berdampak pada 6.000 karyawan, terutama di posisi produk dan rekayasa teknis.
Di sisi lain, Intel Corp. juga mengonfirmasi akan melakukan PHK massal terhadap 15% tenaga kerja globalnya pada kuartal terakhir tahun ini. Berdasarkan laporan pendapatan terbaru, sebagian besar pemangkasan tersebut telah dimulai, terutama di unit Folsom dan Santa Clara di California, serta di fasilitas Oregon, Arizona, Texas, dan Israel. Intel berharap hanya memiliki 75.000 karyawan inti pada akhir tahun ini, turun signifikan dari 99.500 karyawan pada akhir 2024. Dengan demikian, perusahaan akan mengurangi jumlah tenaga kerjanya hingga 24.500 orang.
Selama beberapa tahun terakhir, Intel kehilangan pangsa pasar akibat meningkatnya dominasi pesaing seperti TSMC dan kesulitan memenuhi tuntutan industri AI. Tahun lalu, Intel juga telah memangkas sekitar 15.000 karyawan. “Perubahan ini dirancang untuk menciptakan organisasi yang bergerak lebih cepat, lebih datar, dan lebih gesit,” kata Intel.
Meta Platforms Inc. turut melakukan pemangkasan tenaga kerja. Perusahaan induk Facebook itu berencana memangkas sekitar 600 karyawan di divisi AI Superintelligence Labs pada bulan depan. PHK ini melibatkan tim Fundamental Artificial Intelligence Research (FAIR), divisi produk AI, dan infrastruktur AI.
Data dari akun analis pasar The Kobeissi Letter di X menunjukkan bahwa sejumlah perusahaan besar juga mengumumkan rencana PHK besar-besaran dalam beberapa bulan terakhir. Berikut daftanya:
- UPS sebanyak 48.000 karyawan,
- Nestle 16.000 karyawan,
- Accenture 11.000 karyawan,
- Ford 11.000 karyawan,
- Novo Nordisk 9.000 karyawan,
- PwC 5.600 karyawan,
- Salesforce 4.000 karyawan,
- Paramount 2.000 karyawan,
- Kroger 1.000 karyawan,
- dan Applied Materials 1.444 karyawan.
“Pasar tenaga kerja jelas melemah,” tulis The Kobeissi Letter dalam unggahan di X.

