Program Makan Bergizi Gratis untuk Balita Dibungkus Kantong Plastik
Sebuah video yang viral di media sosial menunjukkan program makan bergizi gratis (MBG) untuk balita di Kabupaten Pandeglang dibungkus menggunakan kantong plastik. Peristiwa ini terjadi di Desa Pasir Padu, Kecamatan Sukaresmi, dan menimbulkan reaksi dari warga setempat.
Dalam video tersebut, terlihat dua kantong plastik berwarna kuning dan hijau yang berisi makanan MBG. Warga yang merekam video menyebut bahwa makanan tersebut terlihat seperti makanan kucing. Mereka mengatakan bahwa isi kantong plastik tersebut tidak jelas, bahkan ada kelengkeng dan timun yang terlihat di dalamnya.
“Ini MBG untuk balita, ini kaya begini isinya. Ayam, gak tahu bubur, gak tahu apa, kaya muntahan kucing. Ini baru dibuka,” ujar salah satu warga.
“Ada kelengkeng nya juga, timun gini doang,” tambahnya.
Warga tersebut mengaku tidak tidak bersyukur mendapatkan MBG tersebut, tetapi merasa kemasan sangat tidak pantas. Mereka mempertanyakan mengapa makanan untuk balita dibungkus dengan kantong plastik yang terkesan tidak higienis.
“Maaf yah bukan gak bersyukur, yah masa mau dimakan gini sama kita. Pakai pelastik kaya beginian, kaya buat kucing,” katanya.
Video tersebut juga mencantumkan komentar yang menyebut nama Prabowo sebagai bagian dari pernyataan warga tersebut.
Penjelasan dari Pihak Terkait
Saat dikonfirmasi, Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karyasari, Dimas Dhika Alpiyan, menjelaskan bahwa penyaluran dan penyajian MBG untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (B3) telah sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) dari BGN.
Namun, ia menyebut bahwa kejadian viral tersebut terjadi ketika di lapangan, saat ibu kader posyandu memindahkan MBG ke dalam plastik tanpa sepengetahuan dirinya.
“Untuk pendistribusian sudah sesuai dengan SOP dari BGN, kita memakai ompreng di dapur, setelah itu diantarkan ke B3 ibu kader,” katanya saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon.
“Sesudah sampai ketitik pengantaran, itu diserahkan kepada ibu kader, nah ibu kader berinisiatif, tanpa sepengetahuan saya malah dimasukan kedalam plastik si menu makanan itu, dicampur sama plastik tanpa sepengetahuan saya, tanpa izin dan pemberitahuan,” sambungnya.
Dimas mengaku tidak mengetahui secara detail alasan kader memindahkan menu MBG itu ke dalam plastik. Namun, berdasarkan keterangan kader, hal itu dilakukan secara spontanitas.
“Katanya spontan ajah karena udah sore datangnya, spontan akhirnya dimasukkan kedalam plastik sama ibu kader. Dan itupun tanpa sepengetahuan saya,” katanya.
Masalah Kemasan dan Kebersihan
Dimas juga mengakui bahwa sajian MBG yang berada di dalam plastik tidak higenis dan menyalahi aturan.
“Kalau misalkan mau dibawa pulang itu memakai alat makan yang sesuai kaya mangkok, atau piring, tupperware, dari rumah masing-masing,” ucapnya.
Ia menekankan bahwa MBG seharusnya disajikan dengan cara yang lebih layak dan higienis, bukan dalam kantong plastik yang tidak sesuai dengan standar.
Tindakan yang Dilakukan
Menanggapi kejadian ini, pihak SPPG akan melakukan evaluasi terhadap proses distribusi dan penyajian MBG. Mereka berkomitmen untuk memastikan bahwa semua penerima MBG menerima makanan yang layak dan aman.
Selain itu, pihak terkait juga akan memberikan edukasi kepada para kader posyandu agar lebih memperhatikan prosedur dan standar dalam menyalurkan bantuan makanan tersebut.
Kesimpulan
Peristiwa ini menjadi peringatan bagi semua pihak yang terlibat dalam program MBG, bahwa kualitas dan kemasan makanan harus diperhatikan secara serius. Meskipun tujuan utama dari program ini adalah membantu masyarakat, namun cara penyajiannya harus tetap mematuhi standar kesehatan dan kebersihan.

