Sohib Tangerang Berkelas, Komdigi Dorong Aparatur Adaptif di Era Digital

Sohib Tangerang Berkelas, Komdigi Dorong Aparatur Adaptif di Era Digital

Penguatan Literasi Digital untuk Membangun Ruang Digital yang Lebih Sehat

Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat ekosistem digital yang sehat melalui gelaran Sohib Berkelas Tangerang, yang diadakan pada Kamis (11/12). Acara ini memiliki tema utama “Stay Safe, Stay Smart, Stay Anti Hoaks”, yang menekankan peran strategis pemerintah dalam mencegah penyebaran hoaks dan menjaga kualitas informasi publik.

Acara dibuka oleh Direktur Informasi Publik Kemkomdigi, Nursodik Gunarjo, yang menyampaikan pesan tegas mengenai pentingnya keberanian aparatur untuk menjadi bagian dari solusi di ruang digital. Menurutnya, arus informasi yang deras di media sosial menuntut setiap aparatur untuk menjadi produsen konten positif, bukan hanya sekadar pengamat pasif.

“Jika kita orang-orang baik tidak memposting konten yang baik, maka dunia digital akan dikuasai oleh hal-hal yang tidak baik. Kita ikut berdosa berjamaah kalau membiarkan itu terjadi. Karena itu, melalui bimbingan teknis ini, saya mengajak semua untuk membuat dan menyebarkan konten positif, dimulai dari akun-akun Anda masing-masing,” ujarnya menegaskan.

Nursodik menekankan bahwa membangun ruang digital yang bersih tidak cukup hanya mengandalkan regulasi. Dibutuhkan partisipasi aktif dari aparatur, terutama yang menangani informasi publik. Mengingat setiap aparatur berhubungan langsung dengan masyarakat, kemampuan mereka dalam menyajikan informasi yang akurat dan berimbang menjadi krusial.

Ia juga melihat bahwa tantangan di dunia digital tidak sekadar mengenai kapasitas teknis, tetapi juga komitmen moral. Pemerintah membutuhkan pegawai yang mampu menjadi role model dalam penggunaan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.

Empat Pilar Literasi Digital Jadi Bekal Utama

Pandangan serupa disampaikan oleh Ketua Tim Kerja Diseminasi Media Cetak Diskominfo Kota Tangerang, Kristiono Suntoro, yang mewakili Kepala Diskominfo Kota Tangerang. Ia menilai literasi digital aparatur menjadi semakin mendesak seiring transformasi digital di tingkat pusat maupun daerah.

“Lebih dari itu, mereka harus menguasai empat pilar literasi digital yang menjadi fondasi utama di era transformasi digital, yaitu digital skill, digital culture, digital ethics, dan digital safety,” katanya.

Kristiono menegaskan bahwa literasi digital bukan hanya kemampuan mengoperasikan perangkat atau aplikasi. Aparatur harus mampu memahami budaya berinteraksi di dunia digital, menjaga etika komunikasi, serta memastikan keamanan data dan privasi publik.

Ia juga berharap peserta bimbingan teknis dapat menerapkan materi yang diterima, khususnya bagi aparatur yang bekerja di bidang kehumasan. Menurutnya, kualitas komunikasi publik menjadi cermin profesionalitas pemerintah daerah.

“Kami berharap peserta bimtek mampu meningkatkan kualitas komunikasi publik sehingga layanan kepada masyarakat semakin transparan, akuntabel, dan sejalan dengan perkembangan Kota Tangerang sebagai kota yang terus berinovasi di era digital,” ungkapnya.

Penguatan Materi oleh Tenaga Ahli Kemkomdigi

Penguatan materi dilanjutkan oleh Tenaga Ahli Dirjen Komunikasi Publik dan Media Kemkomdigi, Dwi Santoso, yang menggarisbawahi bahwa pengawasan ruang digital tidak dapat hanya bergantung pada regulasi pemerintah.

“Pemerintah hanya dapat membuat aturan, regulasi, dan batasan. Namun teknologi memungkinkan siapa pun melewati berbagai kontrol tersebut. Karena itu, kendali utama tetap berada pada diri masing-masing pengguna dan tidak bisa sepenuhnya bergantung pada platform,” jelas Dwi.

Ia juga menekankan peran keluarga sebagai benteng pertama literasi digital. Orang tua, kata Dwi, harus memahami pola konsumsi media anak serta memberikan pembiasaan yang benar dalam berinternet. Ia berharap gelaran Sohib Berkelas dapat terus diperluas agar masyarakat semakin dibekali kemampuan menghadapi ancaman disinformasi.

Etika Digital sebagai Pondasi Kepercayaan

Sesi berikutnya diisi oleh Produser Eksekutif Narasi, Mufti S, yang menyoroti pentingnya etika digital di tengah derasnya informasi. Ia menilai etika menjadi fondasi kepercayaan dalam ekosistem digital.

“Etika digital adalah pondasi kepercayaan dalam ekosistem digital. Tanpa etika, teknologi secanggih apa pun tidak akan mampu menciptakan ruang digital yang aman,” tegasnya.

Mufti menambahkan bahwa pengguna media sosial harus mampu menahan diri dari menyebarkan misinformasi dan disinformasi, menjaga privasi, dan membangun interaksi yang beradab.

Kegiatan Sohib Berkelas Tangerang merupakan rangkaian program penguatan literasi digital yang digagas Kemkomdigi. Melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, komunitas kreator, hingga media, kegiatan ini diharapkan mampu memupuk aparatur yang tidak hanya cakap teknologi, tetapi juga menjadi agen penyebar konten positif.

Dalam era digital yang cepat berubah, kegiatan semacam ini menjadi penting untuk memastikan aparatur tetap adaptif dan masyarakat semakin terlindungi dari ancaman hoaks.

Sohib Berkelas Tangerang menegaskan kembali bahwa ruang digital yang aman adalah hasil kerja bersama. Dengan partisipasi aktif semua pihak, Indonesia dapat membangun ruang digital yang lebih sehat, beradab, dan produktif.

Related posts