– Juru masak yang bernama Chef Michelle Santoso belakangan viral karena menyerukan dukungan kepada Palestina lewat jalur kuliner.
Chef Michelle Santoso menyebut bahwa banyak makanan Palestina yang dicuri dan diklaim oleh Israel.
Cuplikan videonya itu pun beredar viral di media sosial X (dulu Twitter).
Solusi Ratusan Warga Terjerat Rentenir, Utang Rp500 Ribu Bengkak Jadi Rp40 Juta, Dipasangi Spanduk
Diketahui, video tersebut diunggah oleh akun @erlanishere, Minggu (16/3/2025) kemarin.
Video ini juga adalah cuplikan dari tayangan wawancara Chef Michelle Santoso dengan Narasi Newsroom.
Dalam potongan wawancara ini, Chef Michelle Santoso menekankan bahwa orang-orang Palestina juga berjuang untuk menjaga kekayaan kulinernya.
“Makanan Palestina itu hampir punah, karena itu resep-resepnya diambil, dibilangnya rebrand lah, oh ini Israeli,” ucapnya, melansir
TribunnewsBogor.com
.
“Padahal sebenernya, actually, enggak. Mereka itu resepnya dari nenek moyangnya, nenek moyangnya belajar dari siapa,” jelas Michelle.
“So, in a way, it’s just Palestinian food and they are trying to keep it alive (Jadi di satu sisi, itu hanya makanan Palestina dan orang-orang Palestina berusaha menjaganya agar tidak punah),” imbuh dia.
“Orang Palestina itu terbuka juga. Oh, ada orang dari luar yang ingin mempelajari makanan Palestina,” tutur Michelle.
“Jadi, they’re very encouraging (mereka sangat bersemangat). If you need recipe, let me know. I’d be happy to give you one (Jika Anda butuh resep, beritahu aku. Dengan senang hati akan memberi Anda satu resep.),” kata Michelle.
Saat artikel ini ditulis, cuitan akun @erlanishere ini sudah mendapat lebih dari 8.200 klik tombol likes dan lebih dari 78.200 tayangan.
Sementara itu tayangan di kanal YouTube Narasi Newsroom yang diunggah pada Minggu (16/3/2025), telah dilihat sebanyak 70 ribu kali.
Video tersebut juga ramai menuai beragam komentar netizen.
Sebelumnya, Chef Michelle Santoso pernah disorot oleh media Arab, Arab News, pada April 2024 lalu.
Hal ini lantaran ia mengunggah video percobaan pertamanya membuat makanan khas Palestina, maqluba, pada November 2023, atau satu bulan setelah agresi Israel ke Palestina dimulai pada 7 Oktober 2023.
Video dirinya membuat maqluba Palestina ini meraup lebih dari 2,3 juta tayangan di Instagram.
Hal itulah yang menjadi titik mula dirinya mengunggah percobaannya memasak beragam makanan khas Palestina.
Beberapa masakan khas Palestina yang pernah dimasaknya, meliputi mujaddara, sup freekeh, dan Nabulsi knaffeh.
Michelle pun mengungkap bahwa mempraktikkan dan mengunggah konten tentang masakan Palestina menjadi salah satu bagian dari aktivisme untuk menyuarakan kemerdekaan Palestina.
“Setelah kejadian 7 Oktober, saya merasa benar-benar tersesat dan merasa benar-benar tidak berdaya.”
“Dan saya pikir banyak dari kita yang merasakan hal yang sama saat itu. Jadi, saya berpikir, kenapa kita tidak merayakan budaya dan warisan Palestina?” paparnya, dikutip dari Arab News.
“Menurut saya, alasan saya melakukan itu adalah karena saya ingin memanusiakan suara Palestina, atau Palestina secara umum, karena makanan adalah pintu gerbang,” sambungnya
“Saya benar-benar merasa tidak melakukan banyak hal, tetapi itu ternyata sangat berarti bagi orang lain,” katanya.
Menurutnya, banyak orang yang juga bingung kenapa dirinya aktif bersuara untuk Palestina lantaran agama dan keturunannya.
“Saya pikir, saya juga sempat membuat banyak orang bingung, karena saya orang China dan beragama Kristen.”
