Mengapa Serangan Houthi Mengguncang Israel?

Mengapa Serangan Houthi Mengguncang Israel?

Dampak Serangan Houthi di Laut Merah pada Ekonomi Israel

Serangan-serangan yang dilakukan oleh kelompok Houthi di Laut Merah telah memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian Israel. Salah satu contohnya adalah penutupan sementara operasi Pelabuhan Eilat, yang menjadi satu-satunya pelabuhan Israel di Laut Merah. Keputusan ini diambil setelah mengalami kesulitan keuangan yang berkepanjangan, dengan sejumlah faktor yang memicu situasi ini.

Pelabuhan Eilat, yang terletak di ujung utara Teluk Aqaba, mengumumkan akan menghentikan operasinya mulai hari Minggu. Hal ini dilakukan karena adanya masalah keuangan yang muncul akibat serangan Houthi yang mengganggu jalur pelayaran. Pemerintah kota Eilat bahkan membekukan rekening pelabuhan sebesar 10 juta shekel (sekitar Rp49 miliar) karena menunggak pajak. Penyebab utama dari penurunan pendapatan ini adalah perusahaan pelayaran yang beralih ke pelabuhan lain seperti Ashdod dan Haifa di Laut Tengah, yang dianggap lebih aman.

Read More

Pendapatan pelabuhan pada 2024 anjlok hingga 80 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sebelumnya, pendapatan mencapai 212 juta shekel (sekitar Rp1 triliun), tetapi pada 2024 hanya mencapai 42 juta shekel (sekitar Rp204 miliar). Perubahan ini terjadi karena pengalihan rute pelayaran sebagai respons atas serangan Houthi yang menargetkan kapal-kapal yang terkait dengan Israel.

Pentingnya Pelabuhan Eilat bagi Israel

Pelabuhan Eilat memiliki peran penting dalam ekonomi Israel. Didirikan pada 1952 dan dibuka untuk lalu lintas kargo pada 1957, pelabuhan ini berfungsi sebagai pintu gerbang selatan untuk impor dan ekspor, terutama untuk negara-negara di Afrika Timur, Asia, dan Timur Jauh. Kegunaannya termasuk mengekspor mineral seperti kalium dari Laut Mati dan mengimpor kendaraan dari luar negeri.

Namun, posisi geografis yang relatif terpencil dan kurangnya konektivitas kereta api langsung membuat volume komersial pelabuhan ini terbatas. Selain itu, persaingan dengan pelabuhan-pelabuhan di Mediterania juga turut memengaruhi perkembangan ekonomi pelabuhan ini.

Dampak Serangan Houthi di Laut Merah

Penutupan pelabuhan Eilat disebut sebagai “kemenangan bagi Houthi dan kerugian bagi ekonomi Israel.” Sebelum konflik, pendapatan utama pelabuhan berasal dari penanganan mobil impor. Pada 2023, Eilat menerima sekitar 150.000 mobil melalui 134 kapal. Namun, sejak 2024, tidak ada impor mobil dan hanya 64 kapal yang berkunjung, dengan hanya enam kapal yang berlabuh pada Mei 2025.

Selain itu, pelabuhan ini juga mengalami krisis ketenagakerjaan. Dari 113 karyawan, hanya 47 yang tersisa. Banyak pekerja tidak mendapatkan gaji atau tunjangan pengangguran. Anggota Knesset Israel, Oded Forer, mengkritik pemerintah karena dinilai gagal menjaga rute perdagangan selatan Eilat tetap terbuka dan tidak memberikan dukungan yang memadai.

Reputasi Israel sebagai Mitra Dagang

Serangan Houthi telah merusak reputasi Israel sebagai mitra dagang yang aman. Eilat, pelabuhan satu-satunya Israel di Laut Merah, mengalami kehancuran finansial akibat ketidakamanan di wilayah tersebut. Sejak akhir 2023, pasukan Houthi di Yaman intensif melakukan serangan terhadap lalu lintas maritim yang menuju ke Israel, yang sangat mengganggu rute perdagangan dan aktivitas ekonomi.

Aksi-aksi ini merupakan bagian dari protes terhadap serangan Israel di Gaza, yang telah menyebabkan banyak korban jiwa dan kerusakan. Meskipun demikian, para ahli seperti Brad Martin dari RAND Corporation berpendapat bahwa gangguan ini belum cukup untuk menghancurkan seluruh perekonomian Israel. Mayoritas kargo masih mengalir melalui pelabuhan-pelabuhan Mediterania tanpa terdampak.

Meski begitu, penutupan pelabuhan dan ancaman maritim yang berkelanjutan merupakan kemunduran bagi posisi Israel sebagai mitra dagang yang stabil dan aman. Situasi di Eilat menunjukkan betapa konflik regional dapat memberikan dampak ekonomi dan sosial yang luas, bahkan di luar wilayah perang.

Related posts