BANTENMEDIA – Badan PBB untuk anak-anak (UNICEF) melaporkan bahwa rata-rata 28 anak tewas setiap hari di Gaza. Angka ini setara dengan satu ruang kelas yang hilang setiap hari akibat serangan Israel dan pembatasan bantuan kemanusiaan yang terus berlangsung.
Sejak perang meletus pada 7 Oktober 2023, lebih dari 18 ribu anak-anak telah gugur. Angka ini merupakan bagian dari total korban jiwa di Palestina yang mencapai hampir 61 ribu orang, sementara lebih dari 150 ribu orang lainnya mengalami cedera, menurut laporan.The New Arab pada Selasa (5/8/2025).
1. Ratusan ribu anak di Gaza menghadapi risiko kekurangan nutrisi
Krisis pangan semakin memburuk akibat pembatasan bantuan yang menghambat pasokan kebutuhan pokok bagi penduduk sipil. Israel dilaporkan hanya memperbolehkan masuk sekitar 86 truk bantuan setiap hari, jauh di bawah standar minimum sebanyak 600 truk yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Keadaan ini menyebabkan seluruh balita di Gaza berada dalam situasi yang sangat rentan. PBB mengingatkan bahwa sekitar 320 ribu anak di bawah lima tahun kini memiliki risiko tinggi mengalami kekurangan gizi parah.
Kondisi darurat tersebut semakin memburuk akibat kegagalan infrastruktur kesehatan yang penting. Diperkirakan hanya 15 persen dari seluruh layanan pelayanan gizi di Gaza yang masih bisa berjalan dalam situasi kerusakan ini, menurut laporan.TRT Global.
2. Anak-anak di Jalur Gaza mengalami luka batin akibat konflik perang
Salah satu di antaranya adalah Lana, seorang anak perempuan berusia 10 tahun dengan rambut dan kulit yang berwarna putih karena kondisi depigmentasi yang disebabkan oleh trauma.
Ia berbicara kepada bonekanya dan bertanya, “Apakah kamu ingin bermain denganku, atau kamu akan menjadi seperti anak-anak lain?” Kondisi kesehatan mentalnya sangat parah,” ujar Mai Jalal al-Sharif, ibu Lana, dilansirAl Jazeera.
Banyak anak lainnya harus kehilangan masa kanak-kanak mereka guna bertahan hidup di tengah konflik. Mereka terpaksa meninggalkan sekolah dan waktu bermain yang seharusnya menjadi hak dasar mereka demi membantu keluarga.
3. Permintaan gencatan senjata terus diabaikan
Lebih dari 150 lembaga kemanusiaan bekerja sama dengan para ahli PBB telah meminta gencatan senjata yang tetap. Gencatan senjata diperlukan agar bantuan dapat didistribusikan dan proses pemulihan bagi para korban bisa dimulai.
Tentara Israel telah menguasai sekitar 75 persen area Gaza. Namun, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dilaporkan berencana memperluas operasi militer ke wilayah lain yang saat ini penuh dengan pengungsi.
Berdasarkan pernyataan Direktur Regional LSM Save the Children, Ahmad Alhendawi, Gaza kini menjadi wilayah yang sangat berbahaya bagi anak-anak.
“Gaza menjadi tempat peristirahatan bagi anak-anak pada hari ini dan bagi harapan mereka. Ini adalah mimpi buruk yang tak terhindarkan bagi setiap anak di Gaza,” kata Alhendawi.
