Allah Mengubah Hidupku Melalui Suami

Allah Mengubah Hidupku Melalui Suami

Pada tanggal 17 Desember 2020, kehidupan pasangan saya mendadak berbalik. Setelah pulang dari bekerja di MNC TV, dia mengalami kecelakaan sendirian di dekat Taspen Palangka Raya. Tanpa melibatkan kendaraan lain, hanya ada motor beliau, sebuah pohon, serta jalanan aspal yang membuat keseimbangan hidupnya runtuh dengan cepat tersebut.

Pada masa pandemic COVID-19, ketika setiap individu sedang berusaha keras untuk tetap survive, istriku dihadapkan pada realitas yang semakin menyakitkan: badannya hancur dan tidak dapat lagi berpindah dari tempat duduknya. Semua uang simpanan yang telah dia usahaakan selama ini lenyap tanpa sisa guna membayar tagihan perawatan medis. Jaminan Kesehatan Badan Penyelenggara Negara (BPJS) yang awalnya dirasa cukup sebagai harapan hidup, rupanya gagal mencover semua biaya yang dibutuhkannya. Tanpa opsi lain tersedia, kami pun hanya mampu bersabar serta terus melakukan upaya dalam meraih kesembuhan.

Satu per satu, dia menjalani serangkaian operasi. Operasi awal meliputi pemasangan kerangka logam untuk merekatkan tulang betisnya yang pecah. Dengan kondisi tersebut, dia hanya dapat berbaring dan tidak sanggup meninggalkan tempat tidurnya hingga kurang lebih setahun lamanya. Sementara banyak orang merengek karena bosannya masa isolasi pandemi, dia menghadapi tiap harinya dengan deretan rasa sakit luar biasa namun tetap tanpa ada keluhan sama sekali.

Kedatangan prosedur medis kedua melihat rangka besi pada kakinya ditinggikan. Meskipun demikian, tugasnya masih jauh dari selesai. Dia mesti menempuh periode penyembuhan yang cukup lama. Hanya selepas intervensi bedah ketiganya, di mana sebuah pin dimasukkan ke dalam tulangnya, dia dapat mulai mengambil langkah-langkah—walaupun itu memerlukan terapi yang sangat melelahkan serta dibutuhkannya kesabaran ekstra.

Saat ini, dia bergerak dengan melongokkan kaki. Karena pemasangan baja yang cukup lama, tulang tengkorak lutut serta betisnya telah bersatu, sehingga tidak dapat membengkokkan lutut sebagaimana mestinya. Akan tetapi, bila ada satu hal yang masih utuh, yaitu keinginannya untuk maju.

Sebagai istri, saya telah menyaksikan seluruh usahanya secara langsung. Saya melihat betapa dia berjuang bahkan ketika terus-menerus menderita akibat rasa sakit sehari-hari. Terkadang, saya pun merasa letih dan pengin menggerutu soal kehidupan ini. Tetapi, begitu saya lihat sang suami—yang masih tegar meskipun penderitaannya tidak kunjung reda—Ibu diberi pelajaran bahwa ada orang yang tiap harinya harus menangani beban cedera jauh lebih besar tapi tetap memilih untuk tersenyum serta bertahan.

Sejak pernikahan kami, kondisi hidup kami belum begitu menyenangkan. Keadaan finansial kami terpuruk, dan sang suami telah gagal melanjutkan pekerjaannya layaknya dahulu. Sebelum insiden tersebut, dia merupakan sosok pemberani yang selalu siap berusaha kapanpun dibutuhkan. Dia dapat mencari nafkah untuk dirinya sendiri serta membayar pendidikan sarjananya di Universitas Palangka Raya tanpa harus bersandar kepada orang lain. Di masa lalu juga, sebelum musibah itu menimpamu, minatnya cukup ekstrem mulai dari mendaki gunung, sepak bola lapangan kecil sampai ikut beberapa kompetisi tingkat nasional.


Namun saat ini, karena kakinya masih dipasangi pen, pekerjaan fisik sudah tidak mungkin dilakukan. Dia hanya dapat bekerja sebagai guru honorer di sebuah sekolah negeri di Palangkaraya. Sayangnya, upah dari pekerjaannya tersebut tak cukup untuk membiayai semua keperluan keluarga kita. Malahan, meski proses seleksi CPNS tahun 2024 sempat tertunda, kami tetap berusaha keras agar hidup lebih layak dengan pendapatan bulanan yang sering kali kurang atau bahkan belum tentu dibayar tepat waktu akibat efisiensi birokrasi sekolah.

Alhamdulillah, pada akhirnya aku berhasil lolos dalam seleksi CPNS 2024 dan mendapat tugas di Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah. Walaupun demikian, kami tidak putus asa; selalu mencari solusi bagaimana caranya bertahan hidup. Kami mulai menjelajahi peluang-peluang lain melalui dunia digital serta media online secara umum tanpa harus bergantung pada aktivitas fisik yang intensif.

Di tengah segala kesulitan ini, kami tetap berharap dan berdoa agar suamiku bisa kembali sehat, agar ada jalan bagi kami untuk bangkit lagi. Aku ingin melihatnya bisa berjalan tanpa rasa sakit, bisa kembali bekerja dengan leluasa, dan bisa merasakan hidup tanpa batasan seperti dulu. Kami yakin bahwa setiap cobaan pasti ada akhirnya, dan kami percaya bahwa Allah selalu punya rencana terbaik. Semoga suatu hari nanti, suamiku bisa sembuh, ekonomi kami membaik, dan kami bisa menjalani hidup dengan lebih tenang dan bahagia.

Related posts