Psikolog Ungkap Bahaya Motivasi “Semua Bisa Jadi Miliarder dengan Kerja Keras”

Psikolog Ungkap Bahaya Motivasi “Semua Bisa Jadi Miliarder dengan Kerja Keras”

BantenMedia– Belakangan ini, semangat “setiap orang bisa menjadi miliarder jika bekerja keras” kembali menjadi perbincangan di media sosial.

Pesan ini sering diungkapkan oleh tokoh publik dan pelatih motivasi, seakan-akan kekayaan hanya tergantung pada kemauan dan usaha individu.

Read More

Namun, cerita semacam ini mendapat kritik karena dianggap mengabaikan kenyataan hidup banyak orang yang telah berusaha keras, tetapi masih kesulitan memenuhi kebutuhan pokok.

Kemudian, apa penjelasan psikolog mengenai hal tersebut?

Penjelasan psikolog

Psikolog dan dosen dari Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, Ratna Yunita Setiyani Subardjo, menyampaikan bahwa narasi motivasi tersebut cenderung tidak adil dan tidak bisa diterapkan secara umum.

“Kenyataannya, tidak semua orang memulai dari posisi yang sama,” kata Ratna saat dihubungi.BantenMedia, Kamis (31/7/2025).

“Banyak orang harus bekerja dari pagi hingga malam hanya untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, sementara yang lain memiliki kesempatan untuk fokus membangun aset sejak usia muda karena kebutuhan dasar mereka sudah terpenuhi,” tambahnya.

Pada kondisi semacam ini, Ratna menegaskan, usaha keras saja tidak selalu cukup, karena akses terhadap kesempatan, kesehatan, pendidikan, serta bantuan sosial juga berpengaruh terhadap hasil akhir.

Menurutnya, narasi motivasi juga bisa berdampak buruk terhadap kesehatan mental individu yang telah berusaha keras namun masih kesulitan memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Beberapa dampaknya, seperti:

  • Rasa bersalah dan kegagalan yang tidak adil karena merasa kurang baik atau kurang berusaha dengan keras
  • Kekhawatiran dan tekanan akibat merasa tidak mampu mencapai tujuan yang dianggap sederhana dalam narasi tersebut
  • Menurunnya semangat dan rasa percaya diri akibat merasa gagal meskipun telah berusaha dengan keras.

Dapat menimbulkan rasa bersalah

Selain itu, Ratna menyampaikan bahwa semangat “siapa saja bisa menjadi miliarder selama bekerja keras” juga bisa memicu rasa bersalah atau kegagalan yang tidak adil terhadap banyak orang.

Karena, mereka memiliki latar belakang ekonomi yang beragam.

“Motivasi seperti ini bisa memicu rasa bersalah atau kegagalan pada individu-individu tersebut,” kata Ratna.

Alasannya, narasi tersebut tidak memperhatikan faktor-faktor struktural yang berpengaruh terhadap kemampuan seseorang dalam meraih kesuksesan, seperti akses terhadap pendidikan, sumber daya, dan jaringan.

“Narrasi tersebut juga mengabaikan perbedaan individu terkait kemampuan, bakat, dan peluang,” lanjutnya.

Cara menyikapi narasi motivasi

Jika seseorang memberikan motivasi tersebut, Ratna menekankan perlunya bersikap realistis dan tidak melupakan kenyataan.

“Tidak melupakan kenyataan dan tetap bersikap realistis, karena titik awal setiap orang berbeda,” ujar Ratna.

Ia memberikan saran agar seseorang tidak merasa gagal dan tetap menjaga realistis setelah mendengar motivasi yang beredar.

Beberapa hal yang direkomendasikan Ratna, antara lain:

  • Mengakui bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh usaha keras, tetapi juga oleh berbagai faktor lain seperti peluang, akses terhadap sumber daya, dan dukungan dari lingkungan sosial.
  • Mengakui bahwa setiap individu memiliki keunggulan dan kelemahan, serta bahwa keberhasilan bisa dinilai melalui berbagai macam cara
  • Fokus pada perkembangan dan prestasi pribadi, bukan mengukur diri dengan orang lain.
  • Menciptakan kesadaran bahwa kegagalan dan tantangan merupakan bagian dari proses belajar serta berkembang, serta bahwa kita mampu memperoleh pelajaran dari kesalahan dan pengalaman yang dihadapi.

Related posts