Meskipun baru berusia 8 tahun dan duduk di kelas 1 SD, tekad Hafithar untuk tetap bersekolah di SDN 4 Klender, Jakarta Timur, membuat siapa pun yang mendengar ceritanya ikut salut. Setiap hari, bocah ini berangkat dari rumah kontrakannya di Tangerang menggunakan kereta, tanpa pernah sekalipun mengeluh.
Kepala SDN 4 Klender, Dwiyanti Lestari, menjelaskan bahwa Hafithar adalah anak yatim. Ayahnya meninggal lima tahun lalu. Setelah itu, ia tinggal bersama ibunya di Kampung Sumur, Klender, hingga akhirnya masuk ke SDN 4 Klender.
Pada September lalu, sang ibu mendapat pekerjaan sebagai asisten rumah tangga di Tangerang, sehingga keduanya pindah ke sana. Sejak itu, jarak dari rumah ke sekolah otomatis melonjak jauh. Awalnya, ibunya masih sempat mengantar dan menjemput, tapi rutinitas kerja membuat hal itu tak lagi memungkinkan.
Tetap saja, Hafithar tidak menyerah. Ia bangun sebelum subuh, berangkat sekitar pukul 03.45 WIB, lalu tiba di sekolah sekitar pukul 06.00 sampai 07.00 WIB. Menurut Dwiyanti, Hafithar hampir tidak pernah terlambat.
“Mulai pukul 3.45 WIB atau jam 3 lebih 45 menit berangkat kemudian sampai di sini itu jam 6 atau jam 7 kurang lah paling lambatnya dan memang jarang terlambat, tidak pernah terlambat dan tidak ada mengeluh gitu,” ucap dia.
Keberangkatan Hafithar terbilang aman. Ibunya menitipkannya pada sejumlah petugas stasiun. Setiap hari, ia berjalan kaki ke stasiun terdekat, lalu naik KRL, transit di Stasiun Tanah Abang, naik kereta tujuan Bekasi, turun di Stasiun Buaran, dan melanjutkan perjalanan dengan JakLingko.
Pulangnya, ia berangkat dari sekolah pukul 10.00 WIB dan baru tiba di rumah sekitar pukul 12.00 WIB. Dwiyanti mengatakan semangat Hafithar patut dihargai, terlebih karena tak pernah terdengar ia mengeluh, meski rutinitas perjalanan itu cukup berat untuk anak seusianya.
Perjalanan Harian yang Tak Mudah
Perjalanan Hafithar setiap hari tidak hanya memakan waktu, tetapi juga membutuhkan ketahanan fisik dan mental. Dari rumah di Tangerang, ia harus melakukan beberapa kali transisi transportasi, mulai dari berjalan kaki ke stasiun, naik KRL, lalu transit ke kereta lain.
Setiap langkah yang dilakukannya dipenuhi rasa tanggung jawab dan kesadaran akan pentingnya pendidikan. Meski usianya masih sangat muda, Hafithar telah membuktikan bahwa semangat dan tekad bisa mengalahkan segala tantangan.
Tanggung Jawab Orang Tua
Ibu Hafithar, yang bekerja sebagai asisten rumah tangga, memiliki peran penting dalam mendukung kehidupan sehari-harinya. Meski bekerja keras, ia tetap berusaha memastikan anaknya dapat bersekolah secara rutin.
Namun, kondisi ekonomi dan kesibukan kerja membuatnya tidak selalu bisa mengantarkan atau menjemput Hafithar. Oleh karena itu, Hafithar belajar mandiri dan bertanggung jawab atas perjalanannya sendiri.
Peran Petugas Stasiun
Hafithar tidak pernah berjalan sendirian saat berangkat ke stasiun. Ibunya menitipkannya pada sejumlah petugas stasiun yang sudah mengenalnya. Mereka memberikan perlindungan dan bantuan agar ia bisa sampai ke stasiun dengan aman.
Selain itu, petugas stasiun juga membantu Hafithar dalam proses transit dan perpindahan kereta. Hal ini menunjukkan bahwa komunitas sekitar juga turut mendukung semangat Hafithar.
Dwiyanti menyebutkan bahwa Hafithar adalah contoh teladan bagi siswa lainnya. Semangatnya dalam menjalani kehidupan sehari-hari, terutama dalam menghadapi tantangan seperti jarak tempuh yang jauh, menjadi inspirasi bagi banyak orang.
Selain itu, Hafithar juga tidak pernah mengeluh meskipun kondisi perjalanan cukup melelahkan. Ini menunjukkan bahwa ia memiliki karakter yang kuat dan tekad yang luar biasa.
Kesimpulan
Hafithar adalah bukti bahwa usia bukan penghalang untuk mencapai tujuan. Dengan semangat dan keuletannya, ia berhasil menghadapi tantangan hidup dengan baik. Cerita ini mengajarkan kita bahwa ketekunan dan kepercayaan diri bisa mengubah segalanya.
Sosok seperti Hafithar layak diapresiasi dan dijadikan teladan bagi generasi muda. Semangatnya mengingatkan kita bahwa setiap langkah kecil bisa membawa perubahan besar.

