18 Kendaraan Tempur Pindad Siap dikirim ke Lebanon: Kesiapan TNI AU untuk Operasi Dagang Perdamaian

18 Kendaraan Tempur Pindad Siap dikirim ke Lebanon: Kesiapan TNI AU untuk Operasi Dagang Perdamaian


BANDUNG,

– PT Pindad telah mempersiapkan sejumlah besar alutsista yang akan diantarkan ke Lebanon sebagai bagian dari tugas penjaga damai militer Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Selain itu, PT Pindad juga menyediakan latihan untuk mengoperasikan kendaraan lapis baja Pandur 8×8 kepada anggota PMPP TNI yang merupakan pusat misi pemeliharaan perdamaian Tentara Nasional Indonesia.

Latihan tersebut bertujuan untuk memperbaiki keterampilan dalam menggunakan serta merawat dan menjaga kendaraan militer.

Kepala Utama Pindad, Sigit P Santoso, menyebut bahwa terdapat kira-kira 80 anggota yang berpartisipasi dalam latihan tersebut.

Setiap grup dibagi menjadi dua bagian, dengan salah satunya memiliki 40 orang anggota.

Berikut ini adalah beberapa topik dalam rangkaian pelatihan yang meliputi operasional dasar dari kendaraan, menjaga dan merawatnya, menggunakan peralatan komunikasi, serta mengendalikan menara pada tank infanteri dengan roda delapan.

“PT Pindad yang merupakan industri pertahanan dalam negeri ini turut mensupport operasi PMPP TNI mulai dari persiapan kendaraan lapis baja, pemberian latihan sampai dengan pemeliharaan serta perawatan untuk memastikan tugas dapat dilaksanakan dengan lancar, berhasil, dan aman hingga akhirnya pulang kembali,” ungkapnya saat dijumpai pada hari Rabu (19/3/2025).

Sigit menyebutkan bahwa perlengkapan pertahanan dan keselamatan dari PT Pindad, khususnya kendaraan lapis baja, sudah dipakai dalam beberapa operasi PBB. Salah satu contohnya adalah Kendaraan Tempur Pandur dengan konfigurasi 8×8.

Itu menunjukkan komitmen negara Indonesia dalam mensupport tugas-tugas damai global.

“Kami akan mengirimkan 18 unit armada untuk tugas di Lebanon. Tambahan lagi, beberapa Anoa juga dikirim ke lokasi tersebut, menjadikan jumlah total menjadi 30 kendaraan. Semua ini merupakan jenis kendaraan terbaru kami dan semoga berhasil dalam misinya,” jelasnya.

Pandur 8×8 adalah versi kendaraan tempur yang dirancang untuk meningkatkan kekuatan unit infanteri di berbagai misi menggunakan teknologi terkini, dan hal itu mengharuskan personel mendapatkan latihan khusus sebelum pengoperasionalnya.

Pandur 8×8 beratnya mencapai maksimum 22,6 ton, dilengkapi dengan mesin diesel 455 tenaga kuda, mampu menempuh kecepatan dalam km/jam, serta jangkauan operasional hingga 600 kilometer.

Salah satu fitur unik dari kendaraan lapis baja Pandur 8×8 ini adalah kemampuan untuk menyeberangi area air dengan kecepatan hingga 8 kilometer per jam.

Mobil ini dilengkapi dengan perlindungan STANAG 4569 tingkat III dan dapat menampung hingga 13 orang pasukan.

Ranpur Pandur 8×8 dilengkapi dengan senjata primer berkaliber 30 mm, bisa dipasangi senapan mesin 7,62 sebagai tambahan co-aksial, dan telah diperkuat dengan peralatan tempur yang mempunyai fitur pemeliharaan penstabil meriam dan bidik canggih, kapabilitas pemburu-pembunuh, serta disematkan peluncur granat asap dan sistem peringatan laser.

“Kendaraan ini menggunakan teknologi paling mutakhir dan dilengkapi dengan sistem manajemen medan perang (Battlefield Management System/BMS). Kendaraan ini dirancang untuk menunjang pertempuran modern serta diharapkan dapat menghadapi berbagai kendaraan tempur lainnya,” katanya.

Bukan hanya itu saja, kendaraan lapis baja Anoa 6×6 juga sudah turut serta dalam tugas-tugas UNAMID di Sudan, MINUSCA di Afrika Tengah, dan UNIFIL di Lebanon.

Di samping itu, Kendaraan Komodo 4×4 serta Anoa 6×6 pun sudah memberikan kontribusinya pada misi MONUSCO di Kongo.

Komandan PMPP TNI, Mayjen TNI Taufik Budi Santoso, menyampaikan ucapan terima kasih atas penyelenggaraan latihan serta persiapan armada yang dilakukan guna misi di Lebanon.

Taufik mengatakan bahwa program PBB di Lebanon tetap tidak berubah dari misi-misi sebelumnya yang bertujuan melindungi warga sipil di daerah tersebut.

“Saat ini, kita mengerti bahwa Lebanon belum sepenuhnya dinyatakan sebagai zona aman. Meskipun adanya perkembangan seputar gencatan senjata dalam berita, kedua belah pihak masih kerap kali melakukan pelanggaran,” jelas Taufik.

Mereka berencana untuk menukar posisi dengan para prajurit yang telah berada di lokasi tersebut setelah bulan Ramadhan.

Pasukan ini akan melaksanakan tugasnya untuk satu tahun.

Related posts