Air Mati atau Tekanan Hilang? Bahasa dan Logika Sains Bangsa Kita

Air Mati atau Tekanan Hilang? Bahasa dan Logika Sains Bangsa Kita

Bahasa Indonesia sebagai Cerminan Pikiran

Tiga ikrar Sumpah Pemuda yang dilafalkan pada 1928 menjadi fondasi persatuan kita. Dan sumpah yang ketiga, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia, terasa semakin relevan di era yang justru kerap melupakan bahasa sendiri.

Bahasa Indonesia kini diuji bukan oleh penjajahan asing, melainkan oleh kelalaian dalam berpikir dan berkomunikasi yang kabur arah dan logika. Bahasa, sejatinya, bukan sekadar alat bicara, tetapi cermin cara berpikir. Dari sanalah logika terbentuk. Ilmu pengetahuan, teknologi, dan industri, yang semuanya berakar pada pola pikir sistematis, tak mungkin berkembang tanpa bahasa yang jernih dan teratur.

Sayangnya, realitas kita sering menunjukkan sebaliknya. Sebagai dosen teknik, saya sering membaca laporan, tesis, atau disertasi mahasiswa yang membuat kening berkerut bukan karena isinya rumit, tetapi karena struktur kalimatnya berantakan. Subjek, predikat, dan objek seperti sedang bermain petak umpet. Kalimatnya panjang, berliku, dan tidak tahu ke mana ujungnya. Ketika hasilnya diterjemahkan dengan mesin, rusaklah sudah makna yang hendak disampaikan. Bahasa Indonesianya saja tak jelas, apalagi versi Inggrisnya.

Bahasa yang Rusak Muncul dari Pikiran yang Kabur

Bahasa yang rusak lahir dari pikiran yang kabur. Pikiran yang kabur tak akan mampu membangun teknologi yang presisi. Ilmu menuntut ketepatan, dan ketepatan lahir dari kalimat yang jelas maknanya. Kesalahan kecil sering kita anggap remeh. Padahal, dari kesalahan preposisi seperti “kepada” dan “terhadap”, atau “di dalam” dan “pada”, lahir kebiasaan berpikir yang tidak presisi. Bahkan media nasional pun sering terjebak di sini. Wartawan televisi dan penyiar radio, dalam siaran langsung yang serba cepat, kerap salah ucap. Sekilas memang sepele, tapi lama-lama kita terbiasa, dan bisa jadi, akan kehilangan kepekaan terhadap struktur bahasa yang benar.

Ada pula “penyakit keren” yang lebih berbahaya: mencampur istilah asing agar tampak modern. Kata deadline, update, output, improvement seolah lebih intelektual ketimbang “batas waktu”, “pembaruan”, “keluaran”, atau “peningkatan”. Bahasa Inggris memang efisien, tetapi jika digunakan tanpa nalar, justru membuat pikiran kita bergantung pada logika asing. Dan di situlah jati diri bangsa mulai tergerus, bukan karena larangan, tetapi karena kelupaan.

Contoh Nyata dari Kebiasaan Berbahasa

Saya teringat pengalaman saat awal menuntut ilmu di Jerman. Saya melihat anak lelaki berusia sembilan tahun berteriak pada ibunya sambil menunjukkan selang air saat menyiram tanaman di halaman rumahnya, “Mutti, das Wasser hat keinen mehr Druck!”, “Ibu, airnya sudah tidak punya tekanan lagi!” Saya tercengang. Anak sekecil itu sudah terbiasa menggunakan istilah teknis dengan alami. Saat saya sampaikan keheranan ini, Professor saya malah balik bertanya, “Apa yang aneh? Memangnya di negaramu anak-anak atau kamu bagaimana mengatakannya?” Saya jawab, “Kami bilang airnya mati.” Profesor saya tersenyum heran, “Air bisa mati?”

