Dari jalanan ke dunia, kacamata AI anak bangsa menarik perhatian global

Dari jalanan ke dunia, kacamata AI anak bangsa menarik perhatian global

Inovasi Teknologi Kacamata Pintar Berbasis AI dari Indonesia

Ketika dunia menganggap teknologi hanya lahir dari negara-negara maju, sebuah inovasi kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan (AI) yang berasal dari Indonesia berhasil menembus panggung internasional. RunSight, karya mahasiswa Indonesia, menjadi salah satu contoh nyata bahwa inovasi tidak selalu datang dari Silicon Valley.

RunSight adalah kacamata pintar yang dirancang khusus untuk pelari tunanetra. Dikembangkan oleh Tim Labmino dari Universitas Indonesia, inovasi ini menggunakan AI dan panduan suara real-time untuk membantu pengguna mengenali arah, hambatan, serta kondisi lintasan saat berlari. Hasilnya, pelari tunanetra dapat berolahraga dengan lebih aman, mandiri, dan percaya diri tanpa selalu bergantung pada pendamping.

Inovasi ini memperlihatkan bahwa AI tidak hanya tentang kecanggihan, tetapi juga tentang kehadirannya yang alami dalam kehidupan manusia. Presiden Samsung Electronics Indonesia, Harry Lee, menegaskan bahwa AI harus bekerja konsisten, intuitif, dan relevan, tanpa terasa mengganggu, namun memberi dampak nyata. Di Indonesia, Samsung menyelaraskan teknologi AI dengan cara hidup dan kebutuhan yang beragam, sehingga setiap inovasi memiliki tujuan untuk membuat hidup lebih baik dan lebih bermakna.

Program Samsung Solve for Tomorrow

Samsung Solve for Tomorrow (SFT) adalah program yang mendorong generasi muda mengembangkan solusi berbasis teknologi dari problem riil di sekitarnya. RunSight menjadi salah satu hasil paling mencolok dari program ini. Setelah menjuarai Samsung Solve for Tomorrow Indonesia 2025, Tim Labmino sukses melewati seleksi regional hingga global. Mereka kini resmi masuk jajaran 10 tim terbaik dunia sebagai SFT Global Ambassador.

Bagi Samsung, pencapaian ini bukan sekadar kemenangan kompetisi, melainkan pengakuan global atas pendekatan inovasi berbasis konteks lokal. Ide sederhana yang lahir dari empati, jika dikembangkan dengan teknologi tepat, mampu menjawab kebutuhan yang selama ini luput dari perhatian industri besar.

Kacamata AI yang Mengubah Kehidupan

RunSight bukan hanya sekadar kacamata, tetapi sebuah solusi inklusif yang membuka akses bagi pelari tunanetra. Dengan adanya kacamata ini, mereka bisa berlari sendiri, tanpa perlu selalu didampingi orang lain. Hal ini meningkatkan rasa percaya diri dan kemandirian mereka dalam berolahraga.

Inovasi seperti RunSight menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya bertujuan untuk memudahkan kehidupan, tetapi juga untuk menciptakan kesetaraan. Dengan AI, teknologi bisa menjadi alat yang membantu, bukan justru menciptakan jarak.

Prestasi yang Mengangkat Nama Indonesia

Prestasi RunSight tidak berhenti di level nasional. Dari Indonesia, inovasi ini kini diakui secara global. Tim Labmino berhasil menembus seleksi global dan menjadi bagian dari SFT Global Ambassador. Ini merupakan bukti bahwa ide-ide sederhana yang berasal dari pengalaman sehari-hari bisa berdampak global.

Perjalanan Tim Labmino membuktikan bahwa teknologi yang bermanfaat tidak selalu datang dari negara-negara besar. Dari Indonesia, untuk dunia, inovasi seperti RunSight bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Tantangan dan Peluang di Masa Depan

Meski telah meraih prestasi luar biasa, Tim Labmino masih memiliki tantangan di masa depan. Mereka perlu terus mengembangkan teknologi ini agar bisa digunakan oleh lebih banyak orang. Selain itu, kolaborasi dengan pihak-pihak terkait juga diperlukan untuk memastikan bahwa inovasi ini bisa diakses oleh semua kalangan.

Dengan dukungan dari Samsung dan komunitas teknologi, RunSight bisa menjadi contoh nyata bahwa inovasi dari Indonesia bisa bersaing di panggung internasional. Dari kacamata pintar yang membantu pelari tunanetra, kita melihat betapa pentingnya empati dan keberanian berpikir berbeda dalam menghadapi tantangan teknologi.


Related posts