PT Lintas Citra Pratama (LCP), sebuah perusahaan investasi petrokimia yang berbasis di Cilegon, telah memulai proses pembangunan pabrik bahan baku plastik Polyethylene Terephthalate (PET) dengan nilai investasi sebesar US$300 juta atau sekitar Rp5,01 triliun. Pabrik ini akan memiliki kapasitas produksi hingga 720.000 ton per tahun dan berada di atas lahan yang dimiliki oleh anak usaha LCP, yaitu PT Merak Chemical Indonesia (MCCI). Proyek ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan untuk memperkuat hilirisasi industri petrokimia nasional.
Sebelumnya, PT Merak Chemical Indonesia dikenal dengan nama PT Mitsubishi Chemical Indonesia (MCCI). Lintas Citra Pratama menyelesaikan akuisisi perusahaan tersebut pada akhir tahun 2024 lalu. Meskipun demikian, informasi mengenai konglomerasi di balik proyek ini masih terbatas.
Direktur Utama MCCI, Anang Adji Sunoto, menyatakan bahwa pembangunan pabrik PET merupakan momen penting bagi perusahaan, terutama dalam menghadapi tingginya ketergantungan industri domestik terhadap pasokan impor. Proyek ini diharapkan mampu memperkuat kontribusi LCP terhadap perekonomian nasional serta mendukung komitmen pemerintah dalam mendorong hilirisasi yang lebih terintegrasi.
“Hilirisasi ini akan memberikan nilai tambah bagi perusahaan sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai industri regional,” ujarnya.
Menurut Anang, kehadiran pabrik PET tidak hanya meningkatkan nilai tambah produk Purified Terephthalic Acid (PTA), tetapi juga berpotensi menekan impor PET yang masih besar, terutama untuk industri kemasan makanan dan minuman serta produk plastik berbasis PET maupun daur ulang. Integrasi antara produksi PTA dan PET disebut dapat menciptakan efisiensi rantai pasok dari bahan baku hingga produk akhir, sehingga memperkuat daya saing industri nasional.
“Dengan memanfaatkan lahan dan fasilitas yang telah tersedia, investasi 300 juta dolar AS ini akan lebih optimal. Selain meningkatkan efisiensi, integrasi PTA-PET akan memperbaiki kinerja perusahaan dan meningkatkan daya saing kami di pasar,” tambahnya.
Anang menjelaskan bahwa proyek tersebut diperkirakan menciptakan efek berganda bagi perekonomian, termasuk membuka lapangan kerja selama fase konstruksi maupun operasional.
“Selain memperkuat industri hilir seperti kemasan, dan produk berbasis resin PET, proyek ini diperkirakan mampu menyerap tenaga kerja langsung dan tidak langsung, serta mendorong pertumbuhan UMKM di sekitar kawasan industri,” jelas dia.
Anang menambahkan bahwa pembangunan pabrik PET akan memperkuat struktur industri hilir nasional, seperti polyester, kemasan makanan dan minuman, serta berbagai produk plastik berbasis resin PET.
“LCP berkomitmen terus berinvestasi di Indonesia. Pengembangan pabrik PET ini menjadi langkah penting untuk menciptakan industri kimia yang lebih terintegrasi dan kompetitif,” kata Anang.
Saat ini, LCP sedang memasuki proses tender pembangunan pabrik. Eksekusi proyek ditargetkan dimulai pada semester II tahun 2026, sementara operasi komersial dijadwalkan pada 2028. Kehadiran fasilitas ini diharapkan meningkatkan kemandirian Indonesia dalam pemenuhan bahan baku PET dan memperkuat posisinya sebagai pemain utama di pasar regional Asia Tenggara.

