Dr Ali Fadillah: De Houtman Berani Hadapi Bahaya Saat Menuju Banten

Dr Ali Fadillah: De Houtman Berani Hadapi Bahaya Saat Menuju Banten

BANTENMEDIA – Empat kapal besar milik Belanda yang tiba di Banten pada 24 Juni 1596, ternyata membawa perkembangan baru dalam teknologi maritim di Nusantara.

Tidak hanya itu, De Houtman juga dianggap berani menghadapi risiko karena harus melewati Lautan Atlantik dan Samudera Hindia agar bisa tiba di Kepulauan Rempah di wilayah Timur Jauh.

Hal tersebut disampaikan oleh Arkeolog Dr Ali Fadillah dalam acara diskusi yang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Sasaka Cibanten Naritis Cai Mapag Kabantenan, yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VIII di Aula Terbuka Vihara Avalokitesvara, Banten Lama pada hari Sabtu, 25 Oktober 2025.

Di hadapan peserta dari Untirta, UPI, Universitas Setia Budhi, para guru sejarah serta komunitas budaya Banten, dosen STISIP Banten Raya dan Universitas Setia Budhi menjelaskan mengenai kapal-kapal Cornelis de Houtman dan VOC di Banten.

“Memimpin kapal Mauritius, Hollandia, Amsterdam, dan Duijfke yang diawaki oleh 249 orang, Cornelis de Houtman dapat dianggap sebagai pelaut pionir Belanda yang berhasil menembus Lautan Atlantik dan Samudra India menuju Kepulauan Rempah di Timur Jauh,” kata Ali.

Pendiri Banten Heritage juga menjelaskan, empat kapal besar berjenis Galleon yang didanai oleh Compagnie van Verre menjadi ciri khas yang membedakan dari Jung Jung Nusantara hasil karya Lasem Jawa Timur serta Jung China buatan Tiongkok, yang biasanya melemparkan sauhnya di Teluk Banten.

Selain memiliki bentuk yang besar dengan dua tiang, kapal-kapal tersebut juga dilengkapi dengan lebih dari 60 meriam. Armada yang dikirim dari Amsterdam hanya memiliki satu tujuan, yaitu Banten.

“Dengan hanya singgah di Bonne Esperance Afrika Selatan dan Saint Agustine Madagaskar, keempat kapal Belanda benar-benar menghadapi bahaya, karena selama lebih dari sebulan berada di tengah samudera hanya untuk mencapai satu tujuan, Pulau Rempah,” katanya.

Keberadaan Mauritius, Hollandia, Amsterdam, dan Duijfke yang berlabuh lama di Teluk Banten sebelum melanjutkan perjalanan ke Jakarta, Jepara, dan Bali, telah meningkatkan pemahaman masyarakat Banten mengenai teknologi maritim sejak akhir abad ke-16.

“Peristiwa sejarah ini seharusnya menjadi bagian dari subjek penelitian sejarah maritim di Banten dan juga Indonesia,” tutupnya.

Related posts