Kisah Buniayu: Kolaborasi LSPR dan Sentra Anyaman Bambu Tangerang Siap Go Internasional

Kisah Buniayu: Kolaborasi LSPR dan Sentra Anyaman Bambu Tangerang Siap Go Internasional

Komunitas Saung Bakul Buniayu Mulai Naik Kelas

Komunitas kerajinan anyaman bambu dan pusat edukasi seni budaya rakyat ‘Saung Bakul Buniayu’ kini mulai naik kelas. Melalui program The Story of Buniayu, sentra anyaman bambu yang berlokasi di Desa Buniayu, Kabupaten Tangerang ini didorong untuk go international. Program ini merupakan kolaborasi antara mata kuliah PR Program and Evaluation, Creative Production and Publicity, Communication Techniques, dan Community Development Kelas Internasional LSPR angkatan 27 dengan Dinas Koperasi dan Usaha Mikro.

Kegiatan ini bertujuan untuk mengangkat potensi Desa Buniayu sebagai sentra anyaman bambu tradisional melalui digital training dan product development untuk memperkuat promosi dan daya saing produk Indonesia. Nantinya, melalui rangkaian kegiatan International Mentoring and Workshop Programme (IMWP) 2026, produk anyaman bambu Desa Buniayu akan diperkenalkan ke Malaysia.

Penggerak Saung Bakul Buniayu, Kang Dhany menyampaikan bahwa kolaborasi mahasiswa LSPR bersama Dinas Koperasi dan Usaha Mikro ini membuka peluang pengembangan produk anyaman bambu Desa Buniayu ke arah yang lebih inovatif dan bernilai, sekaligus untuk menambah pengetahuan masyarakat tanpa meninggalkan tradisi lokal.

“Ini salah satu upaya yang luar biasa untuk pengrajin, khususnya di desa Buniayu untuk meningkatkan nilai ekonomi dan pemasarannya, sehingga apa yang diniatkan go international bisa terwujud,” ungkapnya.

Menurut Kang Dhany, inovasi yang dicanangkan oleh mahasiswa LSPR ini sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kreativitas generasi muda. “Mudah-mudahan bukan hanya prodak yang ada, tapi ke depannya ada prodak lain yang bisa inovatif lainnya khususnya dibidang anyaman,” tambahnya.

Sejak berdiri dari tahun 2021, Komunitas Saung Bakul ini telah membuat puluhan jenis produk anyaman yang dikelola langsung oleh warga setempat. Mulai dari topi, peci, dompet, tas, hingga berbagai jenis perlengkapan rumah tangga seperti bakul, ayakan beras dan lain sebagainya.

“Harapan kami, melalui kegiatan ini. Prodak kami selain menjadi salah satu prodak best seller di Tangerang tapi juga bisa go international,” katanya. “Sehingga seluruh umkm di tangerang bisa lebih sejahtera dan mampu membuka lapangan pekerjaan untuk umkm dan masyarakat di sekitar UMKM itu sendiri,” tambahnya.

Ketua Penyelenggara The Story of Buniayu, Moza Febrianita menyampaikan bahwa melalui kegiatan ini diharapkan bisa mendorong penguatan UMKM serta keberlanjutan produk tradisional Indonesia melalui pelatihan digital dan pengembangan desain produk.

“Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat promosi digital, meningkatkan mutu desain produk, serta mendorong daya saing pengrajin lokal agar produk anyaman bambu dari Desa Buniayu dapat dikenal dan bersaing di pasar internasional,” katanya.

Moza juga menambahkan bahwa melalui kegiatan ini pihaknya ingin turut membantu agar desa Buniayu ini yang dikenal dengan kerajinan anyamannya bisa lebih terkenal hingga go international. “Kami melihat ada potensi dari anyaman bambu, ini punya iconic yang khusus. Apalagi dari warga ini butuh sesuatu yang inovasi baru, maka dari itu kami ingin membuat suatu prodak yang prodak ini bisa relevan dengan zaman sekarang,” ungkapnya.

Setelah melihat beberapa potensi yang ada di desa tersebut, dan mencari tahu apa saja masalah, rintangan hingga tantangan yang dialami oleh warga setempat. Pihaknya kemudian mencarikan solusi dan inovasi baru agar hasil karya masyarakat Buniayu bisa dijual bukan hanya di pasar lokal, nasional bahkan mampu bersaing hingga ke tingkat internasional.

“Karena kami salah satu gen-z jadi kami ingin mencoba inovasi baru supaya kami juga ingin memakai bahan-bahan dari prodak anyaman bambu,” jelasnya.

Melalui kegiatan ini, pihaknya mencoba memberikan pemahaman terkait pemanfaatan digitalisasi. Upaya itu dilakukan supaya desa Buniayu bisa lebih terkenal dan para generasi muda di desa tersebut bisa turut melestarikan potensi yang ada. “Kami ingin bisa membantu potensi warga desa agar lebih terkenal dan bisa memajukan perekonomian warga dan berberapa anak muda sebagai generasi mudanya bisa terus melanjutkan tradisi anyaman itu sendiri,” pungkasnya.

Mozza menyampaikan bahwa kegiatan ini dilakukan tiga tahap. Pertama, Pre-event meliputi pelatihan digital, pendampingan pembuatan konten, dan pengembangan desain produk. Kedua, Main-event akan diselenggarakan Mini Exhibition di Malaysia untuk menampilkan produk kepada audiens internasional. Ketiga, Post-event akan dilaksanakan pembuatan video dokumenter, rangkuman konten media sosial, serta kunjungan lanjutan ke Desa Buniayu untuk melihat perkembangan pasca kegiatan kampanye.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (Diskum) Kabupaten Tangerang, Anna Ratna Maemunah, mengapresiasi The Story of Buniayu yang mendorong Desa Buniayu sebagai Sentra Anyaman Bambu ke Ranah Internasional. “Diskum Kabupaten Tangerang, menyambut baik seluruh upaya yang sudah dilakukan stakeholder termasuk Story of Buniayu yang digagas LSPR untuk mengembangkan Produk unggulan yang ada di Kabupaten Tangerang,” ucap Anna.

Dengan demikian, lanjut Anna, Buniayu ini bisa dijadikan sebagai tempat khusus untuk anyaman Sentra Anyaman Bambu ke Ranah Internasional. “Buniayu ini merupakan suatu tempat yang khusus produk lokal yaitu bambu. Alhamdulillah temen-temen dari LSPR melihat itu dan mencoba untuk mengembangkan dan berkolaborasi bersama agar produk ini memiliki daya saing di tingkat lokal hingga Internasional,” pungkasnya.

Related posts