Laksa Tangerang: 25 Tahun Jualan, Pendapatan Rp700.000/Hari

Laksa Tangerang: 25 Tahun Jualan, Pendapatan Rp700.000/Hari

Warisan Budaya yang Tetap Segar di Tangan Subadri

Laksa, makanan tradisional khas Kota Tangerang, masih menjadi primadona meskipun berada di tengah era digitalisasi. Ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), laksa tetap diminati masyarakat. Salah satu penjual setia laksa adalah Subadri, yang telah menjalani bisnis ini selama 25 tahun.

Subadri menjual laksa di Jalan Mochammad Yamin, Kelurahan Babakan, Kota Tangerang. Ia mengatakan bahwa ia mulai berjualan laksa sejak tahun 2000 dan hingga saat ini masih tetap berdiri. “Alhamdulillah, saya masih awet berdiri sampai sekarang,” katanya.

Laksa sendiri merupakan olahan mi dari tepung beras yang disiram dengan kuah khusus yang terbuat dari bumbu alami seperti daun bawang, bawang goreng, telur, dan ayam. Harga untuk satu porsi laksa biasa adalah Rp10 ribu. Jika ingin menambahkan telur, harga menjadi Rp15.000 per porsi, sedangkan untuk paket lengkap dengan telur dan ayam kampung, harganya Rp25.000 per porsi.

Dalam sehari, Subadri mampu menjual sekitar 70 porsi laksa dari Senin hingga Jumat. Namun, pada akhir pekan, jumlahnya meningkat menjadi 100 hingga 120 porsi. Banyak masyarakat memilih laksa sebagai menu sarapan setelah berolahraga bersama keluarga.

Selain rasa, kebersihan dan kesehatan juga menjadi prioritas bagi Subadri. Ia selalu membungkus tangannya dengan plastik ketika menyajikan laksa untuk setiap pelanggan. “Alhamdulillah, pendapatan dari berjualan laksa cukup untuk menghidupi keluarga,” ujarnya. “Minimal dalam sehari bisa mendapatkan Rp700.000.”

Subadri berjualan dari jam 6 pagi hingga pukul 18.00 WIB, namun biasanya tutup lebih cepat karena dagangannya habis. Saat ini, laksa Tangerang memiliki dua jenis, yaitu Laksa Nyai dan Laksa Nyonya. Laksa Nyai dibuat oleh warga Tangerang dengan penggunaan bumbu lokal yang khas. Sementara Laksa Nyonya dibuat oleh warga Tionghoa yang menggabungkan cita rasa pedas dan gurih seperti kuliner peranakan umumnya.

Menurut Subadri, asal-usul laksa berasal dari akulturasi budaya antara Tionghoa dan Melayu. “Setau saya, laksa ini dulu jadi kesukaan warga Tionghoa karena Kota Tangerang dikenal sebagai asal-usul warga Cina Benteng,” katanya.

Meski rasa laksa cenderung sama, racikan bumbu tradisional menjadi daya tarik utama. Subadri mengaku awalnya hanya ikut mendampingi temannya berjualan. Sebagai warga asli Pandeglang, laksa bukan hal baru baginya. Namun, ia terkejut melihat tingginya jumlah pelanggan yang datang setiap hari, hingga akhirnya memutuskan untuk berjualan secara mandiri.

Selain resep rahasia, sifat ramah dan menyapa pelanggan menjadi salah satu faktor banyaknya pelanggan yang datang. “Pembeli biasanya dari Cipondoh dan Ciledug, tapi ada juga dari luar Kota Tangerang seperti Serpong dan Jakarta,” ujarnya.

Puluhan tahun berjualan laksa, Subadri berhasil menyekolahkan empat anaknya yang kini sedang mengikuti pesantren. Ia bertekad membiayai putra-putrinya hingga jenjang tertinggi. Melalui hasil penjualan laksa, ia dan istrinya menabung untuk persiapan menguliahkan anak-anaknya.

“Anak saya paling besar berusia 24 tahun dan yang paling kecil 6 tahun. Alhamdulillah, dari berjualan laksa mereka bisa sekolah dan mudah-mudahan bisa lulus sampai kuliah nanti,” jelasnya.




Related posts