– Vladimir Putin, sang presiden Rusia, menyarankan bahwa negara-negara sekutu mereka, seperti Korea Utara dan para anggota BRICS, harus bergabung dalam pembicaraan damai guna menghentikan konflik yang terjadi di Ukraina.
Pada pertemuan dengan pasukan militer di Murmansk, kota di wilayah utara Rusia, Putin mengusulkan ide yang sama tentang penempatan Ukraina dalam keadaan “administrasi sementara” selaku salah satu komponen upaya damai tersebut.
Berdasarkan kantor berita resmi Rusia, TASS, Putin telah mengajukan ide untuk menyelenggarakan pemilihan umum lagi di Ukraina dan menandatangani perjanjian perdamaian usai negeri tersebut dikelola secara internasional.
Ancaman Akan Menghancurkan Perekonomian Rusia Bila Menolak Gencatan Senjata, Apakah Ini Pengintimidasi dari Trump kepada Putin?
“Secara umum, pemerintah transisi bisa ditetapkan di Ukraina dengan dukungan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, Amerika Serikat, negara-negara Eropa, serta para mitra kita,” ungkap Putin.
Dia mengatakan bahwa tindakan tersebut bertujuan untuk melaksanakan pemilihan umum yang bebas dan adil serta menciptakan pemerintah yang mendapat kepercayaan dari masyarakat sebelum memulai negosiasi perdamaian.
Putin juga menyatakan bahwa pembicaraan perdamaian harus mencakup bukan hanya Rusia dan Amerika Serikat, namun juga beberapa negara lain seperti China, India, Brasil, Afrika Selatan, serta Korea Utara.
“Selain Amerika Serikat, ini melibatkan pula Republik Rakyat Tiongkok, India, Brasil, Afrika Selatan, seluruh anggota BRICS, serta banyak negara lain seperti Republik Demokratis Populer Korea,” ujar Putin menurut kutipan Al Jazeera.
Pada saat bersamaan, laporan dari militer Korea Selatan menunjukkan bahwa Pyongyang sudah mengirimkan lebih dari 3.000 personel tambahan ke pasukan Rusia di Ukraina, melebihi jumlah 11.000 tentara yang diberangkatkan pada tahun sebelumnya.
Putin juga mengungkapkan kesediaannya berkolaborasi dengan Eropa walaupun ia merasa bahwa beberapa negara di benua tersebut kadang-kadang bersikap tak konsisten terhadap Rusia.
“Sudah biasa bagi kita menghadapi situasi seperti ini. Semoga kita tidak melakukan kesalahan hanya karena mempunyai keyakinan berlebihan pada orang yang kita sebut sebagai mitra,” ujarnya, demikian dilansir TASS.
Sebaliknya, Putin menyatakan pujian kepada Presiden AS Donald Trump, yang ia anggap “sungguh-sungguh menginginkan pengakhiran dari perselisihan ini.”
Klaim Putin hadir usai pembicaraan tersendiri di Riyadh, ibukota Arab Saudi, mengikutsertakan perwakilan dari Rusia, Ukraina, dan Amerika Serikat guna mendiskusikan peluang traktat damai.
Berdasarkan laporan dari Amerika Serikat, Kiev dan Moscow sudah menyetujui penghentian serangan terhadap kapal-kapal yang berada di Laut Hitam.
Namun, dalam beberapa hari setelah itu, kedua pihak saling mengkritik ketidakseriusan masing-masing dalam negosiasi perdamaian.
Saat Zelensky Mengakui Keuntungan AS Triliunan Rupiah dari Industri Senjata dalam Konflik Rusia-Ukraina
Ukraina menyatakan bahwa Rusia telah menerjang kota Mykolaiv dengan serangan drone, pernyataan ini dianggap oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky sebagai “indikasi tegas bahwa Moskow tak berniat untuk mencapai kedamaian sejati.”
Malahan, Rusia mengklaim bahwa Ukraina telah menyatroni instalasi penyimpanan gas dan infrastrukturnya di area yang dikontrol mereka dengan menggunakan serangan dron, tindakan ini diyakini sebagai pelanggaran dari perjanjian yang melarang penyerangan pada situs-situs energi satu sama lain.
Media di Rusia menyatakan bahwa sesi keduanyaakan berlanjut di Riyadh pada pertengahan bulan April.
Artikel ini dipublikasikan di Tribunnews.com denganjudul “Putin Mengundang Korea Utara dan Negara-negara BRICS Bergabung dalam Pembicaraan Gencatan Senjata untuk Ukraine”.






