Pisang Peppe, Camilan Khas Makassar yang Selalu Dicari Saat Hujan

Pisang Peppe, Camilan Khas Makassar yang Selalu Dicari Saat Hujan

Keunikan Pisang Peppe Saat Hujan di Makassar

Hujan yang turun sejak sore sering kali membawa suasana dingin dan sendu di Kota Makassar. Di balik rintik yang membasahi jalanan, ada satu camilan tradisional yang justru terasa semakin nikmat disantap: pisang peppe. Jajanan sederhana berbahan dasar pisang ini telah lama menjadi teman setia warga Makassar untuk menghangatkan tubuh di musim hujan.

Pisang peppe dibuat dari pisang kepok setengah matang yang dibakar di atas bara api hingga harum. Setelah itu, pisang dipipihkan—atau dalam bahasa Makassar disebut dipéppe—lalu dibakar kembali hingga permukaannya kecokelatan. Proses pemanggangan dua tahap tersebut menghasilkan tekstur unik: renyah di bagian luar namun tetap lembut di dalam, dengan aroma bakaran yang khas.

Cita rasa pisang peppe semakin lengkap dengan tambahan saus gula merah cair yang legit, bahkan kerap dipadukan dengan sambal khas berbahan cabai dan gula aren. Perpaduan rasa manis, pedas, dan hangat inilah yang membuat pisang peppe terasa begitu pas dinikmati saat cuaca dingin atau hujan turun.

Di Makassar, pisang peppe mudah ditemui pada sore hingga malam hari. Banyak pedagang kaki lima menjajarkan camilan ini di pinggir jalan, dekat pusat keramaian, hingga kawasan pantai. Tak jarang, pembeli rela menunggu di bawah payung sambil menyaksikan proses pembakaran pisang yang mengepul asap, menambah kesan hangat dan akrab.

Lebih dari Sekadar Jajanan, Pisang Peppe dan Kehangatan Budaya Makassar

Lebih dari sekadar camilan, pisang peppe menyimpan nilai budaya yang kuat. Jajanan ini kerap hadir dalam momen kebersamaan, mulai dari kumpul keluarga, obrolan santai bersama teman, hingga suguhan sederhana di rumah. Rasanya yang akrab menjadikannya simbol kehangatan khas masyarakat Makassar.

Di tengah maraknya camilan modern, pisang peppe tetap bertahan sebagai favorit lintas generasi. Kesederhanaan bahan, proses tradisional, serta cita rasa autentik membuatnya tak lekang oleh waktu. Saat hujan mengguyur Makassar, pisang peppe seolah menjadi pengingat bahwa kehangatan bisa hadir dari hal-hal sederhana.

Bagi warga lokal maupun pendatang, menikmati pisang peppe di musim hujan bukan sekadar soal rasa, tetapi juga pengalaman tentang tradisi, kebersamaan, dan kenangan yang terus hidup di setiap gigitannya.

Proses Pembuatan yang Menghadirkan Rasa Khas

Proses pembuatan pisang peppe membutuhkan ketelitian dan keahlian khusus. Pisang kepok yang digunakan harus dalam kondisi setengah matang agar tidak terlalu lunak saat dipipihkan. Setelah dipipihkan, pisang kemudian dibakar kembali hingga berwarna kecokelatan. Proses ini memberikan rasa yang khas dan tekstur yang renyah di luar, namun tetap lembut di dalam.

Saus gula merah cair yang ditambahkan merupakan elemen penting dalam menciptakan rasa yang manis dan legit. Beberapa penjual juga menambahkan sambal khas yang terbuat dari cabai dan gula aren, memberikan sentuhan pedas yang menggugah selera.

Tempat yang Cocok untuk Menikmati Pisang Peppe

Pisang peppe dapat ditemukan di berbagai tempat di Makassar. Banyak pedagang kaki lima menjajarkannya di pinggir jalan, terutama di area yang ramai. Selain itu, beberapa toko kecil atau warung kecil juga menyediakan pisang peppe sebagai camilan yang populer.

Pembeli sering kali memilih untuk menunggu di bawah payung sambil menonton proses pembakaran pisang yang mengepul asap. Hal ini menambah kesan hangat dan akrab, serta memperkuat ikatan antara penjual dan pembeli.

Tradisi yang Terus Bertahan

Meskipun banyak camilan modern yang bermunculan, pisang peppe tetap menjadi pilihan utama bagi masyarakat Makassar. Keberadaannya tidak hanya sebagai camilan, tetapi juga sebagai bagian dari budaya lokal yang memiliki nilai sejarah dan kehangatan.

Pisang peppe adalah contoh dari bagaimana makanan tradisional dapat bertahan di tengah perubahan zaman. Dengan rasa yang khas dan cara penyajian yang sederhana, pisang peppe terus menjadi pengingat akan keindahan tradisi dan kebersamaan.


Related posts