Jompo-jompo, Camilan Tradisional yang Menghangatkan Saat Musim Hujan
Musim hujan sering kali membawa suasana sejuk yang membuat selera makan meningkat, terutama keinginan untuk menikmati jajanan tradisional yang hangat dan menenangkan. Di Sulawesi Selatan, khususnya bagi masyarakat Bugis, Jompo-jompo menjadi salah satu camilan legendaris yang selalu terasa pas disantap saat hujan turun.
Jajanan tradisional ini dikenal dengan teksturnya yang lembut, rasa manis alami, serta aroma santan dan gula merah yang khas. Disajikan hangat, Jompo-jompo mampu menghadirkan sensasi nyaman di perut sekaligus menghadirkan kenangan masa kecil bagi banyak orang.
Asal-Usul dan Makna Jompo-jompo dalam Budaya Bugis
Jompo-jompo merupakan kue basah tradisional Bugis yang telah lama dikenal dan diwariskan secara turun-temurun. Dalam kehidupan masyarakat Bugis, kue ini kerap hadir sebagai sajian rumahan, hidangan tamu, hingga pelengkap acara adat sederhana dan kegiatan keluarga.
Nama “Jompo-jompo” sendiri dipercaya merujuk pada teksturnya yang lembut, agak kenyal, dan mudah hancur ketika digigit. Filosofinya sederhana, mencerminkan kehidupan masyarakat Bugis yang menjunjung kesahajaan, kebersamaan, dan rasa syukur atas hasil alam.
Cita Rasa yang Hangat dan Menenangkan
Dari segi rasa, Jompo-jompo menawarkan perpaduan yang seimbang antara manis legit gula merah dan gurih santan. Tepung beras sebagai bahan utama memberikan tekstur halus dan lembut, tidak terlalu padat, namun cukup mengenyangkan.
Ketika masih hangat, aroma santan dan gula merah semakin terasa kuat. Sensasi manisnya tidak berlebihan, justru memberikan rasa nyaman yang cocok disantap perlahan. Inilah yang membuat Jompo-jompo sering dipilih sebagai teman minum teh atau kopi panas saat hujan turun.
Bagi penikmat kuliner tradisional, Jompo-jompo menghadirkan rasa autentik yang sulit ditemukan pada jajanan modern. Kesederhanaan bahannya justru menjadi kekuatan utama yang membuat kue ini tetap digemari lintas generasi.
Jajanan Favorit Saat Musim Hujan
Di musim hujan, Jompo-jompo semakin dicari karena biasanya dijual dalam kondisi masih hangat, terutama di pasar tradisional pagi atau sore hari. Udara dingin dan rintik hujan membuat jajanan ini terasa lebih nikmat, sekaligus memberi efek mengenyangkan tanpa terasa berat.
Tak sedikit warga Sulawesi Selatan yang menyebut Jompo-jompo sebagai “kue penghangat suasana”, karena sering disantap bersama keluarga di rumah sambil bercengkerama saat hujan turun.
Resep Sederhana Jompo-jompo Khas Bugis
Bagi Anda yang ingin mencoba membuat Jompo-jompo di rumah, berikut resep sederhana yang bisa dipraktikkan:
Bahan-bahan:
* 250 gram tepung beras
150 gram gula merah, serut halus
500 ml santan kental
½ sendok teh garam
1 lembar daun pandan (opsional, untuk aroma)
Cara Membuat:
* Rebus santan bersama gula merah, garam, dan daun pandan hingga gula larut. Aduk terus agar santan tidak pecah. Angkat dan saring.
* Masukkan tepung beras ke dalam wadah, lalu tuangkan larutan santan sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga adonan licin dan tidak menggumpal.
* Masak adonan dengan api kecil sambil terus diaduk hingga mengental dan matang.
* Tuang adonan ke dalam loyang atau cetakan yang sudah diolesi minyak tipis.
* Kukus selama kurang lebih 20–30 menit hingga padat dan matang sempurna.
* Angkat, biarkan hangat, lalu potong-potong sesuai selera.
Jompo-jompo paling nikmat disajikan dalam kondisi hangat, namun tetap lezat meski sudah dingin.
Tetap Bertahan di Tengah Jajanan Kekinian
Di tengah gempuran jajanan modern, Jompo-jompo tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Harga yang terjangkau, bahan alami, serta rasa yang akrab di lidah membuat jajanan ini terus bertahan sebagai kuliner tradisional favorit.
Menikmati Jompo-jompo saat musim hujan bukan sekadar mengisi perut, tetapi juga menjadi cara sederhana untuk menjaga dan merayakan warisan kuliner Bugis yang kaya akan rasa dan makna.

