Ramadan Moment Berdamai dengan Luka untuk Sehat Mental

Ramadan Moment Berdamai dengan Luka untuk Sehat Mental

Sewaktu kuliah sambil bekerja, saya pernah mengalami kejadian menyita pikiran. Motor dibeli setahun lalu, hilang di parkiran tempat bekerja. Sedihnya banget-banget, hasil dari setetes demi setetes keringat itu menguap tak bersisa.

Kejadian memilukan bersambung, keesokan hari ikut ujian negara. Sudah duduk di ruang ujian, nama saya terdaftar di kertas absen. Konon bagian administrasi, kelewatan mengetikan nama saya.

Setengah berlari, saya menuju masjid dekat kampus. Sambil sujud menangis sejadi-jadinya, menahan gemuruh di dada. Kepala sangat pusing dan berat, saya kawatir yang bakalan terjadi. Sungguh, saya takut kalau gila— hehehe.

Karena motor masih kredit, saya musti ke kepolisian, dealer dan asuransi. Dalam kondisi limbung, saya sangat butuh bantuan teman. Mengurus surat surat tersebut, pasti memakan energi, waktu dan –tentunya—biaya.

Satu orang dekat, menyanggupi membantu mengurus . Kami janjian di kantor polisi, mengurus surat kehilangan. Di hari H yang ditunggu tidak datang, dihubungi berkali-kali tidak bisa. Saya sangat kesal, ketika istrinya memberitahukan orang saya cari sedang tidur.

Sejak saat itu, hormat saya pada orang dekat hilang tak bersisa. Apapun disampaikan, tidak pernah saya hiraukan. Seperti ada janji di dalam diri, tidak akan pernah melibatkan orang ini di hidup saya. Ko

Lagi-lagi saya kawatir, kesehatan mental ini tergganggu. Karena sejak kejadian itu, saya memendam kekecewaan yang sangat.

Lumayan lama rasa kecewa itu bersemayam, sampai saya pindah ke jakarta. Kalau lebaran dan bersua, saya malas-malasan bertegur sapa. Memilih menghindar, daripada ngobrol bertukar cerita.

Entahlah, mungkin kesehatan mental saya terusik, kalau berinteraksi orang ini.

——

Seorang kenalan, sikapnya berubah. Memang tidak drastis, tetapi saya dan teman lain sangat bisa merasakan. Yang semula aktif di medsos, tiba-tiba jarang kemudian akunnya diprivat. Di satu sisi, teman ini butuh meluapkan perasaan.

Maka yang sering terlihat, adalah share keseharian di instastory. Pernah saya melihat sesi konsultasi dengan dokter jiwa, di post di IG Story-nya, Di lain waktu, memosting jadwal minum obat berbungkus-bungkus. Termasuk perasaan ingin menyerah, tak kuasa menjalani hari hari.

Sementara kolom komentar ditutup, kami teman-teman tidak leluasa bereaksi. Ada yang mencoba wapri, justru diblock. Dari tulisan di instastory, saya mengetahui dihadapi teman ini. Yaitu isu kesehatan mental, oleh orang terdekat disepelekan.

Namun, semangat untuk sehat, ditunjukkan. Seiring berjalan waktu, kenalan ini kembali bangkit. Akun medsos-nya tidak diprivat, mulai aktif psoting konten di feed.

Di bulan Ramadan ini, saya sempat bersua di sebuah kegiatan. Berbincang bertukar kabar, saling menguatkan dan mendoakan. Saya menjaga sikap dan ucap, agar teman ini nyaman.

Melihat teman ini saya flash back masa lalu, saat motor hilang dan tidak bisa ikut ujian negara. Sangat mungkin berat ditanggung kepala sama, kekhawatiran dialami juga sama. Sekali lagi, saya pernah kawatir menjadi gila—hehehe.

So far saya sangat bersyukur. Bisa melewati itu semua, meski tertatih-tatih bertahan sampai sejauh ini. Dan bulan Ramadan, menjadi moment saya menemukan pencerahan.