“Jadi, orang-orang berpikir, ‘Mengapa dia berbicara tentang Palestina? Dan juga, mengapa dia memasak makanan Palestina?’.”
“Sehingga, menurut saya, kebingungan ini mungkin menjadi alasan orang-orang menonton video saya,” jelasnya.
“Tanpa saya sadari saya telah (terlibat) dalam aktivisme makanan, tetapi niat saya adalah untuk membicarakannya.”
“Jadi, itu adalah bentuk aktivisme dan karena makanan adalah pelestarian, itu juga merupakan perlawanan,” tutup Michelle.
Kelompok Pengamen Jalanan Viral Minta THR ke Pedagang Pasar Lewat Surat, Polisi Bantah Pemerasan
Diketahui, Michelle Santoso adalah seorang chef keturunan Indonesia-Tionghoa.
Ia lahir di Hong Kong dan tumbuh besar di Indonesia.
Mengutip dari laman profil LinkedInnya, Michelle Santoso meraih gelar Bachelor of Design di Raffles College of Design and Commerce.
Wanita berusia 36 tahun ini sudah menjadi chef selama lebih dari 10 tahun.
Selain itu, ia memiliki sejumlah bisnis seperti Rocket Deli dan Forking Clean.
Ia menguasai bahasa Inggris, Mandarin, dan Kanton.
Hancur Hati Fidya Sang Anak Ikut Jadi Korban, Orangtua Panggil Anjing Piaraan Pakai Nama Cucu: Sakit
Sementara itu dari dunia perfilman, dokumenter No Other Land berhasil menerima penghargaan di ajang bergengsi Oscar 2025.
No Other Land menang dalam kategori film dokumenter terbaik.
Film dokumenter ini menyoroti perbedaan nasib warga Palestina dan Israel di tengah genosida yang melanda Gaza.
Usut punya usut, film tersebut digarap oleh dua sutradara asal Palestina dan Israel.
Mereka adalah Basel Adra, Hamdan Ballal, Yuval Abraham, dan Rachel Szor.
Mengangkat kisah nyata yang menggugah, No Other Land menghadirkan dokumentasi yang kuat mengenai konflik yang terjadi di Palestina, khususnya di wilayah Masafer Yatta.
Film ini berpusat pada perjalanan Basel Adra, seorang aktivis muda Palestina.
Ia sejak kecil telah menyaksikan dan menentang penggusuran paksa yang dilakukan oleh militer Israel di Masafer Yatta, wilayah di Tepi Barat.
Ia merekam kehancuran bertahap atas tanah kelahirannya.
Di mana tentara Israel menghancurkan rumah-rumah dan mengusir penduduk setempat untuk mengubah area tersebut menjadi zona latihan militer.
Dalam proses perjuangannya, Basel menjalin pertemanan dengan Yuval Abraham, seorang jurnalis Israel.
Persahabatan mereka yang tak terduga menjadi inti dari dokumenter ini, memperlihatkan perbedaan mencolok antara kehidupan mereka.
Basel terus hidup dalam ancaman pengusiran dan kekerasan, sementara Yuval, sebagai warga Israel, menikmati kebebasan yang tidak dimiliki oleh rekannya dari Palestina.
Lebih dari sekadar dokumenter, No Other Land adalah sebuah perlawanan dalam bentuk sinema.
Basel Adra menegaskan bahwa film ini bukan hanya bertujuan untuk membangkitkan empati, tetapi juga untuk menginspirasi aksi nyata dalam menentang pendudukan dan penggusuran di Palestina.
“Kami tidak membuat film ini untuk menimbulkan rasa kasihan, tetapi untuk mengajak orang-orang bergabung dalam perjuangan kami,” katanya, dikutip dari Indie Wire, Senin (3/3/2025).
Dalam wawancaranya dengan Indie Wire, Basel menggambarkan situasi di Masafer Yatta sebagai kondisi yang semakin tidak layak huni akibat kebijakan Israel yang membatasi akses terhadap air bersih, lahan pertanian, dan fasilitas pendidikan bagi warga Palestina.
Film ini memberikan wawasan mendalam mengenai realitas hidup di bawah pendudukan, yang jarang terlihat di media arus utama.
Bagi yang penasaran, No Other Land bisa disaksikan di Apple TV.
Informasi lengkap dan menarik lainnya di
Googlenews