Seketika saya sadar: kami terbiasa mendeskripsikan fenomena dengan bahasa perasaan, bukan bahasa fakta. Sekarang kita terbiasa bilang “lampunya, atau listriknya, atau airnya mati”. Mungkin lama-lama anak cucu kita akan bilang “listriknya ngambek”, “airnya payah”. Kita memanusiakan benda, bukan memahami sifat ilmiahnya. Dan di situlah akar jauhnya: kita (dan juga anak-anak kita) tumbuh dengan bahasa yang tidak mengasah logika sains.

Pentingnya Bahasa dalam Pembentukan Pola Pikir

Kalimat yang logis membentuk pikiran yang sistematis. Jika sejak dini anak-anak kita terbiasa menyebut “tekanan air menurun” alih-alih “airnya mati”, mereka akan tumbuh dengan pola pikir teknologi yang lebih terstruktur. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga alat berpikir ilmiah. Tentu, pembiasaan ini pada awalnya bukan hal yang mudah. Tetapi, bukankah semua kebiasaan baru juga memiliki “ongkos kesulitan” seperti demikian?

Di masa lalu, kita pernah punya figur seperti almarhum Yus Badudu, sosok yang tidak segan menegur kesalahan berbahasa di layar kaca dengan santun namun tegas. Kini, di tengah media sosial yang penuh “bahasa instan”, kepemimpinan bahasa seperti itu terasa langka. Saya pribadi merasakan kerinduan akan kehadirannya: Kehadiran tokoh bahasa yang mengingatkan dengan tenang. Tegas, sedikit menggurui, tapi memang kita perlukan. Seorang “juru dakwah bahasa”.

Bahasa dalam Konteks Hiburan dan Media

Di tengah kita ada seorang pelawak yang terkenal menirukan gaya bicara seorang pejabat tinggi dengan berkata: “Dengan demikian, seringkali, bagaimanapun kemudian justru makanya daripada itu…”, dengan pengucapan cepat dan dialek khas daerah tertentu di Jawa. Cukup membuat kita tersenyum. Dulu, lawakan seperti itu bisa dianggap tabu, karena pejabat tersebut sangat berkuasa dan berwibawa. Namun, sekarang terasa jenaka sekaligus mendidik.

Ada pula lelucon tentang kata “semangkin” atau akhiran “kan” yang diucapkan dengan “ken” seseolah mengingatkan kita pada seseorang yang pernah sangat berjasa pada negeri ini. Kami yang “senior” tersenyum geli mengingatnya. Saya tak yakin generasi muda sekarang paham di mana letak lucunya, tapi mungkin di situlah tanda zaman: bahasa yang dulu bisa jadi bahan tawa, kini justru tidak lagi dikenali. Anehnya, fenomena ini muncul kembali pada beberapa pejabat kita, bahkan pengusaha yang menguasai media massa.

Penutup

Saya bukan ahli bahasa. Saya hanya dosen teknik yang gelisah melihat fenomena ini. Saya juga masih harus terus belajar bagaimana berbahasa Indonesia yang baik dan benar, lisan maupun tulisan.

Namun, satu hal jelas bagi saya: penggunaan bahasa Indonesia yang benar adalah cerminan pikiran yang teratur. Dan sebaliknya, berlatih berbahasa dengan benar akan membuat pikiran kita lebih jernih dan logis. Bahasa boleh santai, boleh lugas, tetapi harus tetap tertata agar lawan bicara memahami maksud kita. Itu saja sudah cukup untuk membangun komunikasi yang sehat, bahkan pembangunan yang beradab.

Bangsa besar tidak hanya ditopang oleh kehadiran jalan tol, pabrik-pabrik modern dan kereta super cepat. Memodernkan bangsa kita memerlukan bahasa yang mampu menampung logika, sains, dan peradaban. Di balik setiap rumus, algoritma, dan inovasi teknologi, selalu ada bahasa yang menuntun cara berpikirnya.

Karena itu, di hari Sumpah Pemuda ini, mari kita perbarui satu ikrar kecil dalam hati: menjunjung bahasa Indonesia bukan hanya dengan kebanggaan, tetapi dengan kecermatan, ketertiban, dan kecintaan.

Related posts