AI Bisa Bantu Rencanakan Keuangan, Ini Tips dan Triknya

AI Bisa Bantu Rencanakan Keuangan, Ini Tips dan Triknya



BANTENMEDIA.CO.ID – JAKARTA.

Saat ini, platform artificial intelligence (AI) sudah menjadi alat sehari-hari yang digunakan banyak orang. Penggunaan AI dengan model bahasa besar (LLM), seperti ChatGPT, Gemini, dan lainnya, semakin beragam. Ada yang menggunakan AI untuk membantu membuat tugas, dokumen, mencari informasi, atau bahkan membuat gambar. Tidak hanya itu, kini semakin banyak orang memanfaatkan AI sebagai alat bantu dalam pengelolaan keuangan pribadi.

Menurut laporan Financial Wellbeing Study 2025 yang dirilis First National Bank of Omaha (FNBO), sebagaimana dikutip Yahoo Finance, 46% warga Amerika Serikat (AS) telah menggunakan AI seperti ChatGPT untuk membantu keuangan pribadi mereka. Bahkan, 50% warga AS mempercayai AI sebagai penasihat keuangan. Banyak lembaga dan platform keuangan juga memanfaatkan AI untuk menyediakan dukungan obrolan, mendeteksi penipuan, menghasilkan skor kredit, rekomendasi produk yang dipersonalisasi, mengaktifkan otentikasi multifaktor, dan masih banyak lagi.

Platform seperti ChatGPT dan Gemini memberikan fitur-fitur tersebut langsung kepada masyarakat umum. Hal ini memungkinkan masyarakat untuk membuat solusi keuangan dan anggaran yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Menurut Andrew Latham, perencana keuangan bersertifikat dari SuperMoney.com, langkah-langkah yang diambil oleh perencana keuangan yang baik, seperti meninjau arus kas, mengidentifikasi titik buta, dan menguji ketahanan tujuan, bukanlah sihir. Itu adalah proses yang terstruktur. Dan AI bisa belajar melakukan hal-hal tersebut dengan baik, selama diberi data dan konteks yang tepat.

Namun, meskipun AI bisa menjadi alat yang sangat berguna, Anda tetap harus berhati-hati saat menggunakan AI untuk hal-hal yang sensitif, termasuk dalam perencanaan keuangan. Semakin banyak informasi yang Anda bagikan dengan chatbot AI, semakin banyak saran yang dipersonalisasi yang dapat ditawarkan. Namun, berbagi informasi sensitif dapat meningkatkan risiko penipuan dan masalah privasi.

Sebuah studi pada 2024 oleh PYMNTS.com menemukan bahwa konsumen khawatir tentang bagaimana penggunaan AI membuat mereka lebih bergantung pada teknologi dan rentan terhadap pelanggaran privasi. Hal ini tidak tanpa alasan. Laporan IBM pada 2025 menunjukkan bahwa 13% organisasi melaporkan pelanggaran model atau aplikasi AI. Sementara itu, 8% organisasi bahkan tidak tahu apakah mereka pernah mengalami pelanggaran atau tidak.

“Data menunjukkan bahwa kesenjangan antara adopsi AI dan pengawasan sudah ada, dan pelaku ancaman mulai mengeksploitasinya,” kata Suja Viswesan, Vice President, Security & Runtime Products IBM, dalam sebuah pernyataan. Sistem AI masih kekurangan kontrol akses dasar, sehingga data yang ada sangat sensitif dan rentan terhadap manipulasi. Seiring AI semakin terintegrasi dalam operasi bisnis, keamanan AI harus diperlakukan sebagai hal mendasar.

AI bisa menjadi alat yang sangat berharga, terutama jika Anda tidak mampu membayar bantuan profesional secara langsung. Namun, ada beberapa langkah yang bisa Anda lakukan untuk melindungi privasi Anda saat menggunakan AI:

  • Tinjau kebijakan privasi dan pengaturan privasi platform Anda

    Luangkan waktu untuk meninjau syarat dan ketentuan platform AI yang Anda gunakan agar memahami bagaimana data Anda digunakan. Sesuaikan pengaturan privasi Anda sesuai dengan preferensi Anda. Misalnya, Anda dapat mencegah platform tertentu untuk mengarsipkan percakapan Anda atau menggunakannya untuk menginformasikan percakapan di masa mendatang.

  • Hindari berbagi informasi berlebihan

    Sistem AI menjadi lebih pintar dan personal seiring Anda memberikan lebih banyak data dan informasi tentang diri Anda. Namun, berhati-hati dengan informasi yang Anda sertakan dalam pesan Anda dapat membantu melindungi detail pribadi Anda dari kebocoran, seperti nama, tanggal lahir, atau detail pribadi lainnya.

  • Jangan bergantung pada AI sebagai penentu keputusan akhir

    Pada akhirnya, AI dapat membantu Anda menjalankan berbagai skenario, membandingkan produk keuangan, dan banyak lagi. Namun, Anda tetap harus menerima setiap saran yang diberikan dengan sedikit skeptisisme. “Gunakan AI untuk memperluas pemikiran Anda, bukan untuk menyerahkan penilaian Anda kepada pihak lain. Keputusan akhir harus selalu didasarkan pada tujuan pribadi, toleransi risiko, dan, tentu saja, akal sehat,” kata Latham.

Latham menilai bahwa kendati kesenjangan antara AI dan perencana keuangan manusia semakin mengecil, ia yakin perencana keuangan manusia tetap dibutuhkan. “Penasihat manusia masih membawa sesuatu yang belum dapat ditiru oleh AI: hubungan, akuntabilitas, dan kemampuan untuk mencegah Anda membuat kesalahan emosional di pasar yang sulit,” tutur dia.

Related posts