Ramadan Moment Berdamai dengan Luka untuk Sehat Mental

Kompasianer, memendam luka batin sangat tidak mengenakkan. Saat bertemu orang yang  mengecewakan, luka itu menganga lagi. Perasaan kesal mulai terlupakan, terungkap lagi dan terus kepikiran.

Saya yakin, setiap kita punya luka di perjalanan hidup. Garis takdir mempertemukan kita, dengan orang yang sangat tidak terprediksi. Hari ini ketemu orang baik, sangat mungkin besok ketemu yang menyebalkan.

Hanya diri sendiri, yang musti berusaha menyembuhkan luka di diri. Tidak bisa mengharapkan, orang minta maaf atas kesalahan pernah dilakukan.

Kita sangat perlu belajar, berdamai dengan kejadian masa lalu yang mengecewakan. Melepaskan perasaan menyesakkan dada, belajar ikhlas atas semua pernah terjadi.

Tidak apa-apa prosesnya lama, karena sembuhnya luka tidak bisa dipaksakan. Dengan demikian, tanpa sadar kita aware pada kesehatan mental.

Bulan Ramadan bulan yang tepat untuk berbenah diri, bulan introspeksi sekaligus mereguk kemuliaan.

Mari berdamai dengan luka, agar kesehatan mental terus terjadi. Meski tidak mudah, setidaknya mari dimulai mari dari dini. Sebelum luka melebar, sebelum kesehatan mental disasar.

——

Tak dipungkiri ada yang salah di masyarakat, orang dengan gangguan mental diidentikan gila (sakit jiwa). Pandangan itu tidak benar, karena gangguan mental punya kadar.

Stres dikategorikan gangguan mental skala kecil, tapi kalau stres akut musti diwaspadai. Stres tingkat tinggi, bisa memengaruhi emosi pola pikir dan perilaku. Sangat perlu penanganan khusus, karena sudah kategori gangguan mental serius.

Pemicu masalah kesehatan mental, ada bermacam-macam. Dari sebuah artikel, saya ketahui faktor penyebabnya. Selain stres tingkat tinggi, ada trauma pada kejadian tertentu, sedih yang sangat, dan lain sebagainya.

Sekiranya Kompasianer berada, di antara orang dengan isu kesehatan jiwa. Mari berempati, dengan tidak menambah beban pada mereka. Jangan berkomentar yang tidak perlu, apalagi mempersoalkan sikap yang dianggap tidak semestinya.

Sebuah kajian Ramadan mencerahkan saya, bahwa setiap kejadian sebenarnya tidak tiba-tiba terjadi. Entah kejadian menyenangkan atau menyedihkan, semua terjadi atas ijin-Nya. Dan kalau Alloh yang punya mau, niscaya demi kebaikan manusia.

Seketika saya merenungkan kalimat tersebut, dam sangat membenarkan. Kejadian motor hilang puluhan tahun silam, orang dekat tidak menepati janji. Pun kejadian lain, seperti teman utang tidak dibayar, dibohongi teman kerja dan lain sebagainya.

Haqul yaqin, semua yang saya alami pasti tidak begitu saja. Pasti ada campur tangan Alloh, dan akan membawa dampak baik bagi diri saya. Kalau saya terus memberontak, berarti saya tidak ridho dengan ketentuanNya.

Setelah kesadaran baru itu, luka tersimpan perlahan sembuh. Rasa dendam, sakit hati, kesal yang sangat, sedikit demi sedikit menguap. Ketemu orang pernah menyakiti, saya bersikap sewajarnya saja. Tidak mengungkit yang dulu-dulu, meski orang tersebut salting.

Ya, berdamai musti diusahakan. Melalui kajian Ramadan, saya menemukan sumber kedamaian itu melalui kajian. Yuk, jadikan Ramadan moment berdamai dengan luka untuk sehat mental. Semoga bermanfaat.

Related posts