Museum Louvre: Sejarah Pencurian yang Menggegerkan Dunia
Museum Louvre di Paris, yang menjadi salah satu museum paling terkenal di dunia, menyimpan ribuan karya seni dan benda-benda bersejarah yang bernilai tak ternilai. Dengan pengamanan yang ketat, terutama setelah dibangun pada akhir abad ke-12, tidak banyak orang yang mengira bahwa tindakan kejahatan bisa terjadi di dalamnya. Namun, nyatanya, sepanjang sejarahnya, Louvre pernah beberapa kali menjadi sasaran pencurian. Berikut adalah beberapa kasus pencurian yang paling menghebohkan.
1. Pencurian Lukisan Mona Lisa pada 1911
Saat ini, lukisan Mona Lisa menjadi salah satu karya seni paling populer di Museum Louvre. Namun, pada awalnya, lukisan ini jarang diperhatikan oleh pengunjung. Kepopulerannya justru meningkat setelah lukisan ini dicuri pada tahun 1911. Pelakunya adalah Vincenzo Peruggia, seorang imigran Italia yang juga mantan pegawai museum.
Pada malam 20 Agustus 1911, Vincenzo memasuki museum menggunakan seragam kerja lamanya. Ia lalu bersembunyi di lemari penyimpanan semalaman dan keluar keesokan paginya saat museum nyaris kosong. Ia kemudian mengambil lukisan Mona Lisa dan membungkusnya dengan kain putih. Karena seringnya karya seni dipindahkan, Vincenzo bisa keluar tanpa dicurigai.
Dua hari kemudian, museum menyadari bahwa lukisan itu hilang. Sayangnya, meski berbagai upaya dilakukan, lukisan tersebut tetap raib. Akhirnya, pada 1913, lukisan itu ditemukan kembali saat Vincenzo menawarkan kepada sebuah galeri di Italia. Dalam persidangan, ia mengatakan bahwa pencurian itu bukan untuk keuntungan pribadi, melainkan karena rasa nasionalisme. Ia merasa bahwa lukisan itu seharusnya menjadi milik Italia.
2. Penjarahan Nazi Selama Perang Dunia II
Ketika pasukan Nazi menduduki Prancis pada 1940, mereka berpikir akan mudah mengambil harta karun dari Museum Louvre. Namun, alih-alih mengambil banyak barang berharga, mereka justru menemukan museum dalam keadaan nyaris kosong. Ternyata, Jacques Jaujard, direktur museum nasional Prancis, telah melakukan evakuasi besar-besaran tiga hari sebelum Prancis jatuh ke tangan Jerman.
Bekerja sama dengan staf dan mahasiswa seni, Jacques memindahkan karya seni seperti lukisan, perhiasan, dan patung ke dalam 1.862 peti kayu. Peti-peti itu kemudian diangkut ke tempat persembunyian dengan 203 kendaraan. Beberapa karya seni yang ukurannya terlalu besar harus ditinggalkan. Akibatnya, Nazi mencuri banyak karya seni milik keluarga Yahudi. Kabar baiknya, setelah Perang Dunia II berakhir, semua karya yang disembunyikan dikembalikan.
3. Pencurian Perhiasan Antik pada 1966
Dua puluh tahun setelah Perang Dunia II, Museum Louvre kembali dihadapkan dengan aksi perampokan. Kali ini, perampokannya terjadi di New York, Amerika Serikat. Pada Mei 1966, lima buah perhiasan antik berbahan emas dan bertakhtakan batu rubi dinyatakan hilang dari kargo pesawat Bandara John F Kennedy.
Awalnya, perhiasan ini dipamerkan di sebuah museum di Virginia sebagai koleksi pinjaman dari Louvre. Setelah pameran selesai, perhiasan itu rencananya akan dikembalikan ke Paris. Sayangnya, sebelum sampai ke Paris, perhiasan tersebut sudah raib. Dua bulan kemudian, polisi berhasil meringkus tiga pelaku dan menemukan perhiasan tersebut di dalam sebuah kantong belanjaan di New York.
4. Pencurian Perhiasan Era Napoleon pada 2025
Berbeda dengan masa lalu, pengamanan di Museum Louvre saat ini cukup ketat. Namun, hal itu belum cukup untuk melindungi berbagai koleksinya yang berharga. Pada 19 Oktober 2025, empat orang pencuri mengenakan balaklava berhenti di pinggir jalan di luar museum pukul 09.30 pagi. Dua di antaranya menaiki tangga mekanis yang dipasang dari kendaraan dan diarahkan ke Galerie d’Apollon.
Mereka kemudian membobol jendela, mengancam para penjaga, lalu memecahkan dua kotak kaca panjang berisi perhiasan. Dalam waktu 4 menit, para pencuri berhasil membawa delapan buah perhiasan berharga berupa kalung dan sepasang anting yang diberikan oleh Napoleon I kepada Permaisuri Marie-Louise. Mereka juga membawa diadem berhiaskan 2 ribu berlian, bros, dan pita hias milik istri ketiga Napoleon III, serta 1 set perhiasan safir milik ratu terakhir Prancis, Marie Amelie.
Gak hanya itu, para pencuri juga berusaha membawa mahkota berlapis 1.354 berlian dan 56 zamrud. Untungnya, mahkota gak berhasil dibawa dan ditemukan dalam keadaan rusak di lokasi kejadian. Ketika alarm berbunyi pukul 09.38, para pencuri kabur dengan menggunakan skuter yang menunggu di pinggir jalan.
Pencurian di museum sebesar Louvre memang sangat disayangkan, terutama jika barang yang dicuri adalah perhiasan bersejarah yang gak ternilai harganya. Masalahnya, berbeda dengan lukisan atau patung, perhiasan bisa dipecah dan dirangkai ulang sehingga tampilannya gak bisa dikenali. Jika itu sampai terjadi, akan sulit untuk mengembalikan perhiasan itu ke museum lagi.

